Menempuh pendidikan setinggi-tingginya zaman kekinian ini bukan hal aneh lagi bukan..?!!, generasi muda bersemangat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan jika memang mampu inginnya setinggi-tingginya sehingga menjadi paling tinggi gelarnya dibanding lainnya.
Seakan sudah menjadi tren kekinian, menempuh pendidikan tinggi hanya untuk menggugurkan tanggung jawabnya sebagai orang yang mengikuti perkembangan zaman saja. Lupa akan apa yang namanya "TriDharma Perguruan Tinggi".
Mungkin iya.. Ada juga mereka yang hanya mengejar gelar, agar namanya menjadi berwibawa dengan tambahan gelar yang disandangnya hasil jenjang perguruan tinggi, gelar diawal dan akhir dari namanya, hingga patut orang harus menghargainya. Juga ada yang mengejar gelar hanya untuk mendapatkan jabatan duniawi lebih tinggi, karna memang era dewasa ini gelar berpengaruh akan jabatan.
Mereka yang berpendidikan tinggi yang mewajibkan sekitarnya harus menghormati kepintaran atas tinggi gelarnya. Mereka begitu dekat dengan masyarakat, begitu baik dan peduli sama masyarakat. Ternyata tiba waktunya mereka melakukan semua karna ada inginnya, tujuan mengikat hati masyarakat agar kelak memilihnya sebagai wakil dalam kedudukan politik. Ingat sebelum bertahta mereka menjanjikan berjuta bualan manis membuai isi kepala setiap masyarakat yang dekat dengannya.
Sebagai pembalasan budi, masyarakat memilihnya hingga beliau yang patut dihargai itu mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Orang yang pernah dekat dengannya merasa senang dan ikut berbangga atas keberhasilannya, penuh harap beliau itu lah sosok malaikat mereka yang akan mensejahtrakan mereka masyarakat kecil. Tetapi ternyata TIDAK..!!, bagaikan kacang lupa kulitnya, beliau melupakan masrakat dan hanya pura-pura sibuk dengan kedudukan politiknya. Dengan masyarakat kecil, ohhh ... maaf, kini bukan levelnya lagi, tau diri saja. Kasarnya demikian lah bahasa pengganti kesombongan mereka yang kelakuannya demikian.
Betapa munafiknya, kemana janji-janji manismu yang lalu kau umbar hingga keringnya tenggorokanmu, bau mulutmu tak kami hiraukan karna janjimu melebur mewangi, janji yang kami simpan dalam hati bak berubah jadi duri, sakit teramat sakit.
Betapa kau merakan begitu pintar membohongi bahwa kau juga bagian dari kami yang padahal dusta. Kau hanyalah sampah bersama mereka-mereka kumpulan orang - orang munafik.
Inspirasi - QS. AL-BAQARAH:9
Wikipedia Telusuri..
Hasil penelusuran
Kamis, 24 Desember 2015
Rabu, 23 Desember 2015
ASRI TANAH KELAHIRANKU INI
Terhampar hijaunya dedaunan seujung jarak pandang mata, bak bagaikan kaki langit ada disana terganjal oleh tegaknya pepohonan.
Bambu, pinus, kelapa, pisang dan pohon lainnya juga rerumputan hijau tersebar menyejukan mata, sungguh indah negeri ini Tuhan, sungguh indah daerah tempat kelahiranku.
Rasa syukur terpanjat hanya pada-MU Rabb Sang Maha Pencipta, aku senang dan bangga jadi anak desa, dapat menghirup udara pagi yang segar ditambah khas nyanyian merdu serangga-serangga, tanpa banyaknya polusi udara dari pabrik-pabrik industri kepunyaan luar sana, seperti di kota.
Tuhan, aku berharap, meminta dan berdo'a hanya kepada-MU yang Maha Melihat serta Maha Mengetahui, kuatkan hamba dan orang-orang disekitar hamba, kuatkanlah jiwa raga kami dan hati kami agar senantiasa kuat menjaga keindahan ini, agar tidak tergiur oleh buayan dan belayan kenikmatan dunia sesaat yang dapat menjadi penyebab alih fungsi tanah ini. Aku dan mereka yang sama dengan inginku yang berharap tanah ini tetaplah asri seperti ini, kami bahagia seperti ini, tanpa adanya pembangunan gedung-gedung tinggi dan pabrik industri yang berpolusi. Pintarkan kami ya Rabb yang Maha Mengetahui semua keinginan hamba-NYA, agar kami tak mempan dicekoki kebohongan mulut-mulut manis mereka..
Sopan-santun, ramah-tambah, tegur-safa dan kebersamaan ini menjadi khas suasana, sungguh-sungguh indah dan nyaman. Berkumpul, ngelantur, senyum, canda sampai tawa bersama orang-orang desa begitu tulus terasa, saat senang mereka benar-benar senang dan begitupun lainnya, tanpa sebuah dusta kemunafikan yang dibuat untuk mengelabui sekitarnya seperti yang dilakukan mereka-mereka disana.
Jangan... Aku memohon kepada-MU Rabb, jangan hukumi kami atas kesalahan-kesalahan kami dengan merubah keindahan ini dengan kerukasakan disana-sini. Ampuni kami Ya Rabb yang Maha Pemaaf, kami memohon ampunan hanya kepada-MU, jangan uji kami dengan cobaan yang dapat membuat kami terlena dan salah jalan sehingga menyebabkan kerusakan. Tunjukanlah kami jalan yang lurus.
Maaf... Maafkanlah kami ini Ya Rabb, yang terkadang lupa cara bersyukur atas nikmat-MU. Maafkan kami, yang terkadang lupa memohon pertolongan-MU dalam setiap tindak langkah kami. Jangan Engkau hukumi kami dengan hukuman pedih, kami hamba-MU yang tak luput dari salah dan dosa. Sadarkan kami Ya Rabb, agar kami senantiasa ingat kepada-MU, selalu mengucap syukur pada-Mu dan memohon pertolongan hanya pada-MU.
Berlimpah kebahagiaan yang tak terhitung yang sudah kami rasakan, kami nikmati, tetapi kami terkadang lupa caranya berterimakasih pada Sang Maha Pemberi. Lewat catatan ini, aku mewakili mereka yang mungkin lupa, kami berterimakasih pada-MU Ya Rabb atas limpahan rahmat dan hidayah-MU yang telah Engkau limpahkan pada kami, hanya Engkaulah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Amiinn....
"SALAM LESTARI DARI TANAH KELAHIRANKU INI"
TEGAL DATAR
"Salam Manisku
Ttd,
YUSUF HIDAYAT
Bambu, pinus, kelapa, pisang dan pohon lainnya juga rerumputan hijau tersebar menyejukan mata, sungguh indah negeri ini Tuhan, sungguh indah daerah tempat kelahiranku.
Rasa syukur terpanjat hanya pada-MU Rabb Sang Maha Pencipta, aku senang dan bangga jadi anak desa, dapat menghirup udara pagi yang segar ditambah khas nyanyian merdu serangga-serangga, tanpa banyaknya polusi udara dari pabrik-pabrik industri kepunyaan luar sana, seperti di kota.
Tuhan, aku berharap, meminta dan berdo'a hanya kepada-MU yang Maha Melihat serta Maha Mengetahui, kuatkan hamba dan orang-orang disekitar hamba, kuatkanlah jiwa raga kami dan hati kami agar senantiasa kuat menjaga keindahan ini, agar tidak tergiur oleh buayan dan belayan kenikmatan dunia sesaat yang dapat menjadi penyebab alih fungsi tanah ini. Aku dan mereka yang sama dengan inginku yang berharap tanah ini tetaplah asri seperti ini, kami bahagia seperti ini, tanpa adanya pembangunan gedung-gedung tinggi dan pabrik industri yang berpolusi. Pintarkan kami ya Rabb yang Maha Mengetahui semua keinginan hamba-NYA, agar kami tak mempan dicekoki kebohongan mulut-mulut manis mereka..
Sopan-santun, ramah-tambah, tegur-safa dan kebersamaan ini menjadi khas suasana, sungguh-sungguh indah dan nyaman. Berkumpul, ngelantur, senyum, canda sampai tawa bersama orang-orang desa begitu tulus terasa, saat senang mereka benar-benar senang dan begitupun lainnya, tanpa sebuah dusta kemunafikan yang dibuat untuk mengelabui sekitarnya seperti yang dilakukan mereka-mereka disana.
Jangan... Aku memohon kepada-MU Rabb, jangan hukumi kami atas kesalahan-kesalahan kami dengan merubah keindahan ini dengan kerukasakan disana-sini. Ampuni kami Ya Rabb yang Maha Pemaaf, kami memohon ampunan hanya kepada-MU, jangan uji kami dengan cobaan yang dapat membuat kami terlena dan salah jalan sehingga menyebabkan kerusakan. Tunjukanlah kami jalan yang lurus.
Maaf... Maafkanlah kami ini Ya Rabb, yang terkadang lupa cara bersyukur atas nikmat-MU. Maafkan kami, yang terkadang lupa memohon pertolongan-MU dalam setiap tindak langkah kami. Jangan Engkau hukumi kami dengan hukuman pedih, kami hamba-MU yang tak luput dari salah dan dosa. Sadarkan kami Ya Rabb, agar kami senantiasa ingat kepada-MU, selalu mengucap syukur pada-Mu dan memohon pertolongan hanya pada-MU.
Berlimpah kebahagiaan yang tak terhitung yang sudah kami rasakan, kami nikmati, tetapi kami terkadang lupa caranya berterimakasih pada Sang Maha Pemberi. Lewat catatan ini, aku mewakili mereka yang mungkin lupa, kami berterimakasih pada-MU Ya Rabb atas limpahan rahmat dan hidayah-MU yang telah Engkau limpahkan pada kami, hanya Engkaulah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Amiinn....
"SALAM LESTARI DARI TANAH KELAHIRANKU INI"
TEGAL DATAR
"Salam Manisku
Ttd,
YUSUF HIDAYAT
Selasa, 22 Desember 2015
KULTUR LEMBUR SIMKUR
Bertani sudah jadi aktivitas sehari-hari, penuh lumpur dan gatal sudah jadi hal biasa, pergi saat menyambut mentari dan pulang menyambut sang rembulan, cucuran keringat keluh kesah dilengkapi kenangan kulit-kulit yang melepuh terbakar panasnya sang mentari. Semua hal itu tidaklah jadi hal aneh lagi dalam kehidupan orang kampung, orang kecil, orang papan bawah dan merekalah orang-orang terpinggirkan dari nyatanya bukti janji-janji manismu para pemangku jabatan kenegaraan.
Sesuap nasi terkadang menjadi satu tujuan pasti yang mereka tanamkan dalam lubuk hati, sebagai sebuah motivasi kerja kerasnya agar bisa makan hari ini. Merekalah rakyat kecil dengan pendidikan yang hanya dini tanpa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga pikirannya pun kadang cukup dini selalu mencukupkan lumayan asal ada untuk hari ini.
Tidaklah semua orang kampung menjadi petani kerdil, tidak semua bisa ditindas, sebagian ada juga mereka yang pintar yang mampu menyelamatkan diri dari kejamnya negri ini, yang jagoan menggerakan telunjuknya untuk melakukan apa yang diinginkan.
Mereka yang pintar mungkin terlalu pintar atau entah apalah sebutannya yang pantas ku ucapkan buat mereka yang mungkin terhormat inginnya, entah mereka pelajari tentang bagian strata sosial dengan piramida sosialnya yang terlalu memahami atau salah kaprah memahami..?!!, miris ketika mereka yang pintar sama egoisnya sama inginnya sama isi dalam benaknya dengan mereka keparat penindas rakyat. Tidakkah mereka saling membutuhkan..?!!, tidakkah mereka saling menguntungkan jika tingkahnya berdasarkan nurani..?!!, bisa saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi. Bukankah bumi pertiwi ini pernah dihuni oleh orang yg cinta kerjasama, bergotong-royong saling membantu sesama tanpa membedakan tahta dan level sosial, kemana mereka..?!!, apakah mereka diculik dan diasingkan agar kebiasaan baru dapat diterapkan, ataukah mereka mati meninggalkan dunia ini tanpa mewariskan kebiasaan-kebiasaan baiknya pada penerus negri ini..?!!. Tetapi masalah membantu sesama memang saat ini juga masih ada yang saling membantu sesama bukan..?!!, ya, mereka yang saling membantu hanya sesama levelnya masing-masing, sama-sama dalan keegoisnya.
Tidak rindukah pada kebersamaan..?!!, tidak inginkah merasakan indahnya dalam singgasana kesejahtraan dengan bersama-sama dan setara..?!!, senyum senang bersama, bercanda tawa bersama, duduk berkumpul bersama, saling mencintai dan saling peduli di seluruh negri ini. Siapakah yang patut untuk disalahkan..?!!, apakah guru-guru, yang hanya mengajarkan dan menggambarkan arti sebuah kesuksesan kehidupan tanpa menyubit sedikit harus serta kebersamaan dan keperdulian..?!!, atau memang murid-muridnya lah yang terlalu berlimpah ilmu pengetahuan tanpa tertampung, sehingga arti kebersamaan, keperdulian dan gotong-royong yang telah diajarkan pada sekolah dasar tumpah dan hilang dalam benaknya..?!!.
Kalau sudah seperti ini siapakah atau apakah yang patut untuk disalahkan tanpa dia yang dikorbankan untuk dijadikan sekedar kambing hitam kemunafikan..?!!, sulit untuk menyadarkan, dalam hati nuraninya pasti masih ada rasa ingin akan kebersamaan, namun terlalu sibuk meladeni ambisi keegoisan, sehingga kini "hidup bersama tanpa kebersamaan", sama-sama sibuklah dengan egonya masing-masing tanpa mau melirik orang disekitarnya, "Acuh".
Mereka kini jago menuntut, berteriak dengan penuh lantang "KEMANAKAH KESEJAHTRAAN NEGERI INI..?!!, KAMI SUDAH MUAK DENGAN PENINDASAN..!!!". Tetapi tanpa mau berusaha dan bekerjasama untuk memperjuangkan semuanya, padahal jika "Gotong-Royong sama-sama diniatkan dan dilakukan bersama tanpa ada keegoisan didalamnya, semua perubahan apapun dapat dilakukan tanpa waktu lama dan kesejahtraan dapat dirasakan segera"..!!!
Salam Manis
Ttd,
YUSUF HIDAYAT
Sesuap nasi terkadang menjadi satu tujuan pasti yang mereka tanamkan dalam lubuk hati, sebagai sebuah motivasi kerja kerasnya agar bisa makan hari ini. Merekalah rakyat kecil dengan pendidikan yang hanya dini tanpa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga pikirannya pun kadang cukup dini selalu mencukupkan lumayan asal ada untuk hari ini.
Tidaklah semua orang kampung menjadi petani kerdil, tidak semua bisa ditindas, sebagian ada juga mereka yang pintar yang mampu menyelamatkan diri dari kejamnya negri ini, yang jagoan menggerakan telunjuknya untuk melakukan apa yang diinginkan.
Mereka yang pintar mungkin terlalu pintar atau entah apalah sebutannya yang pantas ku ucapkan buat mereka yang mungkin terhormat inginnya, entah mereka pelajari tentang bagian strata sosial dengan piramida sosialnya yang terlalu memahami atau salah kaprah memahami..?!!, miris ketika mereka yang pintar sama egoisnya sama inginnya sama isi dalam benaknya dengan mereka keparat penindas rakyat. Tidakkah mereka saling membutuhkan..?!!, tidakkah mereka saling menguntungkan jika tingkahnya berdasarkan nurani..?!!, bisa saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi. Bukankah bumi pertiwi ini pernah dihuni oleh orang yg cinta kerjasama, bergotong-royong saling membantu sesama tanpa membedakan tahta dan level sosial, kemana mereka..?!!, apakah mereka diculik dan diasingkan agar kebiasaan baru dapat diterapkan, ataukah mereka mati meninggalkan dunia ini tanpa mewariskan kebiasaan-kebiasaan baiknya pada penerus negri ini..?!!. Tetapi masalah membantu sesama memang saat ini juga masih ada yang saling membantu sesama bukan..?!!, ya, mereka yang saling membantu hanya sesama levelnya masing-masing, sama-sama dalan keegoisnya.
Tidak rindukah pada kebersamaan..?!!, tidak inginkah merasakan indahnya dalam singgasana kesejahtraan dengan bersama-sama dan setara..?!!, senyum senang bersama, bercanda tawa bersama, duduk berkumpul bersama, saling mencintai dan saling peduli di seluruh negri ini. Siapakah yang patut untuk disalahkan..?!!, apakah guru-guru, yang hanya mengajarkan dan menggambarkan arti sebuah kesuksesan kehidupan tanpa menyubit sedikit harus serta kebersamaan dan keperdulian..?!!, atau memang murid-muridnya lah yang terlalu berlimpah ilmu pengetahuan tanpa tertampung, sehingga arti kebersamaan, keperdulian dan gotong-royong yang telah diajarkan pada sekolah dasar tumpah dan hilang dalam benaknya..?!!.
Kalau sudah seperti ini siapakah atau apakah yang patut untuk disalahkan tanpa dia yang dikorbankan untuk dijadikan sekedar kambing hitam kemunafikan..?!!, sulit untuk menyadarkan, dalam hati nuraninya pasti masih ada rasa ingin akan kebersamaan, namun terlalu sibuk meladeni ambisi keegoisan, sehingga kini "hidup bersama tanpa kebersamaan", sama-sama sibuklah dengan egonya masing-masing tanpa mau melirik orang disekitarnya, "Acuh".
Mereka kini jago menuntut, berteriak dengan penuh lantang "KEMANAKAH KESEJAHTRAAN NEGERI INI..?!!, KAMI SUDAH MUAK DENGAN PENINDASAN..!!!". Tetapi tanpa mau berusaha dan bekerjasama untuk memperjuangkan semuanya, padahal jika "Gotong-Royong sama-sama diniatkan dan dilakukan bersama tanpa ada keegoisan didalamnya, semua perubahan apapun dapat dilakukan tanpa waktu lama dan kesejahtraan dapat dirasakan segera"..!!!
Salam Manis
Ttd,
YUSUF HIDAYAT
Rabu, 25 November 2015
PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
Betapa mulianya engkau guruku, kau cucurkan keringat berangkat, berjuang demi mengisi kepalaku. Tak hentinya kau memikirkan masa depanku sebagai muridmu, kau sebut namaku dalam bisik doamu. Kau adalah manusia paling berjasa dalam hidupku, tanpamu apalah aku jadinya. Kau adalah pelita penerang dalam kegelapanku, kau sosok malaikat yang menuntunku dan menunjukkan padaku tentang jalan yang lurus.
Guruku, aku adalah satu dari sekian banyak muridmu. Maafkanlah aku, jika aku mengecewakanmu, tak seperti apa yang kau inginkan, tak seperti apa yang kau dambakan.
Guruku, hanya ucapan terimakasih yang bisa ku berikan, terimakasih dari muridmu yang tidak terlalu berharga untukmu. Aku doakan, semoga usia dan rejeki para guruku diberkahkan tuhan, amal ibadahnya dilipat gandakan.
Amiiinnn...!!!,,
SELAMAT HARI GURU..
Salam Manisku,,
TTD
YUSUF HIDAYAT
Guruku, aku adalah satu dari sekian banyak muridmu. Maafkanlah aku, jika aku mengecewakanmu, tak seperti apa yang kau inginkan, tak seperti apa yang kau dambakan.
Guruku, hanya ucapan terimakasih yang bisa ku berikan, terimakasih dari muridmu yang tidak terlalu berharga untukmu. Aku doakan, semoga usia dan rejeki para guruku diberkahkan tuhan, amal ibadahnya dilipat gandakan.
Amiiinnn...!!!,,
SELAMAT HARI GURU..
Salam Manisku,,
TTD
YUSUF HIDAYAT
Sabtu, 21 November 2015
Manakah Bukti JANJI-JANJI MANISMU Dulu..???
Saat dulu dibangku pendidikan dasar, ku hanya duduk dicekoki pepatah-pepatah yang katanya menanamkan kedisiplinan bekalku dimasa depan.
Diceritakannya oleh guru-guruku sejarah tentang kehidupan orang dulu, katanya buat motifasi agar ku bisa berusaha berjuang dari cerita sukses mereka.
Mereka menjanjikan, jika ku banyak belajar maka aku akan menjadi sukses, ketika mereka mengucapkan itu, mereka seakan menjanjikan akan menjadi tamengku untuk menuju keberhasilan.
Mereka bilang padaku jangan lupa bertegur sapa jika bertemu dijalan, saling menghargai dan saling menghormati, terasa indah bukan...???,
Begitu indah rasanya khal itu dulu ku terima, kutanamkan dalam diriku setiap apa yang mereka katakan, aku yakin mereka pasti mengawalku selama hidup.
TERNYATA TIDAK...!!!!
Apa yang mereka ajarkan padaku hanyalah bermakna pelajaran, apa yang mereka berikan hanya syarat menggugurkan kewajiban, mereka inginkanku melakukan apa yang mereka katakan, tapi apa yang mereka katakan tak mampu mereka tanamkan dalam kehidupan.
Dusta Bukan...!!!
Mereka mengajarkanku baik, tapi mereka melakukan hal yang tak baik depan ku sendiri. Mereka mengajarkanku memaafkan tetapi mereka menghukumiku dengan hal kepedihan ketika ku melakukan kesalahan. Mereka mengajarkanku bahwa korupsi itu bukan hal benar tetapi mereka masih terima apa itu sogokan. Mereka mengajarkanku saling menyapa tetapi ternyata mereka memasang muka masam ketika ku sapa. Inilah segelintir kekecewaanku padanya, maafkan aku muridmu yang tolol tidak tau berterimakasih.
Hingga ku bingung manakah arti ''sesuatu yang benar'' itu seperti apa, karna ketidak sinkronan kata dan tingkah. Aku labil, aku bingung, pelajaran hidup yang tertanam kini adalah pelajaran dari sebuah kehidupan nyata. Ketika kalian yang menjadi panutanku penuntunku melakukan hal demikian keji maka jangan salahkanku muridmu generasi penerusmu jika ku ikuti kebiasaan kalian.
Begitu Dustanya Kalian, Bagaikan lilin yang berusaha menerangi dengan membakar dirinya sendiri. Agungkah..??, aku rasa TIDAKKK...!!!
Sengaja ku racuni pikiran-pikiran kalian pembaca dengan kepicikan, apakah kalian merasakan keanehan atau malah membenarkan begitu saja dengan apa yang ku katakan..??
Aku ingin kalian tidak hanya menerima apa yang mereka katakan, tidak hanya menelan mentah apa yang mereka berikan, mereka bukanlah malaikat yang tak pernah salah, mereka juga bukan syetan yang selalu menyuruh salah, mereka manusia yang sama tak selamanya benar ataupun selamanya salah.
Mereka itu pahlawan tanpa tanda jasa.
Benarkah..??!!,,
Kenyataan sekitar adalah jawabannya.. punya jawaban masing-masing bukan.. ??
Salam manisku,,
TTD
YUSUF HIDAYAT
Kamis, 19 November 2015
Mesra dalam KEDINGINAN
Suasana gelap mencekam, malam tanpa bintang-bintang, hening disekitar menambah khasnya perkampungan. Ditengah suasana kian berkumpul daku bersama kawan disaat yang lain terlelap bersembunyi dibalik selimut-selimut tebal dari terpaan angin dingin.
Dirumah-rumah sekitar sudah tak lagi terdengar satupun gertakan suara. Mereka lelah, mereka lelap beristirahat untuk esok pergi keladang-ladang tempat mereka mencari nafkah.
Bersama kawan-kawan, aku masih berkumpul, berpikir dan berjuang, kami ingin mereka senang, kami ingin mereka bahagia, kami ingin mereka sejahtera. Kami bukan berandal yang bergadang berhura-hura, kami ingin mengabdikan diri demi negri ini, negri yang indah namun tak semua melihat keindahannya, negri yang nyaman namun tak semua orang merasa nyaman. Itulah serpihan kecil dari tekad yang begitu menggunung dalam benak kami.
Kami ingin menetes mata-mata mereka dengan obat yang bisa membuat mereka melek, menyembuhkan yang buta, memperjelas yang katarak dan membersihkan mata mereka yang kelilipan dengan kotoran debu asing. Kami ingin kita bangsa indonesia bahagia bersama, senang gembira bersama, nyaman aman bersama-sama. Kami ingin kita sama-sama menikmati surga indonesia.
Inilah makna indah dari kemesraan kita yang akan membuat kita bahagia, TANPA sentuhan tangan-tangan kasar asing yang menularkan virus-virus yang membuat kita alergi.
Kita adalah kita, kita bangsa indonesia, bangsa yang katanya makmur sejahtera yang nyatanya belum semua merasakannya, kata indah yang hanya sekedar wacana mereka. Mereka, ya mereka para raksasa rakus yang hanya memikirkan kesejahtraan dirinya.
Para elit politik yang hanya mementingkan untaian gerbongnya.
Bukan hal mudah menyadarkan bangsa yang telah dicuci otaknya, diisinya dengan budaya-budaya berkedok indah yang diadopsinya dari cekokan asing yang ingin menjamah kekayaan negri ini. Tempat lahir kita, tempat tinggal kita, tempat kita bernaung dan bercanda mesra versi kita, yang dirasa sempurna padahal jauh dari sempurna.
Andai aku seorang pemimpin yang dipatuhi sama kalian semua, maka aku akan berkata ''ayo kawan-kawanku (Bukan ayo masyarakat bawahanku) kita sama-sama berjuang, bangkit dari keterpurukan dan bersama melompat pada jurang kebahagiaan''. Aku mengatakan jurang, karna bukankah kita lebih bahagia hidup dijurang, maka aku akan mengajak kalian bersama melompat dan aku sendiri yang akan mendahului melompat, agar kalian percaya, bahwa kita akan menenggelamkan diri bersama-sama pada lautan didasar jurang, hingga kita tersadar dengan pengapnya udara, dinginnya keadaan, lapar juga kehausan.
Aku yakin, setelah kita sadar bersama, maka akan berjuang bersama, bangkit bersama, berbondong, bergotong-royong untuk memanjat kembali pada kebahagiaan yang sesungguhnya, menyingkirkan raksasa-raksasa rakus dan robot-robot asing. Kita tempati wilayah kita, kita nikmati hak kita, dan kita akan Mesra Bersama.
Salam manis,
TTD
YUSUF HIDAYAT
Dirumah-rumah sekitar sudah tak lagi terdengar satupun gertakan suara. Mereka lelah, mereka lelap beristirahat untuk esok pergi keladang-ladang tempat mereka mencari nafkah.
Bersama kawan-kawan, aku masih berkumpul, berpikir dan berjuang, kami ingin mereka senang, kami ingin mereka bahagia, kami ingin mereka sejahtera. Kami bukan berandal yang bergadang berhura-hura, kami ingin mengabdikan diri demi negri ini, negri yang indah namun tak semua melihat keindahannya, negri yang nyaman namun tak semua orang merasa nyaman. Itulah serpihan kecil dari tekad yang begitu menggunung dalam benak kami.
Kami ingin menetes mata-mata mereka dengan obat yang bisa membuat mereka melek, menyembuhkan yang buta, memperjelas yang katarak dan membersihkan mata mereka yang kelilipan dengan kotoran debu asing. Kami ingin kita bangsa indonesia bahagia bersama, senang gembira bersama, nyaman aman bersama-sama. Kami ingin kita sama-sama menikmati surga indonesia.
Inilah makna indah dari kemesraan kita yang akan membuat kita bahagia, TANPA sentuhan tangan-tangan kasar asing yang menularkan virus-virus yang membuat kita alergi.
Kita adalah kita, kita bangsa indonesia, bangsa yang katanya makmur sejahtera yang nyatanya belum semua merasakannya, kata indah yang hanya sekedar wacana mereka. Mereka, ya mereka para raksasa rakus yang hanya memikirkan kesejahtraan dirinya.
Para elit politik yang hanya mementingkan untaian gerbongnya.
Bukan hal mudah menyadarkan bangsa yang telah dicuci otaknya, diisinya dengan budaya-budaya berkedok indah yang diadopsinya dari cekokan asing yang ingin menjamah kekayaan negri ini. Tempat lahir kita, tempat tinggal kita, tempat kita bernaung dan bercanda mesra versi kita, yang dirasa sempurna padahal jauh dari sempurna.
Andai aku seorang pemimpin yang dipatuhi sama kalian semua, maka aku akan berkata ''ayo kawan-kawanku (Bukan ayo masyarakat bawahanku) kita sama-sama berjuang, bangkit dari keterpurukan dan bersama melompat pada jurang kebahagiaan''. Aku mengatakan jurang, karna bukankah kita lebih bahagia hidup dijurang, maka aku akan mengajak kalian bersama melompat dan aku sendiri yang akan mendahului melompat, agar kalian percaya, bahwa kita akan menenggelamkan diri bersama-sama pada lautan didasar jurang, hingga kita tersadar dengan pengapnya udara, dinginnya keadaan, lapar juga kehausan.
Aku yakin, setelah kita sadar bersama, maka akan berjuang bersama, bangkit bersama, berbondong, bergotong-royong untuk memanjat kembali pada kebahagiaan yang sesungguhnya, menyingkirkan raksasa-raksasa rakus dan robot-robot asing. Kita tempati wilayah kita, kita nikmati hak kita, dan kita akan Mesra Bersama.
Salam manis,
TTD
YUSUF HIDAYAT
Rabu, 18 November 2015
Sang BIDADARI pudar Warna
Terbayang amat indah ketika terbesit bidadari dalam benak.. sosok anggun yang sempuna dalam pandangnya.
Rasa lah yang membuat pandangan katarak, yang dirasa speasial beralih bidadari dan malaikat.Sesempurna itukah..??,
Tidak buat ku, Bidadari yg belum lama ini terbang disekitarku dengan sayapnya yang hampir rapuh, terjatuh lebam memohon pertolongan, sayap-sayapnya patah. Bak bagai pahlawan, jelata berubah menjadi superHERO yang siap merajut sayap-sayapnya hingga utuh kembali.
Sang bidadari itu tersenyum bahagia, dirasanya ada rangkulan hangat yang bisa dijadikannya tempat berlindung, kepahitan dan lukanya diperlihatkan hapan dapat terobati. Diobatinya semua luka yang mendera, janji manis bidadari beralun keluar dari mulut manisnya, sebagai imbalan dari semua yang dilakukan untuknya, sangHERO tersenyum, ternyata pertolongannya berbuah anugrah terindah.
Hampir sembuh, sang bidadari pamit berlatih terbang kembali mencoba sayap barunya saat sangHERO terlelah hingga terlelap. Bidadari anggunpun bermanuver dengan sayapnya, dirasanya penuh keanggunan dan kesempurnaan hingga keangkuhannya membuatnya lupa sama sang tabib yang mengobatinya.
Sang pangeran terbangun dari tidur lelapnya, dilihatnya sang bidadari terbang jauh. Luka hatinya serasa tercabik, air susu berbalas tuba.
Tega sungguh bidadari itu melukaiku, dia terbang jauh pergi meninggalkanku. Aku kecewa, aku terluka, Kubangun benteng kuat dalam hatiku, agar ku tak lagi melihatmu, sekalipun nanti kau bentangkan pelangi berwarna diatasku, lalu kau terbang bersamanya, itu tak lagi berwarna, kau telah pudar dengan dustamu.
Salam manis,,
TTD.
Yusuf Hidayat
Korban BULLY jadi PUTRI
Nayla,, begitu safa yang dipakai untuk memanggilnya.
Dimasa PUTIH-BIRU nayla anak dengan keluguan sikap dan kecerdasan pikir ternyata tak lantas mnjadikannya istimewa. Nayla berprestasi di Kelasnya, juara dua pernah diraihnya dan 10 besar tak pernah ditinggalnya.
PUTIH-BIRU ternyata jadi masa kelam bagi nayla, seakan sekitarnya bak bagaikan kobaran api neraka yang terus meronta menerkamnya, teman sebayanya membuli dengan cemoohan bahkan lemparan benda keras untuk menyiksanya.
Dirasa nayla kala itu dunia kejam baginya, tak ada taman indah bak surga yang bisa menenangkan untuk nya mengadu. Keputusasaan datang bergerombol bak bagai virus menghinggapi tubuhnya, menggrogoti rasa kepercayaan dirinya, terluka pikirnya hingga tersirat dalam benak tak ada salah jika dia akhiri kehidupannya dan berarti berakhirnya semua kepedihan.
Beruntunglah, masih ada malaikat yang menjaganya, yang mampu membuatnya bertahan sampai berakhirnya PUTIH-BIRU. Betapa pedihnya sisa luka yang menderanya, yang bagai virus yang terus berkembang biak mengambil alih gerak hidupnya. Alasannya tak cukup logis, hanya karna nayla berprestasi, berwajah lugu, rambut lebat agak pirang dan agak jutek sebagai tameng penjaga diri. Tidaklah ada hal yang amat negatif buat menderanya dengan siksa demikian bukan..??'
Senyum sepintas tergambar dalam wajah anggunnya sambutan untuk masa baru, terbayangnya taman surga dalam benaknya, indah dan membahagiakan.. Tetapi senyumnya memudar, semuanya hanya khayal sepintas. Lantas pelariannya kabur dari hamparan lautan luka menepi di Kota Metropolitan, kota keras yang diharapnya bisa dijadikan sandaran.
Sang bunda menangis karenanya, merasakan kehilangan sematawayang.
Dunia keras ternyata memberinya kekuatan, di Kota Metropolitan sang ulat berlatih menjadi kepongpong terlelap sampai akhirnya tersadar sudah memiliki sayap yang menjadikannya lebih indah.
Nayla di masa Sweet Seventen bukanlah nayla yang dulu, walau masih penuh luka dalam, tetapi luka itu tak terlihat, hanya paras cantik, anggun dan mempesona yang kini dipancarkannya, bagai sang surya yang menyilaukan pandangan teman sebaya yang dulu memusuhinya, seakan buta masa kelam, mereka berubah pesona menjadi para prajurit yang berlutut-lutut memuja sang putri dalam singgasananya.
Hikmahnya:
-Orang yang dibully belum tentu hina.
-Dibully berarti kita mempunyai keberuntungan dengan kelebihan yang tidak dimiliki mereka.
-Do'a orang yang teraniaya mudah dikabulkan.
-Sabar dan ikhlas menerima semua ujian, yakinkan ada saat semuanya menjadi indah dengan perputaran roda kehidupan dan masih banyak lagi.
Salam manis dari saya,, sahabat tokoh yang diceritakan, saya bangga dengan cerita hidupnya, bisa dijadikan motivasi buat mereka yang merasakan hal yang sama...
Buat yang di-Bully, yakinlah kalian lebih istimewa, kalian lebih berharga dan kalianlah sangHERO yang sanggup bertahan.
Buat yang nge-Bully, sadarilah diri dan sikap kalian tidaklah lebih mulia dibanding mereka, apa yang bisa kalian banggakan hasil kenegatifan kalian.
Salam manis,
TTD
YUSUF HIDAYAT
Dimasa PUTIH-BIRU nayla anak dengan keluguan sikap dan kecerdasan pikir ternyata tak lantas mnjadikannya istimewa. Nayla berprestasi di Kelasnya, juara dua pernah diraihnya dan 10 besar tak pernah ditinggalnya.
PUTIH-BIRU ternyata jadi masa kelam bagi nayla, seakan sekitarnya bak bagaikan kobaran api neraka yang terus meronta menerkamnya, teman sebayanya membuli dengan cemoohan bahkan lemparan benda keras untuk menyiksanya.
Dirasa nayla kala itu dunia kejam baginya, tak ada taman indah bak surga yang bisa menenangkan untuk nya mengadu. Keputusasaan datang bergerombol bak bagai virus menghinggapi tubuhnya, menggrogoti rasa kepercayaan dirinya, terluka pikirnya hingga tersirat dalam benak tak ada salah jika dia akhiri kehidupannya dan berarti berakhirnya semua kepedihan.
Beruntunglah, masih ada malaikat yang menjaganya, yang mampu membuatnya bertahan sampai berakhirnya PUTIH-BIRU. Betapa pedihnya sisa luka yang menderanya, yang bagai virus yang terus berkembang biak mengambil alih gerak hidupnya. Alasannya tak cukup logis, hanya karna nayla berprestasi, berwajah lugu, rambut lebat agak pirang dan agak jutek sebagai tameng penjaga diri. Tidaklah ada hal yang amat negatif buat menderanya dengan siksa demikian bukan..??'
Senyum sepintas tergambar dalam wajah anggunnya sambutan untuk masa baru, terbayangnya taman surga dalam benaknya, indah dan membahagiakan.. Tetapi senyumnya memudar, semuanya hanya khayal sepintas. Lantas pelariannya kabur dari hamparan lautan luka menepi di Kota Metropolitan, kota keras yang diharapnya bisa dijadikan sandaran.
Sang bunda menangis karenanya, merasakan kehilangan sematawayang.
Dunia keras ternyata memberinya kekuatan, di Kota Metropolitan sang ulat berlatih menjadi kepongpong terlelap sampai akhirnya tersadar sudah memiliki sayap yang menjadikannya lebih indah.
Nayla di masa Sweet Seventen bukanlah nayla yang dulu, walau masih penuh luka dalam, tetapi luka itu tak terlihat, hanya paras cantik, anggun dan mempesona yang kini dipancarkannya, bagai sang surya yang menyilaukan pandangan teman sebaya yang dulu memusuhinya, seakan buta masa kelam, mereka berubah pesona menjadi para prajurit yang berlutut-lutut memuja sang putri dalam singgasananya.
Hikmahnya:
-Orang yang dibully belum tentu hina.
-Dibully berarti kita mempunyai keberuntungan dengan kelebihan yang tidak dimiliki mereka.
-Do'a orang yang teraniaya mudah dikabulkan.
-Sabar dan ikhlas menerima semua ujian, yakinkan ada saat semuanya menjadi indah dengan perputaran roda kehidupan dan masih banyak lagi.
Salam manis dari saya,, sahabat tokoh yang diceritakan, saya bangga dengan cerita hidupnya, bisa dijadikan motivasi buat mereka yang merasakan hal yang sama...
Buat yang di-Bully, yakinlah kalian lebih istimewa, kalian lebih berharga dan kalianlah sangHERO yang sanggup bertahan.
Buat yang nge-Bully, sadarilah diri dan sikap kalian tidaklah lebih mulia dibanding mereka, apa yang bisa kalian banggakan hasil kenegatifan kalian.
Salam manis,
TTD
YUSUF HIDAYAT
Kamis, 12 November 2015
''SuperHERO Di Masa Pubertas''
Kanak-kanak masa berselimut kebebasan, bagai serangga madu yang terbang di hamparan taman berbunga, yang termanjakan dengan penuh kebahagiaan..
Masa indah itu tidaklah abadi, tibanya masa baru beserta aturan main baru, dengan sapaan ''Pubertas'', masa antara Kekanak-kanakan menuju pada pendewasaan. Kelabilan adalah ciri khas yang dijadikan kambing hitam pencarian jati diri, hal yang amat kadung untuk diakui. Tetapi apalah itu namanya, bagai laron terbang pada hembusan angin yang kencang terpental kesana kemari, tetapi meski demikian berbahayanya tak terlintas dalam benak untuk hinggap pada pijakan kokoh agar selamat, malah senang menguji kekuatan dan kemampuan bermanufer bersama laron-laron lainnya.
Kegagalan serta keselamatan setelahnya merupakan hasil dari sejauh mana perjuangan melepaskan diri melawan hembusan angin yang menggelapkan pandangan, baik atau buruknya akan dirasakannya kelak tiba waktu dimasa yang akan datang.
Hebat, kata yang tepat buat dia jagoan yang mampu keluar dari zona yang penuh ambisi yang belum pasti, melemparkan dirinya keluar hingga terpental, sampai dirinya sadar akan bahaya besar yang hampir saja menghampirinya, hingga dia berpijak pada pegangan kokoh yang dapat menyelamatkannya.
Tidak semuanya beruntung bisa selamat, hanya dia dan mereka yang yang mau bersandar pada pegangan yang kokoh, tidak seperti aku, kamu dan kita yang malah menguji keangkuhan menantang terpaan badai yang menggelapkan pandangan, tersandung dan celaka.
''Inilah aku jagoa saat ini, sang superHero yang bangkit kembali pada abad ini'' bukankah demikian kata angkuh yang kita tanamkan, hanya demi satu tujuan ''Diperhatikan'', yang padahal penonton di singgasananya melihat kita sepeti layaknya pentas para wayang, betapa hinanya bukan, perjuangan berbuah kehampaan.
Kawan kehidupan tidak berdiam, mereka teriak beronta-ronta sampai hingga hampi putus nadinya hanya demi menyadarkan kita, seakan tuli kita menganggap itu hanya gonggongan hampa angin berhembus berlalu, kita tetap pada prinsip gelapnya.
Beruntunglah dia dan mereka yang berani berjuang keluar dari kerumunan badai, meski harus terlempar terpental bahkan terluka parah, setelahnya mereka senang terbang dalam kesunyian yang ternyata juga banyak kebahagiaan, dia dan merekalah yang berhasil. Bukan kita, sang superHero pahlawan keteteran yang siap terluka mengorbankan jiwa raga demi sesuatu yang hampa.
Apalah itu, kehidupan memang selalu memberikan sesuatu penghargaan akhir dari setiap tindakan, semua akan ada hikmahnya.
Salam manis dari aku, Orang yang pernah gagal dalam bermanuper dalam masa pubertasku, Salam buat kamu dan kalian yang masih menjunjung keangkuhan, sadarlah kawan, paksalah badai angin agar berubah menjadi udara segar, paksalah pubertas menjadi sebuah masa yang indah dan nyaman, paksalah diri dan kawan agar seperti dia dan mereka yang ternyata bahagia dengan kesederhanaan, tanpa harus menjadi sangHero kesiangan.
Celoteh kosongku semoga berhikmah buat kalian, aku bukanlah siapa-siapa, hanya orang tolol dengan pengalaman gelapnya, yang inginkan berubah jadi sangHERO yang bisa dibanggakan....
Salam manisku,
TTD
YUSUF HIDAYAT
Masa indah itu tidaklah abadi, tibanya masa baru beserta aturan main baru, dengan sapaan ''Pubertas'', masa antara Kekanak-kanakan menuju pada pendewasaan. Kelabilan adalah ciri khas yang dijadikan kambing hitam pencarian jati diri, hal yang amat kadung untuk diakui. Tetapi apalah itu namanya, bagai laron terbang pada hembusan angin yang kencang terpental kesana kemari, tetapi meski demikian berbahayanya tak terlintas dalam benak untuk hinggap pada pijakan kokoh agar selamat, malah senang menguji kekuatan dan kemampuan bermanufer bersama laron-laron lainnya.
Kegagalan serta keselamatan setelahnya merupakan hasil dari sejauh mana perjuangan melepaskan diri melawan hembusan angin yang menggelapkan pandangan, baik atau buruknya akan dirasakannya kelak tiba waktu dimasa yang akan datang.
Hebat, kata yang tepat buat dia jagoan yang mampu keluar dari zona yang penuh ambisi yang belum pasti, melemparkan dirinya keluar hingga terpental, sampai dirinya sadar akan bahaya besar yang hampir saja menghampirinya, hingga dia berpijak pada pegangan kokoh yang dapat menyelamatkannya.
Tidak semuanya beruntung bisa selamat, hanya dia dan mereka yang yang mau bersandar pada pegangan yang kokoh, tidak seperti aku, kamu dan kita yang malah menguji keangkuhan menantang terpaan badai yang menggelapkan pandangan, tersandung dan celaka.
''Inilah aku jagoa saat ini, sang superHero yang bangkit kembali pada abad ini'' bukankah demikian kata angkuh yang kita tanamkan, hanya demi satu tujuan ''Diperhatikan'', yang padahal penonton di singgasananya melihat kita sepeti layaknya pentas para wayang, betapa hinanya bukan, perjuangan berbuah kehampaan.
Kawan kehidupan tidak berdiam, mereka teriak beronta-ronta sampai hingga hampi putus nadinya hanya demi menyadarkan kita, seakan tuli kita menganggap itu hanya gonggongan hampa angin berhembus berlalu, kita tetap pada prinsip gelapnya.
Beruntunglah dia dan mereka yang berani berjuang keluar dari kerumunan badai, meski harus terlempar terpental bahkan terluka parah, setelahnya mereka senang terbang dalam kesunyian yang ternyata juga banyak kebahagiaan, dia dan merekalah yang berhasil. Bukan kita, sang superHero pahlawan keteteran yang siap terluka mengorbankan jiwa raga demi sesuatu yang hampa.
Apalah itu, kehidupan memang selalu memberikan sesuatu penghargaan akhir dari setiap tindakan, semua akan ada hikmahnya.
Salam manis dari aku, Orang yang pernah gagal dalam bermanuper dalam masa pubertasku, Salam buat kamu dan kalian yang masih menjunjung keangkuhan, sadarlah kawan, paksalah badai angin agar berubah menjadi udara segar, paksalah pubertas menjadi sebuah masa yang indah dan nyaman, paksalah diri dan kawan agar seperti dia dan mereka yang ternyata bahagia dengan kesederhanaan, tanpa harus menjadi sangHero kesiangan.
Celoteh kosongku semoga berhikmah buat kalian, aku bukanlah siapa-siapa, hanya orang tolol dengan pengalaman gelapnya, yang inginkan berubah jadi sangHERO yang bisa dibanggakan....
Salam manisku,
TTD
YUSUF HIDAYAT
Langganan:
Postingan (Atom)

