BAGAIMANA KABARMU TANAH AIRKU.?
(Spesial hari kemerdekaan NKRI Ke-72)
Oleh : Yusuf Hidayat
*******************************************
***
Ku awali tulisan ini dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, semua yang dicatat dalam tulisan ini semata sebagai bentuk kecintaanku pada tanah air serta sebagai kado sederhana yang ku persembahkan diperingatan hari kemerdekaan tahun ini, tanpa maksud melecehkan siapapun serta apapun. Kesalahan penulisan serta tata bahasa yang digunakan itu semata buah dari kebodohanku.
Catatan ini merupakan tuang gagasan penulis serta parafrase dari beberapa sumber bacaan 👍👍👍
Dirgahayu Tanah Airku Indonesia..!!!
Merdeka...!!! 3x
***
17.08.17 - DIRGAHAYU NKRI..!!!
Hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi seluruh bangsa Indonesia, karena pada hari ini bangsa Indonesia diseluruh tanah air turut merayakan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ke-72 pasca-proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, yang dikumandangkan sosok pemuda proklamator Soekarno - Hatta. Dalam kurun waktu yang tidak sebentar ini (waktu yang terlewati setelah kemerdekaan), ada pertanyaan besar tentang "bagaimana dengan perwujudan cita-cita kemerdekaan seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD NKRI 1945. Apakah sudah terwujud, semakin dekat, atau malah tetap jauh untuk dapat terwujud?".
Hari ini tepatnya kembali diperingati kemerdekaan tanah air ini, seharusnya kegiatan serupa mampu membakar semangat bangsa Indonesia saat ini agar mempunyai semangat patriotisme dan nasionalisme layaknya para pahlawan yang memperjuangkan Indonesia untuk merdeka, sehingga dengan demikian bangsa Indonesia mempunyai semangat juang untuk bersama-sama meneruskan perjuangan demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan yang sampai saat ini belum terwujud.
Akan tetapi bisa kita lihat dan nilai dari realita yang terjadi saat ini, seberapa besar persentase kegiatan-kegiatan dalam perayaan memperingati hari kemerdekaan negara Indonesia ini yang memang merefleksikan kearah sana.?, jika dibandingkan dengan kegiatan yang mengarah pada kesenangan saja.!!
Kalau saya menilai, saat ini sepertinya semakin berkurangnya kegiatan-kegiatan yang memang betul-betul merepleksikan kearah semangat juang, kalah besar dengan berbagai bentuk kegiatan yang lebih condong pada kesenangan / hiburan semata. Perayaan hari kemerdekaan saat ini lebih banyak diisi dengan berlibur ketempat-tempat wisata, pentas (konser) musik, arak-arakan, ataupun kalau didaerah pedesaan biasanya diisi dengan permainan-permainan kecil yang dinamai perlombaan 'semarak kemerdekaan', yang berupa balap karung, balap kelereng, makan kerupuk, pukul air, serta permainan lainnya yang nilainya hanya pada sebatas hiburan saja. Apabila pun ada yang bertanya, "Kenapa dari tahun ke tahun kegiatan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ini kok begini-begini saja, balap kelereng lagi, makan kerupuk lagi, balap karung lagi, apakah tidak ada yang lain yang lebih bermanfaat untuk kebaikan Indonesia kedepan ?!!!. Jawabannya paling-paling "Dari dulu juga begitu, kegiatan semacam inilah yang lumrah dan ramai dilaksanakan dalam perayaan hari kemerdekaan dari tahun ke tahun, jadi meniru yang sebelumnya saja". Begitupun jawabannya tidak akan jauh berbeda untuk pertanyaan lainnya terkait hiburan musik dan liburan, itupun masih untung apabila kegiatan yang dilakukan masih dalam konteks yang positif, tetapi bukan tidak mungkin pula beberapa perayaan ini malah turut diwarnai kegiatan yang negatif.
Kebiasaan-kebiasaan serupa inilah gambaran Indonesia saat ini, sehingga kecil kemungkinan bisa diharapkan selepas perayaan memperingati hari kemerdekaan pun dapat mempunyai semangat kebangsaan yang kemudian dapat membawa perubahan dan perbaikan untuk Indonesia kedepan. Ini juga menjadi gambaran kecil yang turut menjelaskan mengapa cita-cita kemerdekaan Indonesia jauh untuk terwujud. Apakah mungkin jika memang peringatan hari kemerdekaan ini diisi dengan kegiatan yang bermanfaat untuk perubahan dan perbaikan Indonesia kedepan kemudian peringatan hari kemerdekaan ini menjadi tidak ramai seperti biasanya, tidak serasa hari kemerdekaan, tidak seru lagi yang lalu kemudian dianggap kolot.?!!!.
Pada usia 72 tahun merdeka, Indonesia belum pula mampu menggiring bangsa pada kehidupan yang adil, makmur serta sejahtera sebagaimana apa yang dicita-citakan. Mengapa..?!!!, Berarti ada permasalahan dalam tubuh Indonesia yang belum selesai. Beberapa gambarannya akan diulas kemudian. Sebelumnya ku persembahkan terlebihdahulu sajak "KAMI INGIN IKUT TERTAWA".
______________________________________________
______________________________________________
SAJAK
KAMI INGIN IKUT TERTAWA
***
MERDEKA... !!! 3x
Dirgahayu Indonesia.
Dirgahayu Tanah Air Tercinta.
Dengan setulus hati memanjatkan doa untukmu.
Semoga hari ini lebih berarti, tak hanya sebatas tradisi.
MERDEKA...!!!
Ijinkan kami menikmati manisnya merdeka.
Biarkan kami singkap selimut-selimut dusta.
Biarkan kami cabik-cabik hijab penghalang mata.
Lindungi kami, lindungi dari kejamnya mereka yang merasa terhina.
AJAKLAH KAMI..!!!
Kami ingin ikut tertawa bersama mereka.
Berharap kita dapat tertawa bersama.
Bahagia... Buah berhasilnya perubahan dan perbaikan yang mulia.
Bukan bualan...!!!
Bukan halusinasi...!!!
Bukan pula fatamorgana...!!!
Kami inginkan kita tertawa bersama didunia nyata.
Atas terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia.
SUDAHLAH...!!!
Kami kini bosan...
Kau cekoki kami dengan obat tidur.
Kau tenangkan kami dengan bius.
Kau bungkam mulut-mulut bijak dengan gertak.
SUDAHLAH... !!!
Kami kini muak...
Kami capek menjalani hidup tak jelas.
Kami capek hidup pura-pura tak waras.
Sebetulnya kami pun tau...
Saat kau melakukan tipu-tipu.
Saat kau menjilat lantas berkhianat.
Saat kau manfaatkan kami demi kepuasan nafsumu sendiri.
Kau lah bedebah...!!!
Kau penghambat terwujudnya cita-cita.
Kau pengkhianat bangsa.
Kau pengahalang harapan kami untuk dapat tertawa bersama.
***
______________________________________________
______________________________________________
***
PENDIDIKAN HARUS MENDIDIK
Pendidikan merupakan gerbang pertama yang pastinya dilalui setiap manusia yang terlahir ke dunia, sebagai proses penanaman pengetahuan yang menjadi akses manusia mendapatkan pemahaman, yang mana dari sinilah manusia berangkat untuk melakukan pengembangan diri berbekal pengetahuan yang diserapnya dari proses pendidikan. Pendidikan menduduki peranan penting dalam proses pembentukan SDM, akan seperti apa setiap manusia dalam menjalani kehidupannya kedepan turut bergantung pada proses pendidikan yang dilalui sebelumnya, dalam arti pendidikan ini menjadi faktor penentu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 'Pendidikan' memiliki kata dasar "didik (mendidik)" yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran; Kemudian 'Pendidikan'-nya memiliki arti "proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik"; yang selanjutnya hasil dari proses ini kemudian disebut dengan "didikan". Begitu banyak definisi mengenai 'pendidikan', terutama yang dikemukakan para ahli, seperti salah satunya oleh Ki Hajar Dewantoro yang akrabnya dijuluki Bapak Pendidikan Indonesia, mengemukakan bahwa "pengertian pendidikan adalah tuntunan tumbuh dan berkembangnya anak. Artinya, pendidikan merupakan upaya untuk menuntun kekuatan kodrat pada diri setiap anak agar mereka mampu tumbuh dan berkembang sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat yang bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup mereka". Selanjutnya pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dikatakan bahwa "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi di dalam diri untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara".
Dapat disimpulkan bahwa memang peranan pendidikan dalam kehidupan manusia begitu amat penting, terutama sebagai proses pencetakan generasi yang akan datang. Pendidikan kemudian menjadikan manusia memiliki pemahaman dari semua pengetahuan, memiliki wawasan, serta yang paling penting dari proses pendidikan ialah pencetakan karakter pada setiap manusia. Sehingga muncul kalimat ditengah masyarakat bahwa "orang yang baik, ramah, berjiwa sosial, rukun, memiliki kecerdasan dan sopan-santun serta berkarakter semua ini kemudian disebut 'orang yang berpendidikan' ", masyakat teramat mengagungkan pendidikan (menaruh harapan besar) serta masyarakat memiliki kepercayaan bahwa "Tingkatan kesuksesan seseorang itu diukur oleh setinggi apa seseorang tersebut mengenyam pendidikan", inilah makanya masyarakat menganggap mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi sebagai manusia serba bisa, karena dianggapnya telah menempuh pendidikan tinggi (level pendidikan yang membuat manusia memiliki segala pengetahuan).
Melihat begitu pentingnya 'pendidikan' seperti gambaran yang diulas sebelumnya, mengharuskan adanya perhatian khusus dari pemangku kebijakan, khususnya bagian pendidikan, harus betul-betul serius dalam mengawal keseluruhan proses pendidikan ditanah air ini, sehingga pelaksanaan pendidikan ini mampu melakukan kewajibannya dengan baik dalam mencetak generasi bangsa yang potensial untuk masa kedepan, ini tidak bisa dianggap sebagai hal yang spele. Begitu banyak bagian penting dalam proses pelaksanaan pendidikan yang seharusnya lebih diutamakan perlakuannya. Seperti bahwa setiap lembaga pendidikan diharuskan memiliki tenaga pengajar yang betul memiliki kemampuan yang mumpuni dibidangnya, sehingga pengajar ini memahami betul bagaimana teknik pengajaran yang baik agar anak didiknya mampu menyerap pendidikan yang ditularkannya, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban untuk menyampaikan materi-materi yang sesuai kurikulum atau silabus semata. Dari segi fasilitas penunjang pendidikan pun juga harus diperhatikan, bagaimana dengan gedung pendidikannya yang harus memadai, ada laboraturium yang lengkap sesuai bidang pendidikan, ada perpustakaan dengan koleksi buku yang melimpah, serta fasilitas pendukung lainnya seperti lapangan olahraga dengan kelengkapannya dan juga fasilitas-fasilitas ektrakulikuler. Bagian-bagian tersebut merupakan bagian yang harus lebih diutamakan, agar terjadinya kenyamanan pada proses belajar-mengajar yang dilakukan, karena para pelajar yang sedang menimba ilmu akan mampu lebih serius menyerap pemahaman dari transfer ilmu pengetahuan oleh pengajar ketika merasakan kenyaman. Serta ada yang tidak kalah penting juga yaitu kesejahteraan tenaga pengajar juga turut harus menjadi perhatian secara khusus, karena ketika kesejahteraan pengajar terjamin akan ada keseriusan lebih dari pengajar untuk betul-betul mencetak anak didiknya dengan baik. Tidak ada lagi kejadian guru berebut untuk mengambil banyak waktu mengajar demi semakin banyaknya bayaran yang akan didapatkan, tidak ada lagi guru yang bentrok waktu mengajar karena mengambil jam mengajar dilebih satu sekolah, tidak ada lagi guru yang memaksakan diri mengambil jam mengajar yang bukan dibidangnya, tidak ada lagi guru yang kewalahan karena mengajar sambil berdagang, juga tidak ada lagi guru yang memainkan proyek disekolah, seperti pengadaan fasilitas, LKS, atau bentuk-bentuk ujian yang kemudian dijadikan sarana bermain curang, yang semuanya ini terjadi karena kesejahtraan guru yang belum terjamin, sehingga hal-hal yang serupa demikian tersebut dilakukan karena demi tercukupinya kebutuhan hidup. Apabila bagian-bagian tersebut terabaikan terutama oleh penanggungjawab pendidikan, maka jangan terlalu berharap bahwa pendidikan ini mampu mencetak generasi yang baik.!!!
Sekarang kita mencoba untuk menilai terkait pendidikan yang terjadi ditanah air ini. Dengan mudahnya kita akan dapat menemukan cedera-cidera yang terjadi pada tubuh pendidikan, yang sudah harus segera diobati agar tidak infeksi yang menghasilkan virus-virus berbahaya dan menular. Sebab merupakan tanda bahaya apabila dunia pendidikan yang sebagai titik harapan pencetak generasi yang seharusnya mampu membawa kebaikan untuk masa selanjutnya ini ternyata mengalami sakit. Ironi rasanya apabila pendidikan yang harusnya betul mendidik malah menjadi pusaran permainan keji, sungguh sebuah keadaan yang sangat-sangat tidak kita harapkan.
Sebuah hasil survey dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia berada pada peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Kok bisa..?!!!
Jangan terlalu heran atau bahkan tidak terima, mau tidak mau keadaan inilah yang memang saat ini terjadi pada dunia pendidikan ditanah air. Mengenai kualitas pendidikan, memang seperti yang diulas diatas bahwa masih begitu banyak kekurangan bahkan mengalami 'sakit'. Sedangkan untuk kualitas guru (tenaga pendidik), sedikit saya kasih gambaran mengenai tenaga pendidik ditanah air ini. Sebetulnya tadi sudah diulas pula diatas, bagaimana kebiasaan pendidik (tentunya tidak semuanya) yang kesejahteraannya kurang terjamin, sehingga melakukan kegiatan yang terkesan memaksakan bahkan sampai ada yang melakukan kegiatan diluar kewajaran sebagai pendidik (panutan). Sedikit menambahkan lagi gambaran lainnya, yaitu masih ditemukan banyaknya para pendidik yang memang terkesan 'dipaksakan', mulai dari sekolah dasar (SD) sampai tingkat SLTA masih ditemukan tenaga pengajar yang memang belum lulus atau bahkan ada pula yang belum mengenyam bangku perguruan tinggi, sehingga menjadi sebuah pertanyaan dalam cara mengajarnya, ada juga kebiasaan merekrut tenaga pendidik dari pelajar yang baru saja lulus yang memang lagi-lagi jadi sebuah pertanyaan tentang bagaimana dengan "Pemahamannya mengenai cara mengajar yang efektif serta bagaimana dengan kematangan Karakternya", karena seharusnya dalam proses pendidikan itu bukan sekedar mencekoki para pelajar dengan teori-teori semata, bukan menumpahkan semua isi buku memenuhi kepala para pelajar, tetapi ada bagian-bagian penting lainnya yaitu seperti adanya ilmu tersendiri tentang bagaimana cara mengajar yang baik, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui tanpa bisa semena-mena, serta yang paling penting harus ada pada sosok pendidik yaitu kematangan karakter, jangan sampai para pendidik malah menjadi contoh pelanggar dari apa yang disampaikannya (diajarkannya pada para pelajar) atau melakukan kegiatan yang kurang mencerminkan sosok pendidik, dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Melihat keadaan pendidikan ditanah air seperti ini, saya mengaharapkan adanya obat mujarab yang bisa mengobati, agar tidak lagi kejadian pendidik tidak mencerminkan sebagai pendidik, agar tidak ada lagi pendidik yang hanya memaksakan kehendak tanpa memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mencetak generasi yang baik, lahirnya kenyamanan dalam belajar-mengajar, serta yang lainnya menyangkut pendidikan. Karena perubahan kurikulum yang juga terkesan sentralistik ternyata belum mampu menjadi solusi, buram, hanya peraturan pemerintah semata tanpa perhatian jeli terhadap kebutuhan.
***
MARILAH KITA MENYERU 'INDONESIA BERSATU'
INDONESIA - Negara Indonesia memiliki cita-cita kemerdekaan yang sungguh luar biasa sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD NKRI 1945. Namun sayangnya, ketika ditatap dari beberapa sudut pandang mengenai pelaksanaan niat yang mulia tersebut itu belum sepenuhnya terealisasi, Indonesia memang dikatakan berhasil meraih kemerdekaan serta mengusir para penjajah dari tanah air, namun pembebasan secara utuh dari rasa terjajah belum terlepas, kepahitannya masih melekat. Masih banyak bangsa Indonesia yang belum bisa terlepas dari jeratan kemiskinan, masih banyak bangsa Indonesia yang meninggal karena kelaparan, masih banyak pula keadaan yang lainnya yang rasanya sepahit terjajah, apalagi akan lebih miris ketika kepahitan itu kemudian menjadi penggiring manusia Indonesia melakukan tindakan yang tidak berprikemanusiaan.
Dalam TEMPO.CO, dikatakan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di lndonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk).
Menurut Kepala BPS Suhariyanto, angka tersebut bertambah 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen). Meski secara presentase angka kemiskinan mengalami penurunan, namun secara jumlah angka tersebut mengalami kenaikan. (https://m.tempo.co/read/news/2017/07/17/090892130/maret-2017-jumlah-penduduk-miskin-indonesia-capai-27-77-juta)
Itu membuktikan bahwa jumlah angka kemiskinan bukan malah berkurang melainkan semakin bertambah seiring dengan berlanjutnya usia Indonesia. Padahal Indonesia ini dijuluki sebagai tanah surga karena kesuburan dengan kekayaan alam yang melimpah serta keanekaragaman hayatinya, namun kenyataannya tidak menjadi solusi bagi kesejahteraan dinegeri ini. Seperti salah satu contoh yang terjadi Jember, karena sulitnya kehidupan yang dijalani, jangankan untuk dapat hidup layak, untuk makan sehari-hari pun masih kesulitan. Inilah yang kemudian membuat Ibu Rokayah seorang warga jember terpaksa mengkonsumsi rumput demi mengganjal perut. (https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-3435863/warga-jember-ini-terpaksa-makan-rumput-karena-kelaparan)
Bahkan selain dari pada itu, yang lebih parah lagi dengan masih adanya kejadian meninggal dunia akibat dari kelaparan, menjadi salah satu bukti bahwa negara ini belum sejahtera.
Masih begitu banyak masalah dalam tubuh Indonesia yang harus dengan giat diselesaikan, demi terciptanya keindahan Indonesia atas cita-citanya. Keselarasan niat seluruh bangsa Indonesia menjadi kunci utama tercapainya harapan tersebut, dengan berbagai bentuk perjuangan baik secara fisik, finansial, maupun pemikiran yang ketika dilakukan dengan selarasnya niat seluruh bangsa, maka bukan hal mustahil keindahan tersebut dapat terealisasi. Pertanyaannya adalah "Bagaimana cara menyelaraskan niat bangsa Indonesia.?".
'Menjiwai Pancasila'. Seluruh bangsa Indonesia harus betul-betul menghayati pancasila (atas setiap keluhuran makna yang terkadung didalamnya) sebagai sebuah ideologi (ini yang harus ditekankan), sehingga dapat terbentuknya satu kesepahaman bangsa Indonesia mengenai bagaimana dirinya harus mengabdikan diri pada tanah air, bagaimana dirinya harus melakukan perjuangan bukti kecintaan pada tanah air, serta bagaimana setiap bangsa akan mencerminkan sikap bangga dengan menjadi Indonesia.
Terlebih penekanan ini lebih diutamakan kepada para pejabat negara yang harus menjadikan pancasila betul-betul sebagai landasan utama, agar terhindar dari melakukan praktik-praktik negatif yang merugikan bangsa dan negara. Pemahaman yang benar terhadap pancasila kemudian akan menuntun agar setiap tindakan dilakukan semata untuk kebaikan, tidak terjadi lagi pemanfaatan jabatan sebagai kekuasaan untuk melakukan tindakan semena-mena serta pemuas nafsu semata untuk kepentingan pribadi saja, melainkan jabatan yang didapat merupakan amanah besar yang harus diemban dan dilaksanakan sebaik-baiknya menyangkut kepentingan orang banyak.
Kejadian-kejadian yang tidak wajar terjadi pada sosok pejabat negara harus segera hilang, karena begitu banyak orang yang mengagungkan serta menaruh beban harapan dipundak-pundak para pejabat sebagai wakil rakyat untuk mampu membawa perubahan baik bagi kehidupan mereka. Namun teramat disayangkan apabila masih ada kejadian serupa seperti yang terjadi pada September tahun 2015 lalu, dimana pejabat sekelas wakil ketua DPRD di Kabupaten Tuban malah tidak hafal sekedar isi dari pancasila, (https://www.google.com/search?hl=in-ID&ie=UTF-8&source=android-browser&q=pejabat+tidak+hapal+pancadila) Serta masih banyak tulisan-tulisan lainnya yang mengatakan bahwa masih banyak pejabat yang memang tidak hafal pancasila, keadaan yang sungguh miris serta memalukan, bisa dibayangkan betapa mirisnya kondisi pemerintahan yang ada di negeri ini. Seperti ditulis RMOL.CO, - Ketua MPR Zulkifli Hasan pun menilai bahwa memang keluhuran makna yang terkandung dalam 'Pancasila' kurang diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga salah satu akibat dari perilaku ini yaitu banyak pejabat yang terseret pada kasus korupsi. (http://www.rmol.co/read/2016/10/25/265612/Zulkifli-Hasan:-Banyak-Pejabat-Korup-Karena-Pancasila-Cuma-Jadi-Hafalan-)
Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan dikatakan mengapa tidak setiap perayaan Hari Kemerdekaan NKRI ini dimanfaatkan untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur Ke-Indonesia-an serta penelaahan kembali nilai-nilai yang terkandung pada pancasila, seperti yang ditulis dipembukaan tulisan ini. Bentuk kegiatannya apapun itu, terpenting dari kegiatan tersebut bisa bermakna bagi Bangsa Indonesia sehingga memiliki semangat kehidupan berpancasila. Namun sayangnya kebaikan seperti satu ini tidak kemudian dibudayakan di tanah air Indonesia, perayaan-perayaan serupa ini lebih digandrungi mengisinya dengan hiburan dan rekreasi.
***
Dariku terucap untukmu Tanah Airku...
DIRGAHAYU ke-72 tahun atas kemerdekaan mu,
Dirgahayu Indonesia...
Bagaimanapun, aku akan tetap berusaha cinta pada tanah air ini..
.