Wikipedia Telusuri..

Hasil penelusuran

Selasa, 24 Juli 2018

GORESAN CERITA DI MINAJAYA

GORESAN CERITA DI MINAJAYA
Oleh : @Prawira_Sastragusti
***



MINAJAYA- Satu dari sekian banyak pantai yang membanggakan dipajampangan, keindahannya tak jarang menarik para wisatawan mancanegara berkunjung demi memburu cantiknya senja yang disuguhkan pantai minajaya. Tidak hanya itu, minajaya juga memberikan nilai lebih lagi demi memuaskan setiap orang yang menapaki, yaitu sajian alami budaya asli daerah yang ramah dan santun, membuat pengunjung terkesan merasa nyaman dan aman.

Dariku, cerita tentang minajaya terlepas dari itu, ada goresan makna yang berbeda, tentang hal nyata yang terjadi di minajaya.

Minajaya jadi punya cerita yang beda, tidak lagi tentang cantiknya suguhan senja, tidak pula tentang sajian budaya yang ada, karena saat ku kunjungi pantai ini tidak mengharap kehadiran keduanya.

Ku tapaki minajaya berdua, dengan perempuan cerdas 'rembulan' desa cantayan. Seorang mahasiswi asal sukabumi yang berkelana menimba ilmu di timur Indonesia, mengenyam pendidikan difakultas pertanian disalah satu universitas ternama ditanah ambon-maluku, kampus universitas Pattimura.

Dia tamu ku, yang saat dulu ku menapaki tanah ambon dia menjamuku dengan pantas, mengantarku menjajal ambon, dan menyuguhkan cerita-cerita tentang ambon, layaknya seorang tourguide yang sengaja dipesan sebelumnya, padahal nyatanya aku kenal dia disana.

Diwaktu libur panjang akhir semester dia pulang, kembali menginjakkan kaki ditanah sukabumi. Kali ini bagianku, menempatkan diri sebagai orang pribumi yang seharusnya menjamu, namun karena keterbatasanku ku hanya bisa lakukan semampuku.

Minajaya menjadi saksi bisu, tentang dia dengan ku yang kini saling mengenal lebih jauh, amat lebih jauh dari titik perkenalan sebelumnya yang hanya akrab di sosial media saja. Berawal kaku, hingga saat waktu ke waktu berlalu keadaan telah berubah, semuanya mencair berubah lebih seru.

Cerita demi cerita satu persatu kehabisan kata, namun karena telah terbiasa, hingga bak bagaikan tiada jeda selalu saja memunculkan tema untuk bicara. Kekakuan awal yang sebelumnya hadir menengahi seperti telah terusir pergi, sampai-sampai satu malam tidak terasa habis bersambut pagi.

Canda berbuah tawa tak terhindarkan lagi, banyak kata menghasilkan tawa, banyak tawa menghasilkan cerita. Sekarang dia dengan ku tak lagi kaku, bahkan istimewanya dia berkenan layaknya menjadi adik ku.

Semuanya menyenangkan, se-senangnya aku yang selalu memburu akrabnya persahabatan. 

Tapi nyatanya keadaan tak selamanya indah, bagai gelinding roda yang kadang posisi ada diatas namun bisa juga jadi dibawah. Disaat-saat kebersamaan diminajaya akan berakhir tiba-tiba posisi jadi dibawah, yang sebelum-sebelumnya bahagia berubah menjadi suram, tidak ada lagi canda-tawa, bahkan sampai barisan katapun membeku, suasana menjadi begitu dingin sedingin udara dini hari yang masih gelap menunggu hadirnya sang mentari untuk menghangatkan, mencairkan kebekuan.

Namun itu tidak begitu lama, hanya bagai figuran yang numpang acting sebentar saja. Semuanya kembali membaik, kembali hangat dan mencair setelah sang mentari hadir menghangatkan pagi.

Kuatnya ikatan persahabatan tidak akan lepas hanya karena kekesalan. Dalam persahabatan, rasa kesal, bentroknya pemahaman, perbedaan keinginan, semuanya hanya perayu yang menarik ikatan persahabatan menjadi kian erat.
***

Salam sayangku, salah satu dari sekian banyak sahabatmu...
@prawira_sastragusti, SUKABUMI 2018

Senin, 23 Juli 2018

REMBULAN DESA CANTAYAN

REMBULAN DESA CANTAYAN
Oleh : @prawira_sastragusti
***





REMBULAN - Begitulah tepatnya gelar yang seharusnya disematkan. Dia masih remaja, yang kini terpaksa dewasa akibat lika-liku jalan hidup yang nyata, juga ditambah perjuangannya dalam menggapai cita-cita.

Dia 'Rembulan', dikenal sebagai perempuan ceria dengan banyak cerita. Hidupnya bak bagai teka-teki, yang tak jarang membuat orang gagal tebak tentangnya. Kelincahannya dalam mengarungi jalan hidup tak jarang memaksa orang berdecak kagum, bahkan kadang menggeleng-gelengkan kepala.

Diusia yang masih muda selepasnya dari masa SMA, Rembulan menguatkan tekad berkelana ke- timur Indonesia, seorang diri, meninggalkan orang-orang tercinta yang terpaksa dipisahkan oleh jarak, demi menimba pengetahuan disalah satu universitas ternama disana. Hingga kini setelah study-nya hampir kelar, rembulan nampak telah berubah, tak lagi seperti dulu, bak bagai kupu-kupu yang lepas dari kungkungan kepongpongnya, dan telah terbiasa terbang mengepak-ngepakan sayap demi menyapa akrab alam yang bebas.

Rembulan telah belajar banyak hal, mengenal kenyataan, menghapal perasaan, dan memahami arti dari kehidupan. Jalan hidupnya kini tidaklah sama dengan orang biasa disekitarnya, rembulan seakan memiliki jalan alternatif yang mampu membawanya sampai pada titik harapan.

Perjalanannya kedepan tidak lagi hampa, semuanya telah terkonsep rapi, yang mana setiap langkah dan bahkan setiap hembusan nafas yang mengembung-kempiskan paru-parunya menjadi ikhtiar nyata dalam menapaki tahapan anak tangga setahap demi setahap, sama halnya barisan-barisan kata yang digoreskannya dalam secarik kertas.

Dialah 'Rembulan', yang nanti akan menerangi gelapnya desa cantayan, memperjuangkan tiap-tiap harapan kesejahteraan, mengganti ketertinggalan dengan kemajuan yang membahagiakan.
Dialah 'Rembulan', Gadis Bunga Desa dari Cantayan.
***

Salam Kagumku, Orang ditakdirkan mengenalmu.
@prawira_sastragusti, SMI 2018

Jumat, 13 April 2018

SAYA SEPAKAT TRADISI CURAT-CORET PASCA PELULUSAN DILESTARIKAN..!!!
Oleh : YUSUF HIDAYAT
***



Pelulusan merupakan momentum berharga yang selalu dinanti para pelajar setelah selesainya seluruh tahapan ujian sekolah, hal ini bagaikan hajat besar bagi mereka sebelum tibanya perpisahan. Maka dari itu, tentunya mereka berhak untuk merayakan.

Tibanya masa pelulusan bagi pelajar setingkat SMP dan SMA menjadi pertanda tradisi Curat-Curet sebagai kebiasaan lama pun hadir kembali ditengah-tengah kita. Anehnya hari ini, tradisi ini kok lantas dibenci, dikekang oleh para guru dan orang tua/wali murid serta malah seakan-akan seperti berusaha untuk dihilangkan. Kok aneh...!!!
Tradisi curat-coret yang biasanya dimaknai para pelajar sebagai bentuk ekspesi dan rasa syukur atas tuntasnya masa pendidikan ditingkatnya, kini malah seakan-akan ini menjadi tradisi haram yang wajib dihindari. "Padahal saya pikir lebih baik biarkan saja mereka berekspresi dengan curat-coret, apalagi jika itu menjadi kemauan mereka sendiri, hanya saja kita orang yang lebih dewasa harus pandai-pandai mengarahkannya".

Waktu yang tidak sebentar pastinya  telah mereka lalui selama menempuh proses pembelajaran, dan sekarang waktu tersebut beserta seluruh tahapannya telah selesai mereka lakukan. Berbagai proses serta tahapan yang telah mereka lalui itu tentunya tidak semudah apa yang terbayangkan. Dari mulai pertama melakukan perjuangan dengan membiasakan diri untuk bangun pagi, segera mandi, terus sarapan, lanjut bergegas untuk berangkat agar sampai kesekolah tanpa terlambat. Ini tidak mudah loh ya, disini mereka harus bekerja keras melatih diri agar komitmen dan konsisten.

Kedua, perjuangan memfokuskan pikiran untuk belajar selama waktu yang telah ditentukan. Disini mereka harus berlatih agar disiplin terhadap waktu, disiplin terhadap aturan sekolah, terhadap guru dan lainnya. Selain itu mereka juga harus berjuang melawan rasa lelahnya pikiran selama jam pelajaran berlangsung serta rasa jenuh atas kebiasaan yang terus berulang dalam keadaan yang sama saja.

Ketiga, tugas pekerjaan rumah (PR). Diluar jam pelajaran sekolah tidak jarang mereka masih saja  disibukkan dengan titipan tugas yang harus dikerjakan dirumah. Betapa padatnya keseharian mereka, apalagi bagi pelajar yang juga sambil menimba ilmu agama selepas sekolah. Sedikit sekali celah untuk mereka merasakan kebebasan sebagai diri mereka sendiri, mereka terus-menerus ditempa dengan proses pembelajaran.

Keempat, Ujian Sekolah. Setelah selesainya materi pembelajaran yang ditentukan, tahap selanjutnya mereka akan diuji oleh guru untuk mengetes kemampuan hasil dari proses pembelajaran yang telah terlewati, mulai dari ujian harian sampai ujian per semester, berupa tulisan, lisan sampai ujian praktek. Lagi-lagi pikiran mereka dipaksa bekerja keras untuk melewati prosesnya, kadangkala dalam proses ini tidak jarang mereka sampai pada kondisi 'stres' akibat perasaan tertekannya pikiran.

Semua itu tentunya hanya gambaran umumnya saja, masih banyak lagi perjuangan lainnya. Bayangkan saja selama tiga tahun lamanya berproses dalam pembelajaran, tidak mungkin akan terus-menerus berjalan dengan keadaan yang sama saja, malah besar kemungkinan semakin diperketat untuk meningkatkan kedisiplinan.

Selesai menelaah sedikit gambaran diatas, mengenai betapa beratnya proses pembelajaran yang mereka lakukan, seharusnya kini kita sepakat untuk sama-sama menganggap wajar jika para pelajar kemudian berekspresi dengan curat-coret begitu dinyatakan lulus pada saat pelulusan.

BAGAIMANA...!!,, Sepakat untuk dilestarikan bukan ...???!!

Besar keinginan saya, kalian bisa sepakat dengan apa yang saya tawarkan karena ini tidaklah negatif dan tidak merugikan tentunya. Jika kalian belum juga sepakat, baiklah akan saya perjelas kembali maksud yang ingin saya sampaikan.

Jika jeli memperhatikan, diakhir paraghraf kedua ada kalimat saya kurung menggunakan pasangan tanda kutif, sebagai penanda fokus bahasan dari maksud yang ingin disampaikan. Bahwa "saya pikir lebih baik biarkan saja mereka berekspresi dengan curat-coret, apalagi jika itu menjadi kemauan mereka sendiri, hanya saja kita orang yang lebih dewasa harus pandai-pandai mengarahkannya". Curat-coret yang saya maksudkan disana adalah dalam bentuk tulisan-tulisan hasil dari pemikiran para pelajar, bukan curat-coret pakaian pakai pilox ya.

Inilah yang saya harapkan dapat dilakukan setiap pelajar diakhir masa sekolahnya, mereka dapat membuat tulisan-tulisan sebagai bentuk ekspresi mereka masing-masing, bisa dalam bentuk sajak, sastra, cerpen, artikel, novel dan lain sebagainya yang dapat menjadikan setiap momen yang telah mereka lewati menjadi abadi. Karena setelah lamanya waktu berlalu, rasa kangen akan masa itu akan datang kembali. Apalagi saat-saat reuni, setiap cerita masa lalu itu akan menjadi cerita manis yang diputar kembali, jika saja cerita itu diabadikan, tentunya tidak akan ada momen yang hilang ketika diceritakan.

Disinilah maksud peran orang yang lebih dewasa harus pandai-pandai mengarahkan, seperti yang saya tuliskan sebelumnya. Orang tersebut bisa para guru sekolah, peran orang tua/wali ataupun orang-orang sekitar yang memiliki pemahaman lebih mengenai ini untuk mengarahkan mereka pada hal yang baik, yaitu curat-coret membuat tulisan-tulisan yang bisa bermanfaat hasilnya.

Tentu saya percaya kalau dunia pendidikan saat ini lebih baik lagi dari zaman saya dulu, sehingga semakin besarnya kemungkinan keinginan ini akan dengan mudah terealisasi jika saja memang diinginkan. Saya pikir jika saja para pelajarnya sudah terlatih dengan baik dari sebelumnya, maka kekhawatiran saat pelulusan akan diwarnai corat-coret pilox itu berkurang, salah satu solusinya ya mengarahkan pelajar pada curat-coret berupa bentuk tulisan.

Untuk menggiring para pelajar (terlatih) pada hal yang baik ini tentunya memang sedikit sulit kalau bukan keinginan yang muncul dari diri mereka sendiri. Namun hal ini juga bisa saja disiasati tentunya, salah satunya dengan mengadakan event menarik disekolah pada saat pelulusan, yaitu lomba 'menulis kenangan' dalam macam-macam versi misalnya, yang kemudian hasil karya setiap pelajar dipentaskan diatas panggung.
***
............................SEKIAN..........................
.....................TERIMAKASIH......................

Demikianlah sedikit curah gagasan dari saya, semoga ada manfaatnya sekalipun kecil.

Ttd,
YUSUF HIDAYAT
(Penulis acak-acakan)