Wikipedia Telusuri..

Hasil penelusuran

Sabtu, 07 Oktober 2017

SENI BERBAHAN PASIR





TERIMA PESANAN
SENI BERBAHAN PASIR
***
Seni selalu saja beriringan dengan keindahan, memanjakan setiap indra dari penikmatnya. Tak jarang, hasil karya seni mampu membelai batin sehingga terasa ada kepuasan yang lebih. Seni begitu beragam jenis, tergantung aliran yang dikuasai oleh sang seniman.

Kali ini, ada karya seni dengan menggunakan media pasir sebagai bahan utamanya, yang akan terlihat gemerlap ketika terkena cahaya. Buah tangan orang pedesaan yang begitu kreatif dan ulet, sehingga apabila kita menatap lebih dalam dari karyanya, kita akan merasakan betapa besar pengorbanan sang seniman. Ada bahasa 'kadangkala kata-kata tak akan mampu menyampaikan semuanya', begitulah gambaran tepatnya.

Buat yang senang seni, jangan hanya ngaku-ngaku saja. Ayo coba lirik karya seni berbahan pasir ini.
Untuk bentuk dan harganya bisa menyesuaikan dengan pesanan.

-Kalighrafi
- Ukiran Nama (Toko, Komunitas, Masjid, dsb)
-Catatan Latin
-Kado (Ulangtahun, Pernikahan, Wisuda, dsb)
-Lukisan Wajah
-Seuvenir
-dll (Sesuai Pesanan).

Harga bersahabat, sesuai pesanan dan tingkat kerumitan...
Silahkan kontak-kontak untuk yang tertarik.
WA. 085721103873


Nilai estetika dari seni adalah keunikan dan keindahannya sehingga menjadi sebuah nilai yang menarik bagi sipenikmat.

Saat ini, sedang trend memberi hadiah ulang tahun yang menarik dan unik, terutama untuk pasangan. Inilah jawabannya, mengapa tidak anda manfaatkan seni dari pasir ini untuk membahagiakan orang yang anda sayangi.

Sekian...
Silahkan mencoba untuk yang tertarik

Bertempat di KP. TEGALDATAR RT. 20/05 DESA NEGLASARI KECAMATAN LENGKONG KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT 43174.

CP. 085721103873 (WA, SMS, TLPN)
Terimakasih,
Salam..






Kamis, 24 Agustus 2017

MANUSIA BODOH




MANUSIA BODOH
Oleh : Yusuf Hidayat

Bagai tak ada cermin yang guna memantulkan diri, untuk menyadarkan akan manusia nyatanya tak bersayap...
Biar tak lagi ternyamankan halusinasi, yang serasa bisa mengepak-ngepakan sayap, serasa melayang bebas kesana-kemari, terlupakan menapaki bumi...
Mengukur diri atas rasa pantas tanpa pedoman pasti...
Menilai selainnya semuanya rendah...
Tak akan mampu,
Tak akan bisa,
Hanya diri 'adigung' inilah yang mampu atas segalanya...
***
'Jika saat ini kau nilaiku bodoh dan rendah...
Ku menyayangkan orang sepintar kau yang tak mampu Sadar... Harusnya sedaridulu...





Sabtu, 19 Agustus 2017

ATURAN MAIN DINEGERI INI

ATURAN MAIN DINEGERI INI...
Oleh : Yusuf Hidayat
____________________





***

Beberapa waktu lalu media ramai mengabarkan kejadian pembakaran seorang terduga maling didaerah bekasi, dimana kejadian ini menggambarkan bahwa rakyat lebih memilih 'main hakim sendiri'. Hari ini kejadian yang hampir serupa kemudian terjadi kembali di daerah Bojongjengkol Kecamatan Jampang Tengah, dimana orang yang juga diduga maling sekarat setelah babak belur dihakimi oleh masa (19/08/17).

Mengapa melakukan main hakim sendiri..?
***

"Indonesia merupakan negara hukum". Begitulah seperti yang tertuang dalam Dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 Perubahan ke-4. Ditanah air ini hukum menjadi aturan main dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sudah seharusnya Hukum menjadi aturan yang amat pantrang untuk dilanggar, karena setiap pelanggaran yang dilakukan atas hukum maka akan ada konsekuensi yang kemudian akan diterima. Hukum harus seimbang sebagai bentuk keadilan bagi seluruh tanpa pandang buluh, tidak menjadi tajam kebawah tumpul keatas. Hukum harus ditegakkan segagah-gagahnya, sebenar-benarnya agar berwibawa dan kemudian menjadi aturan yang disegani.

Ditanah air ini, tidak jarang ramai dengan perbincangan mengenai hukum. Tidak jarang pelanggaran-pelanggaran terjadi atas poin-poin hukum yang kemudian dilakukan penindakan dan pemberian sangsi atas kesalahan yang dilanggarnya sesuai poin hukum yang dikenakan. Ketika mendengar kejadian seperti ini, pasti ada rasa bangga kita terhadap penegakkan hukum yang terkesan begitu baik. Akan tetapi bukan hal mustahil pula, pelanggaran-pelanggaran terjadi atas hukum lalu tidak ditindak sesuai hukum, bahkan ada kejadian hukum dipelintir oleh orang-orang yang paham hukum sampai dilanggar penegak hukum itu sendiri. Kalau kejadiannya seperti ini, bagaimana selanjutnya penilaian mengenai hukum ..?.

Zulkifli SH MH, seorang advokad di Pekan Baru mengatakan, ada 9 alasan mengapa seseorang itu melakukan perbuatan melanggar hukum, yaitu : Ketidaktahuan akan adanya hukum yang mengatur; Tidak mau tahu, adanya hukum dianggap mengganggu; Terpaksa karena tidak ada pilihan lain; Tidak Mampu Mengendalikan Diri; Niat yang jahat karena ada tujuan yang ingin dicapai; Terbiasa Melanggar; Adanya Kesempatan;
Alasan Membela Diri; serta Merasa paling benar dalam hukum. (http://koranmx.com/baca/2671/alasan-mengapa-orang-melanggar-hukum.html). Hal-hal demikian rasanya terkesan tidak aneh lagi, seperti bukan hal yang baru kita ketahui untuk saat ini.

Pelanggaran-pelanggaran mengenai hukum semakin kesini seperti menjadi hal yang lumrah dan tidak aneh lagi, masyarakat sudah menjadi tidak lagi teramat kaget ketika mendengar tentang pelanggaran hukum, hanya sebatas ekspresi kecil sebagai bentuk kekesalan saja, karena walaupun bagaimana pelanggaran mengenai sebuah aturan tetap dinilai sebagai budaya yang tidak baik oleh masyarakat. Ada pula penilaian bahwa penegak hukum pun tidak lagi menegakkan hukum dengan baik, ini barangkali akibat dari kejadian-kejadian pelanggaran hukum yang dilakukan oleh oknum penegak hukum. Muncul juga kalimat nyeleneh yang entah dari mana pertama kali munculnya bahwa "hukum/aturan ada untuk dilanggar", ini menggambarkan terkikisnya wibawa hukum ditengah masyarakat akibat kekecewaan atas kecurangan-kecurangan dalam penegakan hukum. Kezaliman-kezaliman yang karena begitu sering terjadi menjadi tidak aneh lagi sehingga terkesan menjadi sebuah kelaziman, begitu dikatakan Imam Ratrioso (seorang psikolog) dalam bukunya yang berjudul "Rakyat Enggak Jelas - Potret manusia Indonesia pasca reformasi".

Penegakan hukum yang dinilai tidak sehat lagi, serta anggapan-anggapan bahwa dalam penegakkan hukum dinegeri ini terkadang bisa dipelintir dan juga atas kejadian pelanggaran hukum yang dalam penanganannya terkesan dipeti es'kan, demikianlah yang kemudian mengajarkan masyarakat pada pengabaian hukum sebagai aturan main, serta akibat krisisnya kepercayaan masyarakat pada penegakkan hukum dinegeri ini, mengakibatkan masyarakat lebih memilih mengeksekusi/main hakim sendiri.

HUKUM HARUS MENJADI ATURAN MAIN YANG DISEGANI..!!!
***

#hukum
#72tahunindonesiamerdeka
#72tahunindonesiakerjabersama


Picture By : Sulistira

Kamis, 17 Agustus 2017

MARILAH KITA BRRSERU 'INDONESIA BERSATU'

MARILAH KITA MENYERU 'INDONESIA BERSATU'
Oleh : Yusuf Hidayat

INDONESIA - Negara Indonesia memiliki cita-cita kemerdekaan yang sungguh luar biasa sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD NKRI 1945. Namun sayangnya, ketika ditatap dari beberapa sudut pandang mengenai pelaksanaan niat yang mulia tersebut itu belum sepenuhnya terealisasi, Indonesia memang dikatakan berhasil meraih kemerdekaan serta mengusir para penjajah dari tanah air, namun pembebasan secara utuh dari rasa terjajah belum terlepas, kepahitannya masih melekat. Masih banyak bangsa Indonesia yang belum bisa terlepas dari jeratan kemiskinan, masih banyak bangsa Indonesia yang meninggal karena kelaparan, masih banyak pula keadaan yang lainnya yang rasanya sepahit terjajah, apalagi akan lebih miris ketika kepahitan itu kemudian menjadi penggiring manusia Indonesia melakukan tindakan yang tidak berprikemanusiaan.

Dalam TEMPO.CO, dikatakan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di lndonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk).
Menurut Kepala BPS Suhariyanto, angka tersebut bertambah 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen). Meski secara presentase angka kemiskinan mengalami penurunan, namun secara jumlah angka tersebut mengalami kenaikan. (https://m.tempo.co/read/news/2017/07/17/090892130/maret-2017-jumlah-penduduk-miskin-indonesia-capai-27-77-juta)
Itu membuktikan bahwa jumlah angka kemiskinan bukan malah berkurang melainkan semakin bertambah seiring dengan berlanjutnya usia Indonesia. Padahal Indonesia ini dijuluki sebagai tanah surga karena kesuburan dengan kekayaan alam yang melimpah serta keanekaragaman hayatinya, namun kenyataannya tidak menjadi solusi bagi kesejahteraan dinegeri ini. Seperti salah satu contoh yang terjadi Jember, karena sulitnya kehidupan yang dijalani, jangankan untuk dapat hidup layak, untuk makan sehari-hari pun masih kesulitan. Inilah yang kemudian membuat Ibu Rokayah seorang warga jember terpaksa mengkonsumsi rumput demi mengganjal perut. (https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-3435863/warga-jember-ini-terpaksa-makan-rumput-karena-kelaparan)
Bahkan selain dari pada itu, yang lebih parah lagi dengan masih adanya kejadian meninggal dunia akibat dari kelaparan, menjadi salah satu bukti bahwa negara ini belum sejahtera.

Masih begitu banyak masalah dalam tubuh Indonesia yang harus dengan giat diselesaikan, demi terciptanya keindahan Indonesia atas cita-citanya. Keselarasan niat seluruh bangsa Indonesia menjadi kunci utama tercapainya harapan tersebut, dengan berbagai bentuk perjuangan baik secara fisik, finansial, maupun pemikiran yang ketika dilakukan dengan selarasnya niat seluruh bangsa, maka bukan hal mustahil keindahan tersebut dapat terealisasi. Pertanyaannya adalah "Bagaimana cara menyelaraskan niat bangsa Indonesia.?".

'Menjiwai Pancasila'. Seluruh bangsa Indonesia harus betul-betul menghayati pancasila (atas setiap keluhuran makna yang terkadung didalamnya) sebagai sebuah ideologi (ini yang harus ditekankan), sehingga dapat terbentuknya satu kesepahaman bangsa Indonesia mengenai bagaimana dirinya harus mengabdikan diri pada tanah air, bagaimana dirinya harus melakukan perjuangan bukti kecintaan pada tanah air, serta bagaimana setiap bangsa akan mencerminkan sikap bangga dengan menjadi Indonesia.

Terlebih penekanan ini lebih diutamakan kepada para pejabat negara yang harus menjadikan pancasila betul-betul sebagai landasan utama, agar terhindar dari melakukan praktik-praktik negatif yang merugikan bangsa dan negara. Pemahaman yang benar terhadap pancasila kemudian akan menuntun agar setiap tindakan dilakukan semata untuk kebaikan, tidak terjadi lagi pemanfaatan jabatan sebagai kekuasaan untuk melakukan tindakan semena-mena serta pemuas nafsu semata untuk kepentingan pribadi saja, melainkan jabatan yang didapat merupakan amanah besar yang harus diemban dan dilaksanakan sebaik-baiknya menyangkut kepentingan orang banyak.

Kejadian-kejadian yang tidak wajar terjadi pada sosok pejabat negara harus segera hilang, karena begitu banyak orang yang mengagungkan serta menaruh beban harapan dipundak-pundak para pejabat sebagai wakil rakyat untuk mampu membawa perubahan baik bagi kehidupan mereka. Namun teramat disayangkan apabila masih ada kejadian serupa seperti yang terjadi pada September tahun 2015 lalu, dimana pejabat sekelas wakil ketua DPRD di Kabupaten Tuban malah tidak hafal sekedar isi dari pancasila, (https://www.google.com/search?hl=in-ID&ie=UTF-8&source=android-browser&q=pejabat+tidak+hapal+pancadila) Serta masih banyak tulisan-tulisan lainnya yang mengatakan bahwa masih banyak pejabat yang memang tidak hafal pancasila, keadaan yang sungguh miris serta memalukan, bisa dibayangkan betapa mirisnya kondisi pemerintahan yang ada di negeri ini. Seperti ditulis RMOL.CO, - Ketua MPR Zulkifli Hasan pun menilai bahwa memang keluhuran makna yang terkandung dalam 'Pancasila' kurang diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga salah satu akibat dari perilaku ini yaitu banyak pejabat yang terseret pada kasus korupsi. (http://www.rmol.co/read/2016/10/25/265612/Zulkifli-Hasan:-Banyak-Pejabat-Korup-Karena-Pancasila-Cuma-Jadi-Hafalan-)

Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan dikatakan mengapa tidak setiap perayaan Hari Kemerdekaan NKRI ini dimanfaatkan untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur Ke-Indonesia-an serta penelaahan kembali nilai-nilai yang terkandung pada pancasila, seperti yang ditulis dipembukaan tulisan ini. Bentuk kegiatannya apapun itu, terpenting dari kegiatan tersebut bisa bermakna bagi Bangsa Indonesia sehingga memiliki semangat kehidupan berpancasila. Namun sayangnya kebaikan seperti satu ini tidak kemudian dibudayakan di tanah air Indonesia, perayaan-perayaan serupa ini lebih digandrungi mengisinya dengan hiburan dan rekreasi.
***

Dariku terucap untukmu Tanah Airku...
DIRGAHAYU ke-72 tahun atas kemerdekaan mu,
Dirgahayu Indonesia...
Bagaimanapun, aku akan tetap berusaha cinta pada tanah air ini..




.

PENDIDIKAN HARUS MENDIDIK

PENDIDIKAN HARUS MENDIDIK
Oleh : Yusuf Hidayat

Pendidikan merupakan gerbang pertama yang pastinya dilalui setiap manusia yang terlahir ke dunia, sebagai proses penanaman pengetahuan yang menjadi akses manusia mendapatkan pemahaman, yang mana dari sinilah manusia berangkat untuk melakukan pengembangan diri berbekal pengetahuan yang diserapnya dari proses pendidikan. Pendidikan menduduki peranan penting dalam proses pembentukan SDM, akan seperti apa setiap manusia dalam menjalani kehidupannya kedepan turut bergantung pada proses pendidikan yang dilalui sebelumnya, dalam arti pendidikan ini menjadi faktor penentu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 'Pendidikan' memiliki kata dasar "didik (mendidik)" yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran; Kemudian 'Pendidikan'-nya memiliki arti "proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik"; yang selanjutnya hasil dari proses ini kemudian disebut dengan "didikan". Begitu banyak definisi mengenai 'pendidikan', terutama yang dikemukakan para ahli, seperti salah satunya oleh Ki Hajar Dewantoro yang akrabnya dijuluki Bapak Pendidikan Indonesia, mengemukakan bahwa "pengertian pendidikan adalah tuntunan tumbuh dan berkembangnya anak. Artinya, pendidikan merupakan upaya untuk menuntun kekuatan kodrat pada diri setiap anak agar mereka mampu tumbuh dan berkembang sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat yang bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup mereka". Selanjutnya pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dikatakan bahwa "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi di dalam diri untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara".

Dapat disimpulkan bahwa memang peranan pendidikan dalam kehidupan manusia begitu amat penting, terutama sebagai proses pencetakan generasi yang akan datang. Pendidikan kemudian menjadikan manusia memiliki pemahaman dari semua pengetahuan, memiliki wawasan, serta yang paling penting dari proses pendidikan ialah pencetakan karakter pada setiap manusia. Sehingga muncul kalimat ditengah masyarakat bahwa "orang yang baik, ramah, berjiwa sosial, rukun, memiliki kecerdasan dan sopan-santun serta berkarakter semua ini kemudian disebut 'orang yang berpendidikan' ", masyakat teramat mengagungkan pendidikan (menaruh harapan besar) serta masyarakat memiliki kepercayaan bahwa "Tingkatan kesuksesan seseorang itu diukur oleh setinggi apa seseorang tersebut mengenyam pendidikan", inilah makanya masyarakat menganggap mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi sebagai manusia serba bisa, karena dianggapnya telah menempuh pendidikan tinggi (level pendidikan yang membuat manusia memiliki segala pengetahuan).

Melihat begitu pentingnya 'pendidikan' seperti gambaran yang diulas sebelumnya, mengharuskan adanya perhatian khusus dari pemangku kebijakan, khususnya bagian pendidikan, harus betul-betul serius dalam mengawal keseluruhan proses pendidikan ditanah air ini, sehingga pelaksanaan pendidikan ini mampu melakukan kewajibannya dengan baik dalam mencetak generasi bangsa yang potensial untuk masa kedepan, ini tidak bisa dianggap sebagai hal yang spele. Begitu banyak bagian penting dalam proses pelaksanaan pendidikan yang seharusnya lebih diutamakan perlakuannya. Seperti bahwa setiap lembaga pendidikan diharuskan memiliki tenaga pengajar yang betul memiliki kemampuan yang mumpuni dibidangnya, sehingga pengajar ini memahami betul bagaimana teknik pengajaran yang baik agar anak didiknya mampu menyerap pendidikan yang ditularkannya, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban untuk menyampaikan materi-materi yang sesuai kurikulum atau silabus semata. Dari segi fasilitas penunjang pendidikan pun juga harus diperhatikan, bagaimana dengan gedung pendidikannya yang harus memadai, ada laboraturium yang lengkap sesuai bidang pendidikan, ada perpustakaan dengan koleksi buku yang melimpah, serta fasilitas pendukung lainnya seperti lapangan olahraga dengan kelengkapannya dan juga fasilitas-fasilitas ektrakulikuler. Bagian-bagian tersebut merupakan bagian yang harus lebih diutamakan, agar terjadinya kenyamanan pada proses belajar-mengajar yang dilakukan, karena para pelajar yang sedang menimba ilmu akan mampu lebih serius menyerap pemahaman dari transfer ilmu pengetahuan oleh pengajar ketika merasakan kenyaman. Serta ada yang tidak kalah penting juga yaitu kesejahteraan tenaga pengajar juga turut harus menjadi perhatian secara khusus, karena ketika kesejahteraan pengajar terjamin akan ada keseriusan lebih dari pengajar untuk betul-betul mencetak anak didiknya dengan baik. Tidak ada lagi kejadian guru berebut untuk mengambil banyak waktu mengajar demi semakin banyaknya bayaran yang akan didapatkan, tidak ada lagi guru yang bentrok waktu mengajar karena mengambil jam mengajar dilebih satu sekolah, tidak ada lagi guru yang memaksakan diri mengambil jam mengajar yang bukan dibidangnya, tidak ada lagi guru yang kewalahan karena mengajar sambil berdagang, juga tidak ada lagi guru yang memainkan proyek disekolah, seperti pengadaan fasilitas, LKS, atau bentuk-bentuk ujian yang kemudian dijadikan sarana bermain curang, yang semuanya ini terjadi karena kesejahtraan guru yang belum terjamin, sehingga hal-hal yang serupa demikian tersebut dilakukan karena demi tercukupinya kebutuhan hidup. Apabila bagian-bagian tersebut terabaikan terutama oleh penanggungjawab pendidikan, maka jangan terlalu berharap bahwa pendidikan ini mampu mencetak generasi yang baik.!!!

Sekarang kita mencoba untuk menilai terkait pendidikan yang terjadi ditanah air ini. Dengan mudahnya kita akan dapat menemukan cedera-cidera yang terjadi pada tubuh pendidikan, yang sudah harus segera diobati agar tidak infeksi yang menghasilkan virus-virus berbahaya dan menular. Sebab merupakan tanda bahaya apabila dunia pendidikan yang sebagai titik harapan pencetak generasi yang seharusnya mampu membawa kebaikan untuk masa selanjutnya ini ternyata mengalami sakit. Ironi rasanya apabila pendidikan yang harusnya betul mendidik malah menjadi pusaran permainan keji, sungguh sebuah keadaan yang sangat-sangat tidak kita harapkan.

Sebuah hasil survey dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia berada pada peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Kok bisa..?!!!

Jangan terlalu heran atau bahkan tidak terima, mau tidak mau keadaan inilah yang memang saat ini terjadi pada dunia pendidikan ditanah air. Mengenai kualitas pendidikan, memang seperti yang diulas diatas bahwa masih begitu banyak kekurangan bahkan mengalami 'sakit'. Sedangkan untuk kualitas guru (tenaga pendidik), sedikit saya kasih gambaran mengenai tenaga pendidik ditanah air ini. Sebetulnya tadi sudah diulas pula diatas, bagaimana kebiasaan pendidik (tentunya tidak semuanya) yang kesejahteraannya kurang terjamin, sehingga melakukan kegiatan yang terkesan memaksakan bahkan sampai ada yang melakukan kegiatan diluar kewajaran sebagai pendidik (panutan). Sedikit menambahkan lagi gambaran lainnya, yaitu masih ditemukan banyaknya para pendidik yang memang terkesan 'dipaksakan', mulai dari sekolah dasar (SD) sampai tingkat SLTA masih ditemukan tenaga pengajar yang memang belum lulus atau bahkan ada pula yang belum mengenyam bangku perguruan tinggi, sehingga menjadi sebuah pertanyaan dalam cara mengajarnya, ada juga kebiasaan merekrut tenaga pendidik dari pelajar yang baru saja lulus yang memang lagi-lagi jadi sebuah pertanyaan tentang bagaimana dengan "Pemahamannya mengenai cara mengajar yang efektif serta bagaimana dengan kematangan Karakternya", karena seharusnya dalam proses pendidikan itu bukan sekedar mencekoki para pelajar dengan teori-teori semata, bukan menumpahkan semua isi buku memenuhi kepala para pelajar, tetapi ada bagian-bagian penting lainnya yaitu seperti adanya ilmu tersendiri tentang bagaimana cara mengajar yang baik, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui tanpa bisa semena-mena, serta yang paling penting harus ada pada sosok pendidik yaitu kematangan karakter, jangan sampai para pendidik malah menjadi contoh pelanggar dari apa yang disampaikannya (diajarkannya pada para pelajar) atau melakukan kegiatan yang kurang mencerminkan sosok pendidik, dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Melihat keadaan pendidikan ditanah air seperti ini, saya mengaharapkan adanya obat mujarab yang bisa mengobati, agar tidak lagi kejadian pendidik tidak mencerminkan sebagai pendidik, agar tidak ada lagi pendidik yang hanya memaksakan kehendak tanpa memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mencetak generasi yang baik, lahirnya kenyamanan dalam belajar-mengajar, serta yang lainnya menyangkut pendidikan. Karena perubahan kurikulum yang juga terkesan sentralistik ternyata belum mampu menjadi solusi, buram, hanya peraturan pemerintah semata tanpa perhatian jeli terhadap kebutuhan.

BAGAIMANA KABARMU TANAH AIRKU..?!!!





BAGAIMANA KABARMU TANAH AIRKU.?
(Spesial hari kemerdekaan NKRI Ke-72)
Oleh : Yusuf Hidayat
*******************************************

***
Ku awali tulisan ini dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, semua yang dicatat dalam tulisan ini semata sebagai bentuk kecintaanku pada tanah air serta sebagai kado sederhana yang ku persembahkan diperingatan hari kemerdekaan tahun ini, tanpa maksud melecehkan siapapun serta apapun. Kesalahan penulisan serta tata bahasa yang digunakan itu semata buah dari kebodohanku.
Catatan ini merupakan tuang gagasan penulis serta parafrase dari beberapa sumber bacaan 👍👍👍
Dirgahayu Tanah Airku Indonesia..!!!
Merdeka...!!! 3x
***

17.08.17 - DIRGAHAYU NKRI..!!!
Hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi seluruh bangsa Indonesia, karena pada hari ini bangsa Indonesia diseluruh tanah air turut merayakan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ke-72 pasca-proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, yang dikumandangkan sosok pemuda proklamator Soekarno - Hatta. Dalam kurun waktu yang tidak sebentar ini (waktu yang terlewati setelah kemerdekaan), ada pertanyaan besar tentang "bagaimana dengan perwujudan cita-cita kemerdekaan seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD NKRI 1945. Apakah sudah terwujud, semakin dekat, atau malah tetap jauh untuk dapat terwujud?".

Hari ini tepatnya kembali diperingati kemerdekaan tanah air ini, seharusnya kegiatan serupa mampu membakar semangat bangsa Indonesia saat ini agar mempunyai semangat patriotisme dan nasionalisme layaknya para pahlawan yang memperjuangkan Indonesia untuk merdeka, sehingga dengan demikian bangsa Indonesia mempunyai semangat juang untuk bersama-sama meneruskan perjuangan demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan yang sampai saat ini belum terwujud.

Akan tetapi bisa kita lihat dan nilai dari realita yang terjadi saat ini, seberapa besar persentase kegiatan-kegiatan dalam perayaan memperingati hari kemerdekaan negara Indonesia ini yang memang merefleksikan kearah sana.?, jika dibandingkan dengan kegiatan yang mengarah pada kesenangan saja.!!
Kalau saya menilai, saat ini sepertinya semakin berkurangnya kegiatan-kegiatan yang memang betul-betul merepleksikan kearah semangat juang, kalah besar dengan berbagai bentuk kegiatan yang lebih condong pada kesenangan / hiburan semata. Perayaan hari kemerdekaan saat ini lebih banyak diisi dengan berlibur ketempat-tempat wisata, pentas (konser) musik, arak-arakan, ataupun kalau didaerah pedesaan biasanya diisi dengan permainan-permainan kecil yang dinamai perlombaan 'semarak kemerdekaan', yang berupa balap karung, balap kelereng, makan kerupuk, pukul air, serta permainan lainnya yang nilainya hanya pada sebatas hiburan saja. Apabila pun ada yang bertanya, "Kenapa dari tahun ke tahun kegiatan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ini kok begini-begini saja, balap kelereng lagi, makan kerupuk lagi, balap karung lagi, apakah tidak ada yang lain yang lebih bermanfaat untuk kebaikan Indonesia kedepan ?!!!. Jawabannya paling-paling "Dari dulu juga begitu, kegiatan semacam inilah yang lumrah dan ramai dilaksanakan dalam perayaan hari kemerdekaan dari tahun ke tahun, jadi meniru yang sebelumnya saja". Begitupun jawabannya tidak akan jauh berbeda untuk pertanyaan lainnya terkait hiburan musik dan liburan, itupun masih untung apabila kegiatan yang dilakukan masih dalam konteks yang positif, tetapi bukan tidak mungkin pula beberapa perayaan ini malah turut diwarnai kegiatan yang negatif.

Kebiasaan-kebiasaan serupa inilah gambaran Indonesia saat ini, sehingga kecil kemungkinan bisa diharapkan selepas perayaan memperingati hari kemerdekaan pun dapat mempunyai semangat kebangsaan yang kemudian dapat membawa perubahan dan perbaikan untuk Indonesia kedepan. Ini juga menjadi gambaran kecil yang turut menjelaskan mengapa cita-cita kemerdekaan Indonesia jauh untuk terwujud. Apakah mungkin jika memang peringatan hari kemerdekaan ini diisi dengan kegiatan yang bermanfaat untuk perubahan dan perbaikan Indonesia kedepan kemudian peringatan hari kemerdekaan ini menjadi tidak ramai seperti biasanya, tidak serasa hari kemerdekaan, tidak seru lagi yang lalu kemudian dianggap kolot.?!!!.

Pada usia 72 tahun merdeka, Indonesia belum pula mampu menggiring bangsa pada kehidupan yang adil, makmur serta sejahtera sebagaimana apa yang dicita-citakan. Mengapa..?!!!, Berarti ada permasalahan dalam tubuh Indonesia yang belum selesai. Beberapa gambarannya akan diulas kemudian. Sebelumnya ku persembahkan terlebihdahulu sajak "KAMI INGIN IKUT TERTAWA".

______________________________________________
______________________________________________
SAJAK
KAMI INGIN IKUT TERTAWA

***
MERDEKA... !!! 3x
Dirgahayu Indonesia.
Dirgahayu Tanah Air Tercinta.
Dengan setulus hati memanjatkan doa untukmu.
Semoga hari ini lebih berarti, tak hanya sebatas tradisi.

MERDEKA...!!!
Ijinkan kami menikmati manisnya merdeka.
Biarkan kami singkap selimut-selimut dusta.
Biarkan kami cabik-cabik hijab penghalang mata.
Lindungi kami, lindungi dari kejamnya mereka yang merasa terhina.

AJAKLAH KAMI..!!!
Kami ingin ikut tertawa bersama mereka.
Berharap kita dapat tertawa bersama.
Bahagia... Buah berhasilnya perubahan dan perbaikan yang mulia.
Bukan bualan...!!!
Bukan halusinasi...!!!
Bukan pula fatamorgana...!!!
Kami inginkan kita tertawa bersama didunia nyata.
Atas terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia.

SUDAHLAH...!!!
Kami kini bosan...
Kau cekoki kami dengan obat tidur.
Kau tenangkan kami dengan bius.
Kau bungkam mulut-mulut bijak dengan gertak.

SUDAHLAH... !!!
Kami kini muak...
Kami capek menjalani hidup tak jelas.
Kami capek hidup pura-pura tak waras.

Sebetulnya kami pun tau...
Saat kau melakukan tipu-tipu.
Saat kau menjilat lantas berkhianat.
Saat kau manfaatkan kami demi kepuasan nafsumu sendiri.

Kau lah bedebah...!!!
Kau penghambat terwujudnya cita-cita.
Kau pengkhianat bangsa.
Kau pengahalang harapan kami untuk dapat tertawa bersama.
***
______________________________________________
______________________________________________

***
PENDIDIKAN HARUS MENDIDIK

Pendidikan merupakan gerbang pertama yang pastinya dilalui setiap manusia yang terlahir ke dunia, sebagai proses penanaman pengetahuan yang menjadi akses manusia mendapatkan pemahaman, yang mana dari sinilah manusia berangkat untuk melakukan pengembangan diri berbekal pengetahuan yang diserapnya dari proses pendidikan. Pendidikan menduduki peranan penting dalam proses pembentukan SDM, akan seperti apa setiap manusia dalam menjalani kehidupannya kedepan turut bergantung pada proses pendidikan yang dilalui sebelumnya, dalam arti pendidikan ini menjadi faktor penentu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 'Pendidikan' memiliki kata dasar "didik (mendidik)" yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran; Kemudian 'Pendidikan'-nya memiliki arti "proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik"; yang selanjutnya hasil dari proses ini kemudian disebut dengan "didikan". Begitu banyak definisi mengenai 'pendidikan', terutama yang dikemukakan para ahli, seperti salah satunya oleh Ki Hajar Dewantoro yang akrabnya dijuluki Bapak Pendidikan Indonesia, mengemukakan bahwa "pengertian pendidikan adalah tuntunan tumbuh dan berkembangnya anak. Artinya, pendidikan merupakan upaya untuk menuntun kekuatan kodrat pada diri setiap anak agar mereka mampu tumbuh dan berkembang sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat yang bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup mereka". Selanjutnya pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dikatakan bahwa "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi di dalam diri untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara".

Dapat disimpulkan bahwa memang peranan pendidikan dalam kehidupan manusia begitu amat penting, terutama sebagai proses pencetakan generasi yang akan datang. Pendidikan kemudian menjadikan manusia memiliki pemahaman dari semua pengetahuan, memiliki wawasan, serta yang paling penting dari proses pendidikan ialah pencetakan karakter pada setiap manusia. Sehingga muncul kalimat ditengah masyarakat bahwa "orang yang baik, ramah, berjiwa sosial, rukun, memiliki kecerdasan dan sopan-santun serta berkarakter semua ini kemudian disebut 'orang yang berpendidikan' ", masyakat teramat mengagungkan pendidikan (menaruh harapan besar) serta masyarakat memiliki kepercayaan bahwa "Tingkatan kesuksesan seseorang itu diukur oleh setinggi apa seseorang tersebut mengenyam pendidikan", inilah makanya masyarakat menganggap mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi sebagai manusia serba bisa, karena dianggapnya telah menempuh pendidikan tinggi (level pendidikan yang membuat manusia memiliki segala pengetahuan).

Melihat begitu pentingnya 'pendidikan' seperti gambaran yang diulas sebelumnya, mengharuskan adanya perhatian khusus dari pemangku kebijakan, khususnya bagian pendidikan, harus betul-betul serius dalam mengawal keseluruhan proses pendidikan ditanah air ini, sehingga pelaksanaan pendidikan ini mampu melakukan kewajibannya dengan baik dalam mencetak generasi bangsa yang potensial untuk masa kedepan, ini tidak bisa dianggap sebagai hal yang spele. Begitu banyak bagian penting dalam proses pelaksanaan pendidikan yang seharusnya lebih diutamakan perlakuannya. Seperti bahwa setiap lembaga pendidikan diharuskan memiliki tenaga pengajar yang betul memiliki kemampuan yang mumpuni dibidangnya, sehingga pengajar ini memahami betul bagaimana teknik pengajaran yang baik agar anak didiknya mampu menyerap pendidikan yang ditularkannya, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban untuk menyampaikan materi-materi yang sesuai kurikulum atau silabus semata. Dari segi fasilitas penunjang pendidikan pun juga harus diperhatikan, bagaimana dengan gedung pendidikannya yang harus memadai, ada laboraturium yang lengkap sesuai bidang pendidikan, ada perpustakaan dengan koleksi buku yang melimpah, serta fasilitas pendukung lainnya seperti lapangan olahraga dengan kelengkapannya dan juga fasilitas-fasilitas ektrakulikuler. Bagian-bagian tersebut merupakan bagian yang harus lebih diutamakan, agar terjadinya kenyamanan pada proses belajar-mengajar yang dilakukan, karena para pelajar yang sedang menimba ilmu akan mampu lebih serius menyerap pemahaman dari transfer ilmu pengetahuan oleh pengajar ketika merasakan kenyaman. Serta ada yang tidak kalah penting juga yaitu kesejahteraan tenaga pengajar juga turut harus menjadi perhatian secara khusus, karena ketika kesejahteraan pengajar terjamin akan ada keseriusan lebih dari pengajar untuk betul-betul mencetak anak didiknya dengan baik. Tidak ada lagi kejadian guru berebut untuk mengambil banyak waktu mengajar demi semakin banyaknya bayaran yang akan didapatkan, tidak ada lagi guru yang bentrok waktu mengajar karena mengambil jam mengajar dilebih satu sekolah, tidak ada lagi guru yang memaksakan diri mengambil jam mengajar yang bukan dibidangnya, tidak ada lagi guru yang kewalahan karena mengajar sambil berdagang, juga tidak ada lagi guru yang memainkan proyek disekolah, seperti pengadaan fasilitas, LKS, atau bentuk-bentuk ujian yang kemudian dijadikan sarana bermain curang, yang semuanya ini terjadi karena kesejahtraan guru yang belum terjamin, sehingga hal-hal yang serupa demikian tersebut dilakukan karena demi tercukupinya kebutuhan hidup. Apabila bagian-bagian tersebut terabaikan terutama oleh penanggungjawab pendidikan, maka jangan terlalu berharap bahwa pendidikan ini mampu mencetak generasi yang baik.!!!

Sekarang kita mencoba untuk menilai terkait pendidikan yang terjadi ditanah air ini. Dengan mudahnya kita akan dapat menemukan cedera-cidera yang terjadi pada tubuh pendidikan, yang sudah harus segera diobati agar tidak infeksi yang menghasilkan virus-virus berbahaya dan menular. Sebab merupakan tanda bahaya apabila dunia pendidikan yang sebagai titik harapan pencetak generasi yang seharusnya mampu membawa kebaikan untuk masa selanjutnya ini ternyata mengalami sakit. Ironi rasanya apabila pendidikan yang harusnya betul mendidik malah menjadi pusaran permainan keji, sungguh sebuah keadaan yang sangat-sangat tidak kita harapkan.

Sebuah hasil survey dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia berada pada peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Kok bisa..?!!!

Jangan terlalu heran atau bahkan tidak terima, mau tidak mau keadaan inilah yang memang saat ini terjadi pada dunia pendidikan ditanah air. Mengenai kualitas pendidikan, memang seperti yang diulas diatas bahwa masih begitu banyak kekurangan bahkan mengalami 'sakit'. Sedangkan untuk kualitas guru (tenaga pendidik), sedikit saya kasih gambaran mengenai tenaga pendidik ditanah air ini. Sebetulnya tadi sudah diulas pula diatas, bagaimana kebiasaan pendidik (tentunya tidak semuanya) yang kesejahteraannya kurang terjamin, sehingga melakukan kegiatan yang terkesan memaksakan bahkan sampai ada yang melakukan kegiatan diluar kewajaran sebagai pendidik (panutan). Sedikit menambahkan lagi gambaran lainnya, yaitu masih ditemukan banyaknya para pendidik yang memang terkesan 'dipaksakan', mulai dari sekolah dasar (SD) sampai tingkat SLTA masih ditemukan tenaga pengajar yang memang belum lulus atau bahkan ada pula yang belum mengenyam bangku perguruan tinggi, sehingga menjadi sebuah pertanyaan dalam cara mengajarnya, ada juga kebiasaan merekrut tenaga pendidik dari pelajar yang baru saja lulus yang memang lagi-lagi jadi sebuah pertanyaan tentang bagaimana dengan "Pemahamannya mengenai cara mengajar yang efektif serta bagaimana dengan kematangan Karakternya", karena seharusnya dalam proses pendidikan itu bukan sekedar mencekoki para pelajar dengan teori-teori semata, bukan menumpahkan semua isi buku memenuhi kepala para pelajar, tetapi ada bagian-bagian penting lainnya yaitu seperti adanya ilmu tersendiri tentang bagaimana cara mengajar yang baik, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui tanpa bisa semena-mena, serta yang paling penting harus ada pada sosok pendidik yaitu kematangan karakter, jangan sampai para pendidik malah menjadi contoh pelanggar dari apa yang disampaikannya (diajarkannya pada para pelajar) atau melakukan kegiatan yang kurang mencerminkan sosok pendidik, dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Melihat keadaan pendidikan ditanah air seperti ini, saya mengaharapkan adanya obat mujarab yang bisa mengobati, agar tidak lagi kejadian pendidik tidak mencerminkan sebagai pendidik, agar tidak ada lagi pendidik yang hanya memaksakan kehendak tanpa memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mencetak generasi yang baik, lahirnya kenyamanan dalam belajar-mengajar, serta yang lainnya menyangkut pendidikan. Karena perubahan kurikulum yang juga terkesan sentralistik ternyata belum mampu menjadi solusi, buram, hanya peraturan pemerintah semata tanpa perhatian jeli terhadap kebutuhan.

***
MARILAH KITA MENYERU 'INDONESIA BERSATU'

INDONESIA - Negara Indonesia memiliki cita-cita kemerdekaan yang sungguh luar biasa sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD NKRI 1945. Namun sayangnya, ketika ditatap dari beberapa sudut pandang mengenai pelaksanaan niat yang mulia tersebut itu belum sepenuhnya terealisasi, Indonesia memang dikatakan berhasil meraih kemerdekaan serta mengusir para penjajah dari tanah air, namun pembebasan secara utuh dari rasa terjajah belum terlepas, kepahitannya masih melekat. Masih banyak bangsa Indonesia yang belum bisa terlepas dari jeratan kemiskinan, masih banyak bangsa Indonesia yang meninggal karena kelaparan, masih banyak pula keadaan yang lainnya yang rasanya sepahit terjajah, apalagi akan lebih miris ketika kepahitan itu kemudian menjadi penggiring manusia Indonesia melakukan tindakan yang tidak berprikemanusiaan.

Dalam TEMPO.CO, dikatakan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di lndonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk).
Menurut Kepala BPS Suhariyanto, angka tersebut bertambah 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen). Meski secara presentase angka kemiskinan mengalami penurunan, namun secara jumlah angka tersebut mengalami kenaikan. (https://m.tempo.co/read/news/2017/07/17/090892130/maret-2017-jumlah-penduduk-miskin-indonesia-capai-27-77-juta)
Itu membuktikan bahwa jumlah angka kemiskinan bukan malah berkurang melainkan semakin bertambah seiring dengan berlanjutnya usia Indonesia. Padahal Indonesia ini dijuluki sebagai tanah surga karena kesuburan dengan kekayaan alam yang melimpah serta keanekaragaman hayatinya, namun kenyataannya tidak menjadi solusi bagi kesejahteraan dinegeri ini. Seperti salah satu contoh yang terjadi Jember, karena sulitnya kehidupan yang dijalani, jangankan untuk dapat hidup layak, untuk makan sehari-hari pun masih kesulitan. Inilah yang kemudian membuat Ibu Rokayah seorang warga jember terpaksa mengkonsumsi rumput demi mengganjal perut. (https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-3435863/warga-jember-ini-terpaksa-makan-rumput-karena-kelaparan)
Bahkan selain dari pada itu, yang lebih parah lagi dengan masih adanya kejadian meninggal dunia akibat dari kelaparan, menjadi salah satu bukti bahwa negara ini belum sejahtera.

Masih begitu banyak masalah dalam tubuh Indonesia yang harus dengan giat diselesaikan, demi terciptanya keindahan Indonesia atas cita-citanya. Keselarasan niat seluruh bangsa Indonesia menjadi kunci utama tercapainya harapan tersebut, dengan berbagai bentuk perjuangan baik secara fisik, finansial, maupun pemikiran yang ketika dilakukan dengan selarasnya niat seluruh bangsa, maka bukan hal mustahil keindahan tersebut dapat terealisasi. Pertanyaannya adalah "Bagaimana cara menyelaraskan niat bangsa Indonesia.?".

'Menjiwai Pancasila'. Seluruh bangsa Indonesia harus betul-betul menghayati pancasila (atas setiap keluhuran makna yang terkadung didalamnya) sebagai sebuah ideologi (ini yang harus ditekankan), sehingga dapat terbentuknya satu kesepahaman bangsa Indonesia mengenai bagaimana dirinya harus mengabdikan diri pada tanah air, bagaimana dirinya harus melakukan perjuangan bukti kecintaan pada tanah air, serta bagaimana setiap bangsa akan mencerminkan sikap bangga dengan menjadi Indonesia.

Terlebih penekanan ini lebih diutamakan kepada para pejabat negara yang harus menjadikan pancasila betul-betul sebagai landasan utama, agar terhindar dari melakukan praktik-praktik negatif yang merugikan bangsa dan negara. Pemahaman yang benar terhadap pancasila kemudian akan menuntun agar setiap tindakan dilakukan semata untuk kebaikan, tidak terjadi lagi pemanfaatan jabatan sebagai kekuasaan untuk melakukan tindakan semena-mena serta pemuas nafsu semata untuk kepentingan pribadi saja, melainkan jabatan yang didapat merupakan amanah besar yang harus diemban dan dilaksanakan sebaik-baiknya menyangkut kepentingan orang banyak.

Kejadian-kejadian yang tidak wajar terjadi pada sosok pejabat negara harus segera hilang, karena begitu banyak orang yang mengagungkan serta menaruh beban harapan dipundak-pundak para pejabat sebagai wakil rakyat untuk mampu membawa perubahan baik bagi kehidupan mereka. Namun teramat disayangkan apabila masih ada kejadian serupa seperti yang terjadi pada September tahun 2015 lalu, dimana pejabat sekelas wakil ketua DPRD di Kabupaten Tuban malah tidak hafal sekedar isi dari pancasila, (https://www.google.com/search?hl=in-ID&ie=UTF-8&source=android-browser&q=pejabat+tidak+hapal+pancadila) Serta masih banyak tulisan-tulisan lainnya yang mengatakan bahwa masih banyak pejabat yang memang tidak hafal pancasila, keadaan yang sungguh miris serta memalukan, bisa dibayangkan betapa mirisnya kondisi pemerintahan yang ada di negeri ini. Seperti ditulis RMOL.CO, - Ketua MPR Zulkifli Hasan pun menilai bahwa memang keluhuran makna yang terkandung dalam 'Pancasila' kurang diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga salah satu akibat dari perilaku ini yaitu banyak pejabat yang terseret pada kasus korupsi. (http://www.rmol.co/read/2016/10/25/265612/Zulkifli-Hasan:-Banyak-Pejabat-Korup-Karena-Pancasila-Cuma-Jadi-Hafalan-)

Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan dikatakan mengapa tidak setiap perayaan Hari Kemerdekaan NKRI ini dimanfaatkan untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur Ke-Indonesia-an serta penelaahan kembali nilai-nilai yang terkandung pada pancasila, seperti yang ditulis dipembukaan tulisan ini. Bentuk kegiatannya apapun itu, terpenting dari kegiatan tersebut bisa bermakna bagi Bangsa Indonesia sehingga memiliki semangat kehidupan berpancasila. Namun sayangnya kebaikan seperti satu ini tidak kemudian dibudayakan di tanah air Indonesia, perayaan-perayaan serupa ini lebih digandrungi mengisinya dengan hiburan dan rekreasi.
***

Dariku terucap untukmu Tanah Airku...
DIRGAHAYU ke-72 tahun atas kemerdekaan mu,
Dirgahayu Indonesia...
Bagaimanapun, aku akan tetap berusaha cinta pada tanah air ini..




.

Senin, 24 Juli 2017

KNPI Murni Para Pemuda - Khayal atau Fakta



KNPI Murni Dipenuhi Para Pemuda..!!!
Khayal atau Fakta..??,,

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Seharusnya sesak karena dipenuhi oleh para pemuda-pemuda yang memiliki pemikiran kritis, semangat yang bergelora, berkarakter, serta potensi yang mumpuni. Pemuda-pemuda inilah yang kemudian seharusnya ada memenuhi tubuh KNPI, pemuda-pemuda yang pasti menjadi garda terdepan perjuangan, pemuda-pemuda yang pastinya mengerti keinginan pemuda serta memahami jiwa-jiwa pemuda.

Bukan mereka..!!!
Mereka yang merasa usianya masih muda serta mereka yang merasa awet muda. Mereka pun sama mengutamakan kepentingan pemuda, yang sebaya dengan mereka. Seharusnya mulai saat ini perbaikan-perbaikan demi kemajuan KNPI kedepan itu mulai dilakukan, mulai diperjuangkan, agar KNPI ini betul menggarap masalah-masalah kepemudaan, karena permasalahan kepemudaan ini tidak sedikit.

Salah satu contoh terkecil saja, KNPI tempat bernaungnya para pemuda, yang memperjuangkan aspirasi pemuda. Pemuda yang mana..?
Bagaimana bisa pemuda pedesaan menganggap KNPI sebagai pahlawan bagi mereka, manakala mereka sendiri tidak tau KNPI itu apa..?,, Itu artinya jangankan dikatakan memperjuangkan, sekedar sapaan pun atas nama KNPI berarti blm sampai pada mereka.

Sudahlah..!!!
KNPI adalah hak para Pemuda...
Berikan hak-hak pemuda kepada para pemuda (yang masuk kriteria pemuda), biarkan para pemuda berekspresi tanpa intervensi, jangan tumpangi dengan kepentingan lain selain terkait pemuda.

PERCAYALAH..!!!
Para Pemuda yang betul-betul Pemuda, pasti lebih mampu mengangkat nama baik KNPI, Mengharumkan KNPI, mewarnai KNPI, serta lebih kena menyapa pemuda-pemuda desa yang non-organisasi...

#obrolanwarungkopi
#ceritakekinian

Jumat, 24 Maret 2017

Catatan Celoteh Pedas Ibunda

Catatan Celoteh Pedas
***********************




***
Bismillahirrahmanirrahim.
Jum'at, 24 Maret 2017. Hari ini ku catat celoteh pedas yang keluar dari mulut seorang ibu, yang tak bisa menghargai tekad baik dari sang anak.

Alkisah, pada senin malam diminggu yang sama sang anak mengajak Ibunda untuk bicara cukup serius, sang anak membuka pembicaraan dengan kontrak kesepakatan bahwa 'Jangan sampai inti dari pembicaraan ini tersebar keluar, ini merupakan tekad ku yang amat serius, jikapun ibu tidak mau menolongku, maka aku hanya meminta ibu untuk bungkam', disepakatilah kalimat itu sebagai babak pembuka.

Sang anak meminta kesepakatan bukan tanpa alasan, bukan karena angkuh, tetapi karena dia tahu kebiasaan ibunda yang mulutnya susah diam.
Sang anak penuh harap dapat dorongan dari kedua orang tua agar dapat membukatkan tekad, merangkak-rangkak meraih harapan yang pernah tersimpan. Sekalipun tak mampu disegi materil, cukuplah doa serta dukungan moril sebagai cambuk semangat perjuangan sang anak.

Pembicaraan terfokus pada tekad yang bergelora, tentang mimpi yang ingin digapai, serta tentang strategi bagaimana tekad akan dijalankan. Sekitar dua jam hingga pembicaraanpun selesai. Ini kali pertama sang anak berbicara tertang tekad kehidupan, tentang langkah perjuangan, serta tentang keadaan yang menjadi impian, kepada Ibunda selaku orang tua.

Jawaban hampa sudah biasa sang anak terima kerap kali berbicara dengan kedua orang tua, jarang bahkan mungkin tidak pernah sang anak menerima sebuah jawaban pasti yang bermakna dukungan penuh keduanya, bahkan sebelum pembicaraan ini berlangsung sang anak telah selesai menebak jawaban apa yang akan diterima, sudah pasti bahasa kusam yang selalu berulang-ulang, sebagai tameng penguatan hati apabila hal itu terjadi. Kenyataanpun menjawab kebenarannya, tak sekedar kusam bahkan bertabur duri dan garam yang mampu membuat luka dan perih yang amat terasa. Sang anak tersenyum kala semuanya selesai, pembicaraan ditutup sesuai kesepakatan awal, 'Kalaupun tak sanggup, aku hanya minta Ibunda bungkam'.

Sang anak masih bersama tekadnya, waktu-waktu dipenuhinya dengan berfikir dari mana jalan untuk mulai memperjuangkan tekadnya. Harapan sang anak teramat besar, konsep perjuanganpun hampir matang, sehingga rasa tak sabar kian bergelora inginkan segera memulai.

Hari Rabu sore, Ibunda mengadakan pengajian Ibu-Ibu sekaligus syukuran dirumah. Sebelum mulai, sang anak menemui seorang Ibu yang biasa memimpin ngaji, Sang anak meminta 'Bu, kalau tidak keberatan, aku ingin meminta dorongan doa agar ada uang 100 jt dari manapun jalannya, aku hanya mengharap keberkahan doa yang dapat menjadi berkah'. Syukur rasanya ketika beliau mau mengabulkannya.

Selesai pengajian ibunda menemui ku, dia bercerita ketika permintaanku di sebutkan sontak banyak jemaah mentertawakan, bahkan beberapa mengatakan seperti layaknya permintaan yang khayal, mustahil, candaan. Aku tersenyum, tak apa bu, yang ku minta kan hanya dorongan doa, bukan aku meminta mereka mengabulkannya, Tuhanku adalah Allah bu, Dialah yang Maha Segala, Dia pula yang mampu mengabulkan permintaan Hamba-NYA.

Rasa senangku amat besar ketika permintaanku terlaksana, bayangan menyelimutiku layaknya ada jalan yang mudah ku lalui untuk menggapai mimpiku. Bertemankan doa, aku selalu membayangkan tekad ku telah berjalan, perjuanganku telah dimulai.

Hari ini yang mengecewakan. Jum'at 24 Maret 2017 takan ku lupa kata pedasnya, kata pedas yang keluar dari mulut seorang Ibunda yang diiringi labrakannya atas kesepakatan awal yang pernah dibuat. Aku amat terhina tanpa sedikitpun merasa dihargai, mimpiku bagai bangkai yang ditendang serta diludahi sumpah serapah nya.
Aku CATAT, akan Ku CATAT....

Sepulang menunaikan Ibadah Jum'at aku merasa ngantuk, lalu rebahan diatas kursi diruang tamu, hingga tak sadar aku tertidur hanya tak teramat lelap. Sekitar satu jam aku tertidur lalu terbangun kembali, Ibunda menyangka aku masih ada dalam lelap tidurku, hingga merasa terbebas bercerita pada kawannya yang sebaya. "Tidak mau, bahkan tak mungkin mendukung tekadnya itu karena tak sesuai inginku, ayahnya pun berkata sama, tidak menyukai tikadnya ini, maka biarkanlah. Yang aku mau iyalah hal yang bla-bla-bla seperti yang lumrah dilakukan banyak orang (memakai bahasa Sunda bernada mengejek kasar)". Kata ini ku catat, aku tak mau terlupa, hingga catatan ini suatu saat akan kubuka dan ku bacakan kembali.

Ini Catatan kekecewaanku, tak akan sembuh dengan perhatian bagaimanapun dari kawan, bagiku ini terlanjur...

#  Jum'at 24 Maret 2017 @14.00. #

Senin, 06 Maret 2017

YUSHID - The Creative Enterprises - HIDROPONIK LENGKONG SUKABUMI




Sukabumi, Minggu-26 Februari 2017
***
Bismillahirrahmanirrahim
Puji serta puja kita panjatkan kepada Allah SWT. Dia lah yang Maha Pelimpah Rahmat serta Maha Pelimpah Hidayah pada Makhluk-Nya. Tiada lagi tandingan atas Kuasa-Nya, Hanya Pada-Nya kita menyembah, memohon pertolongan juga petunjuk, semoga kita senantiasa berada pada jalan Kebenaran yang Diridhoi-Nya sampai pada keabadian.
Salam serta taslim kita curah-limpahkankepada Sang Baginda, sosok petunjuk kebenaran yang memiliki akhlak yang sempurna, yang memberikan gambaran kehidupan yang benar. Dialah Nabiyullah Muhammad SAW, suri tauladan yang baik. Semoga kita tergolong sebagai Ummat yang dicintainya serta mendapatkan safaatnya kelak diakhir zaman. 
***
Hari ini, Minggu 26 Februari 2017 bertempat di Tegaldatar RT. 20/05 Desa Neglasari Kec. Lengkong Kab. Sukabumi. Jawa Barat. Indonesia. InsyaAllah YUSHID-Creative Enterprises jadi dibentuk. Semoga dalam perjalanan serta perkembangannya kedepan diberikan kemudahan serta keberkahan.
*
YUSHID ('arab) yang memiliki arti 'Pujian', bentuk rasa syukur hamba kepada Tuhan-Nya, atas segala limpahan rahmat serta nikmat yang tiada henti-hentinya. YUSHID dikutip dari nama penggagas sendiri, yaitu Yusuf Hidayat. YUSHID dibentuk sebagai identitas yang mewakili usaha kreatif (creative enterprises) yang digagas.
*
Usaha kreatif merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk menujang kebutuhan ekonomi. Selain dari pada itu usaha ini dibarengi dengan hobi, ketika sesuatu menyangkut dengan hobi itu pasti lebih ulet serta menyenangkan menggelutinya, ditambah lagi pasti ada bumbu-bumbu seni dalam mengemasnya.
*
Saat ini, YUSHID mengandalkan dana yang minim, sehingga baru berdiri dengan bentuk yang sederhana, InsyaAllah apabila ada dana akan dikembangkan pada skala yang lebih besar agar dapat memberikan manfaat yang semakin besar pula.
*
Pada saat menimbang untuk menggagas YUSHID, terpikirkan bahwa YUSHID pada perjalanannya akan bergerak pada bidang pertanian, desain grafis, kuliner, serta pengembangan lainnya yang memberikan manfaat serta dapat membantu sesama.
'Sebaik-baik manusia ialah dia yang bermanfaat bagi banyak orang'. Pasti usaha kreatif ini jika berjalan konsisten pada niatan awal yang baik saat menggagas serta tetap pada koridor kebenaran, maka Insya Allah memberikan kemanfaatan.
*
Pada tahapan awal difokuskan pada pertanian kreatif (hidroponik) dengan nama Yushidroponik.

Salam Hormat,

YUSUF HIDAYAT
(Penggagas)

Wa. : 082112680199
FP.fb : Yushid-Creative Enterprises
Bbm. : D82069F7

"Mohon doa serta dukungannya, semoga berkah"

Senin, 16 Januari 2017

DIESNATALIS KE-70 HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


#hmicabangsukabumi
#mari_memberi_solusi

Logo sederhana yang kami buat sebagai bentuk kecintaan kami pada himpunan ini, dalam rangka memperingati Diesnatalis Ke-70 ditahun 2017 ini.

Filosofi dari logo ini sederhananya berharap menjadi sebuah motifasi pada semua anggota HmI agar menjadi kader HmI yang mempunyai ciri.

Kujang yang merupakan senjata pusaka yang mempunyai kedalaman makna, sederhana namun bermakna. Memendam kekuatan besar yang tak semua orang memilikinya.

Pena sebagai alat yang bersahabat dengan keilmuan, mengingatkan kembali agar kita sensntiasa memperdalam keilmuan serta mengamalkan.

Angka 0 (nol) yang mirip dengan telur, tersirat makna bahwa ada sesuatu yang berharga yang terpendam didalam, ada ruh kehidupan yang jika terpecah dari dalam maka akan membawa kebaikan.

Seperti itulah selintas makna dari logo yang kami buat..

YAKUSA

Salam..

Yusuf Hidayat
HMI CABANG SUKABUMI


NB: Kedalaman Makna

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1421236297918152&substory_index=0&id=100000953872781