Wikipedia Telusuri..

Hasil penelusuran

Kamis, 24 Desember 2015

Terlalu PINTARKAH hingga tindakannya BODOH

Menempuh pendidikan setinggi-tingginya zaman kekinian ini bukan hal aneh lagi bukan..?!!, generasi muda bersemangat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan jika memang mampu inginnya setinggi-tingginya sehingga menjadi paling tinggi gelarnya dibanding lainnya.

Seakan sudah menjadi tren kekinian, menempuh pendidikan tinggi hanya untuk menggugurkan tanggung jawabnya sebagai orang yang mengikuti perkembangan zaman saja. Lupa akan apa yang namanya "TriDharma Perguruan Tinggi".

Mungkin iya.. Ada juga mereka yang hanya mengejar gelar, agar namanya menjadi berwibawa dengan tambahan gelar yang disandangnya hasil jenjang perguruan tinggi, gelar diawal dan akhir dari namanya, hingga patut orang harus menghargainya. Juga ada yang mengejar gelar hanya untuk mendapatkan jabatan duniawi lebih tinggi, karna memang era dewasa ini gelar berpengaruh akan jabatan.

Mereka yang berpendidikan tinggi yang mewajibkan sekitarnya harus menghormati kepintaran atas tinggi gelarnya. Mereka begitu dekat dengan masyarakat, begitu baik dan peduli sama masyarakat. Ternyata tiba waktunya mereka melakukan semua karna ada inginnya, tujuan mengikat hati masyarakat agar kelak memilihnya sebagai wakil dalam kedudukan politik. Ingat sebelum bertahta mereka menjanjikan berjuta bualan manis membuai isi kepala setiap masyarakat yang dekat dengannya.

Sebagai pembalasan budi, masyarakat memilihnya hingga beliau yang patut dihargai itu mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Orang yang pernah dekat dengannya merasa senang dan ikut berbangga atas keberhasilannya, penuh harap beliau itu lah sosok malaikat mereka yang akan mensejahtrakan mereka masyarakat kecil. Tetapi ternyata TIDAK..!!, bagaikan kacang lupa kulitnya, beliau melupakan masrakat dan hanya pura-pura sibuk dengan kedudukan politiknya. Dengan masyarakat kecil, ohhh ... maaf, kini bukan levelnya lagi, tau diri saja. Kasarnya demikian lah bahasa pengganti kesombongan mereka yang kelakuannya demikian.

Betapa munafiknya, kemana janji-janji manismu yang lalu kau umbar hingga keringnya tenggorokanmu, bau mulutmu tak kami hiraukan karna janjimu melebur mewangi, janji yang kami simpan dalam hati bak berubah jadi duri, sakit teramat sakit.

Betapa kau merakan begitu pintar membohongi bahwa kau juga bagian dari kami yang padahal dusta. Kau hanyalah sampah bersama mereka-mereka kumpulan orang - orang munafik.

Inspirasi - QS. AL-BAQARAH:9

Rabu, 23 Desember 2015

ASRI TANAH KELAHIRANKU INI

Terhampar hijaunya dedaunan seujung jarak pandang mata, bak bagaikan kaki langit ada disana terganjal oleh tegaknya pepohonan.

Bambu, pinus, kelapa, pisang dan pohon lainnya juga rerumputan hijau tersebar menyejukan mata, sungguh indah negeri ini Tuhan, sungguh indah daerah tempat kelahiranku.

Rasa syukur terpanjat hanya pada-MU Rabb Sang Maha Pencipta, aku senang dan bangga jadi anak desa, dapat menghirup udara pagi yang segar ditambah khas nyanyian merdu serangga-serangga, tanpa banyaknya polusi udara dari pabrik-pabrik industri kepunyaan luar sana, seperti di kota.

Tuhan, aku berharap, meminta dan berdo'a hanya kepada-MU yang Maha Melihat serta Maha Mengetahui, kuatkan hamba dan orang-orang disekitar hamba, kuatkanlah jiwa raga kami dan hati kami agar senantiasa kuat menjaga keindahan ini, agar tidak tergiur oleh buayan dan belayan kenikmatan dunia sesaat yang dapat menjadi penyebab alih fungsi tanah ini. Aku dan mereka yang sama dengan inginku yang berharap tanah ini tetaplah asri seperti ini, kami bahagia seperti ini, tanpa adanya pembangunan gedung-gedung tinggi dan pabrik industri yang berpolusi. Pintarkan kami ya Rabb yang Maha Mengetahui semua keinginan hamba-NYA, agar kami tak mempan dicekoki kebohongan mulut-mulut manis mereka..

Sopan-santun, ramah-tambah, tegur-safa dan kebersamaan ini menjadi khas suasana, sungguh-sungguh indah dan nyaman. Berkumpul, ngelantur, senyum, canda sampai tawa bersama orang-orang desa begitu tulus terasa, saat senang mereka benar-benar senang dan begitupun lainnya, tanpa sebuah dusta kemunafikan yang dibuat untuk mengelabui sekitarnya seperti yang dilakukan mereka-mereka disana.

Jangan... Aku memohon kepada-MU Rabb, jangan hukumi kami atas kesalahan-kesalahan kami dengan merubah keindahan ini dengan kerukasakan disana-sini. Ampuni kami Ya Rabb yang Maha Pemaaf, kami memohon ampunan hanya kepada-MU, jangan uji kami dengan cobaan yang dapat membuat kami terlena dan salah jalan sehingga menyebabkan kerusakan. Tunjukanlah kami jalan yang lurus.

Maaf... Maafkanlah kami ini Ya Rabb, yang terkadang lupa cara bersyukur atas nikmat-MU. Maafkan kami, yang terkadang lupa memohon pertolongan-MU dalam setiap tindak langkah kami. Jangan Engkau hukumi kami dengan hukuman pedih, kami hamba-MU yang tak luput dari salah dan dosa. Sadarkan kami Ya Rabb, agar kami senantiasa ingat kepada-MU, selalu mengucap syukur pada-Mu dan memohon pertolongan hanya pada-MU.

Berlimpah kebahagiaan yang tak terhitung yang sudah kami rasakan, kami nikmati, tetapi kami terkadang lupa caranya berterimakasih pada Sang Maha Pemberi. Lewat catatan ini, aku mewakili mereka yang mungkin lupa, kami berterimakasih pada-MU Ya Rabb atas limpahan rahmat dan hidayah-MU yang telah Engkau limpahkan pada kami, hanya Engkaulah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Amiinn....

"SALAM LESTARI DARI TANAH KELAHIRANKU INI"





TEGAL DATAR

"Salam Manisku
Ttd,

YUSUF HIDAYAT

Selasa, 22 Desember 2015

KULTUR LEMBUR SIMKUR

Bertani sudah jadi aktivitas sehari-hari, penuh lumpur dan gatal sudah jadi hal biasa, pergi saat menyambut mentari dan pulang menyambut sang rembulan, cucuran keringat keluh kesah dilengkapi kenangan kulit-kulit yang melepuh terbakar panasnya sang mentari. Semua hal itu tidaklah jadi hal aneh lagi dalam kehidupan orang kampung, orang kecil, orang papan bawah dan merekalah orang-orang terpinggirkan dari nyatanya bukti janji-janji manismu para pemangku jabatan kenegaraan.

Sesuap nasi terkadang menjadi satu tujuan pasti yang mereka tanamkan dalam lubuk hati, sebagai sebuah motivasi kerja kerasnya agar bisa makan hari ini. Merekalah rakyat kecil dengan pendidikan yang hanya dini tanpa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga pikirannya pun kadang cukup dini selalu mencukupkan lumayan asal ada untuk hari ini.

Tidaklah semua orang kampung menjadi petani kerdil, tidak semua bisa ditindas, sebagian ada juga mereka yang pintar yang mampu menyelamatkan diri dari kejamnya negri ini, yang jagoan menggerakan telunjuknya untuk melakukan apa yang diinginkan.

Mereka yang pintar mungkin terlalu pintar atau entah apalah sebutannya yang pantas ku ucapkan buat mereka yang mungkin terhormat inginnya, entah mereka pelajari tentang bagian strata sosial dengan piramida sosialnya yang terlalu memahami atau salah kaprah memahami..?!!, miris ketika mereka yang pintar sama egoisnya sama inginnya sama isi dalam benaknya dengan mereka keparat penindas rakyat. Tidakkah mereka saling membutuhkan..?!!, tidakkah mereka saling menguntungkan jika tingkahnya berdasarkan nurani..?!!, bisa saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi. Bukankah bumi pertiwi ini pernah dihuni oleh orang yg cinta kerjasama, bergotong-royong saling membantu sesama tanpa membedakan tahta dan level sosial, kemana mereka..?!!, apakah mereka diculik dan diasingkan agar kebiasaan baru dapat diterapkan, ataukah mereka mati meninggalkan dunia ini tanpa mewariskan kebiasaan-kebiasaan baiknya pada penerus negri ini..?!!. Tetapi masalah membantu sesama memang saat ini juga masih ada yang saling membantu sesama bukan..?!!, ya, mereka yang saling membantu hanya sesama levelnya masing-masing, sama-sama dalan keegoisnya.

Tidak rindukah pada kebersamaan..?!!, tidak inginkah merasakan indahnya dalam singgasana kesejahtraan dengan bersama-sama dan setara..?!!, senyum senang bersama, bercanda tawa bersama, duduk berkumpul bersama, saling mencintai dan saling peduli di seluruh negri ini. Siapakah yang patut untuk disalahkan..?!!, apakah guru-guru, yang hanya mengajarkan dan menggambarkan arti sebuah kesuksesan kehidupan tanpa menyubit sedikit harus serta kebersamaan dan keperdulian..?!!, atau memang murid-muridnya lah yang terlalu berlimpah ilmu pengetahuan tanpa tertampung, sehingga arti kebersamaan, keperdulian dan gotong-royong yang telah diajarkan pada sekolah dasar tumpah dan hilang dalam benaknya..?!!.

Kalau sudah seperti ini siapakah atau apakah yang patut untuk disalahkan tanpa dia yang dikorbankan untuk dijadikan sekedar kambing hitam kemunafikan..?!!, sulit untuk menyadarkan, dalam hati nuraninya pasti masih ada rasa ingin akan kebersamaan, namun terlalu sibuk meladeni ambisi keegoisan, sehingga kini "hidup bersama tanpa kebersamaan", sama-sama sibuklah dengan egonya masing-masing tanpa mau melirik orang disekitarnya, "Acuh".

Mereka kini jago menuntut, berteriak dengan penuh lantang "KEMANAKAH KESEJAHTRAAN NEGERI INI..?!!, KAMI SUDAH MUAK DENGAN PENINDASAN..!!!". Tetapi tanpa mau berusaha dan bekerjasama untuk memperjuangkan semuanya, padahal jika "Gotong-Royong sama-sama diniatkan dan dilakukan bersama tanpa ada keegoisan didalamnya, semua perubahan apapun dapat dilakukan tanpa waktu lama dan kesejahtraan dapat dirasakan segera"..!!!


Salam Manis
Ttd,

YUSUF HIDAYAT