Catatan Celoteh Pedas
***********************
***
Bismillahirrahmanirrahim.
Jum'at, 24 Maret 2017. Hari ini ku catat celoteh pedas yang keluar dari mulut seorang ibu, yang tak bisa menghargai tekad baik dari sang anak.
Alkisah, pada senin malam diminggu yang sama sang anak mengajak Ibunda untuk bicara cukup serius, sang anak membuka pembicaraan dengan kontrak kesepakatan bahwa 'Jangan sampai inti dari pembicaraan ini tersebar keluar, ini merupakan tekad ku yang amat serius, jikapun ibu tidak mau menolongku, maka aku hanya meminta ibu untuk bungkam', disepakatilah kalimat itu sebagai babak pembuka.
Sang anak meminta kesepakatan bukan tanpa alasan, bukan karena angkuh, tetapi karena dia tahu kebiasaan ibunda yang mulutnya susah diam.
Sang anak penuh harap dapat dorongan dari kedua orang tua agar dapat membukatkan tekad, merangkak-rangkak meraih harapan yang pernah tersimpan. Sekalipun tak mampu disegi materil, cukuplah doa serta dukungan moril sebagai cambuk semangat perjuangan sang anak.
Pembicaraan terfokus pada tekad yang bergelora, tentang mimpi yang ingin digapai, serta tentang strategi bagaimana tekad akan dijalankan. Sekitar dua jam hingga pembicaraanpun selesai. Ini kali pertama sang anak berbicara tertang tekad kehidupan, tentang langkah perjuangan, serta tentang keadaan yang menjadi impian, kepada Ibunda selaku orang tua.
Jawaban hampa sudah biasa sang anak terima kerap kali berbicara dengan kedua orang tua, jarang bahkan mungkin tidak pernah sang anak menerima sebuah jawaban pasti yang bermakna dukungan penuh keduanya, bahkan sebelum pembicaraan ini berlangsung sang anak telah selesai menebak jawaban apa yang akan diterima, sudah pasti bahasa kusam yang selalu berulang-ulang, sebagai tameng penguatan hati apabila hal itu terjadi. Kenyataanpun menjawab kebenarannya, tak sekedar kusam bahkan bertabur duri dan garam yang mampu membuat luka dan perih yang amat terasa. Sang anak tersenyum kala semuanya selesai, pembicaraan ditutup sesuai kesepakatan awal, 'Kalaupun tak sanggup, aku hanya minta Ibunda bungkam'.
Sang anak masih bersama tekadnya, waktu-waktu dipenuhinya dengan berfikir dari mana jalan untuk mulai memperjuangkan tekadnya. Harapan sang anak teramat besar, konsep perjuanganpun hampir matang, sehingga rasa tak sabar kian bergelora inginkan segera memulai.
Hari Rabu sore, Ibunda mengadakan pengajian Ibu-Ibu sekaligus syukuran dirumah. Sebelum mulai, sang anak menemui seorang Ibu yang biasa memimpin ngaji, Sang anak meminta 'Bu, kalau tidak keberatan, aku ingin meminta dorongan doa agar ada uang 100 jt dari manapun jalannya, aku hanya mengharap keberkahan doa yang dapat menjadi berkah'. Syukur rasanya ketika beliau mau mengabulkannya.
Selesai pengajian ibunda menemui ku, dia bercerita ketika permintaanku di sebutkan sontak banyak jemaah mentertawakan, bahkan beberapa mengatakan seperti layaknya permintaan yang khayal, mustahil, candaan. Aku tersenyum, tak apa bu, yang ku minta kan hanya dorongan doa, bukan aku meminta mereka mengabulkannya, Tuhanku adalah Allah bu, Dialah yang Maha Segala, Dia pula yang mampu mengabulkan permintaan Hamba-NYA.
Rasa senangku amat besar ketika permintaanku terlaksana, bayangan menyelimutiku layaknya ada jalan yang mudah ku lalui untuk menggapai mimpiku. Bertemankan doa, aku selalu membayangkan tekad ku telah berjalan, perjuanganku telah dimulai.
Hari ini yang mengecewakan. Jum'at 24 Maret 2017 takan ku lupa kata pedasnya, kata pedas yang keluar dari mulut seorang Ibunda yang diiringi labrakannya atas kesepakatan awal yang pernah dibuat. Aku amat terhina tanpa sedikitpun merasa dihargai, mimpiku bagai bangkai yang ditendang serta diludahi sumpah serapah nya.
Aku CATAT, akan Ku CATAT....
Sepulang menunaikan Ibadah Jum'at aku merasa ngantuk, lalu rebahan diatas kursi diruang tamu, hingga tak sadar aku tertidur hanya tak teramat lelap. Sekitar satu jam aku tertidur lalu terbangun kembali, Ibunda menyangka aku masih ada dalam lelap tidurku, hingga merasa terbebas bercerita pada kawannya yang sebaya. "Tidak mau, bahkan tak mungkin mendukung tekadnya itu karena tak sesuai inginku, ayahnya pun berkata sama, tidak menyukai tikadnya ini, maka biarkanlah. Yang aku mau iyalah hal yang bla-bla-bla seperti yang lumrah dilakukan banyak orang (memakai bahasa Sunda bernada mengejek kasar)". Kata ini ku catat, aku tak mau terlupa, hingga catatan ini suatu saat akan kubuka dan ku bacakan kembali.
Ini Catatan kekecewaanku, tak akan sembuh dengan perhatian bagaimanapun dari kawan, bagiku ini terlanjur...
# Jum'at 24 Maret 2017 @14.00. #

