Wikipedia Telusuri..

Hasil penelusuran

Selasa, 24 Juli 2018

GORESAN CERITA DI MINAJAYA

GORESAN CERITA DI MINAJAYA
Oleh : @Prawira_Sastragusti
***



MINAJAYA- Satu dari sekian banyak pantai yang membanggakan dipajampangan, keindahannya tak jarang menarik para wisatawan mancanegara berkunjung demi memburu cantiknya senja yang disuguhkan pantai minajaya. Tidak hanya itu, minajaya juga memberikan nilai lebih lagi demi memuaskan setiap orang yang menapaki, yaitu sajian alami budaya asli daerah yang ramah dan santun, membuat pengunjung terkesan merasa nyaman dan aman.

Dariku, cerita tentang minajaya terlepas dari itu, ada goresan makna yang berbeda, tentang hal nyata yang terjadi di minajaya.

Minajaya jadi punya cerita yang beda, tidak lagi tentang cantiknya suguhan senja, tidak pula tentang sajian budaya yang ada, karena saat ku kunjungi pantai ini tidak mengharap kehadiran keduanya.

Ku tapaki minajaya berdua, dengan perempuan cerdas 'rembulan' desa cantayan. Seorang mahasiswi asal sukabumi yang berkelana menimba ilmu di timur Indonesia, mengenyam pendidikan difakultas pertanian disalah satu universitas ternama ditanah ambon-maluku, kampus universitas Pattimura.

Dia tamu ku, yang saat dulu ku menapaki tanah ambon dia menjamuku dengan pantas, mengantarku menjajal ambon, dan menyuguhkan cerita-cerita tentang ambon, layaknya seorang tourguide yang sengaja dipesan sebelumnya, padahal nyatanya aku kenal dia disana.

Diwaktu libur panjang akhir semester dia pulang, kembali menginjakkan kaki ditanah sukabumi. Kali ini bagianku, menempatkan diri sebagai orang pribumi yang seharusnya menjamu, namun karena keterbatasanku ku hanya bisa lakukan semampuku.

Minajaya menjadi saksi bisu, tentang dia dengan ku yang kini saling mengenal lebih jauh, amat lebih jauh dari titik perkenalan sebelumnya yang hanya akrab di sosial media saja. Berawal kaku, hingga saat waktu ke waktu berlalu keadaan telah berubah, semuanya mencair berubah lebih seru.

Cerita demi cerita satu persatu kehabisan kata, namun karena telah terbiasa, hingga bak bagaikan tiada jeda selalu saja memunculkan tema untuk bicara. Kekakuan awal yang sebelumnya hadir menengahi seperti telah terusir pergi, sampai-sampai satu malam tidak terasa habis bersambut pagi.

Canda berbuah tawa tak terhindarkan lagi, banyak kata menghasilkan tawa, banyak tawa menghasilkan cerita. Sekarang dia dengan ku tak lagi kaku, bahkan istimewanya dia berkenan layaknya menjadi adik ku.

Semuanya menyenangkan, se-senangnya aku yang selalu memburu akrabnya persahabatan. 

Tapi nyatanya keadaan tak selamanya indah, bagai gelinding roda yang kadang posisi ada diatas namun bisa juga jadi dibawah. Disaat-saat kebersamaan diminajaya akan berakhir tiba-tiba posisi jadi dibawah, yang sebelum-sebelumnya bahagia berubah menjadi suram, tidak ada lagi canda-tawa, bahkan sampai barisan katapun membeku, suasana menjadi begitu dingin sedingin udara dini hari yang masih gelap menunggu hadirnya sang mentari untuk menghangatkan, mencairkan kebekuan.

Namun itu tidak begitu lama, hanya bagai figuran yang numpang acting sebentar saja. Semuanya kembali membaik, kembali hangat dan mencair setelah sang mentari hadir menghangatkan pagi.

Kuatnya ikatan persahabatan tidak akan lepas hanya karena kekesalan. Dalam persahabatan, rasa kesal, bentroknya pemahaman, perbedaan keinginan, semuanya hanya perayu yang menarik ikatan persahabatan menjadi kian erat.
***

Salam sayangku, salah satu dari sekian banyak sahabatmu...
@prawira_sastragusti, SUKABUMI 2018

Senin, 23 Juli 2018

REMBULAN DESA CANTAYAN

REMBULAN DESA CANTAYAN
Oleh : @prawira_sastragusti
***





REMBULAN - Begitulah tepatnya gelar yang seharusnya disematkan. Dia masih remaja, yang kini terpaksa dewasa akibat lika-liku jalan hidup yang nyata, juga ditambah perjuangannya dalam menggapai cita-cita.

Dia 'Rembulan', dikenal sebagai perempuan ceria dengan banyak cerita. Hidupnya bak bagai teka-teki, yang tak jarang membuat orang gagal tebak tentangnya. Kelincahannya dalam mengarungi jalan hidup tak jarang memaksa orang berdecak kagum, bahkan kadang menggeleng-gelengkan kepala.

Diusia yang masih muda selepasnya dari masa SMA, Rembulan menguatkan tekad berkelana ke- timur Indonesia, seorang diri, meninggalkan orang-orang tercinta yang terpaksa dipisahkan oleh jarak, demi menimba pengetahuan disalah satu universitas ternama disana. Hingga kini setelah study-nya hampir kelar, rembulan nampak telah berubah, tak lagi seperti dulu, bak bagai kupu-kupu yang lepas dari kungkungan kepongpongnya, dan telah terbiasa terbang mengepak-ngepakan sayap demi menyapa akrab alam yang bebas.

Rembulan telah belajar banyak hal, mengenal kenyataan, menghapal perasaan, dan memahami arti dari kehidupan. Jalan hidupnya kini tidaklah sama dengan orang biasa disekitarnya, rembulan seakan memiliki jalan alternatif yang mampu membawanya sampai pada titik harapan.

Perjalanannya kedepan tidak lagi hampa, semuanya telah terkonsep rapi, yang mana setiap langkah dan bahkan setiap hembusan nafas yang mengembung-kempiskan paru-parunya menjadi ikhtiar nyata dalam menapaki tahapan anak tangga setahap demi setahap, sama halnya barisan-barisan kata yang digoreskannya dalam secarik kertas.

Dialah 'Rembulan', yang nanti akan menerangi gelapnya desa cantayan, memperjuangkan tiap-tiap harapan kesejahteraan, mengganti ketertinggalan dengan kemajuan yang membahagiakan.
Dialah 'Rembulan', Gadis Bunga Desa dari Cantayan.
***

Salam Kagumku, Orang ditakdirkan mengenalmu.
@prawira_sastragusti, SMI 2018

Jumat, 13 April 2018

SAYA SEPAKAT TRADISI CURAT-CORET PASCA PELULUSAN DILESTARIKAN..!!!
Oleh : YUSUF HIDAYAT
***



Pelulusan merupakan momentum berharga yang selalu dinanti para pelajar setelah selesainya seluruh tahapan ujian sekolah, hal ini bagaikan hajat besar bagi mereka sebelum tibanya perpisahan. Maka dari itu, tentunya mereka berhak untuk merayakan.

Tibanya masa pelulusan bagi pelajar setingkat SMP dan SMA menjadi pertanda tradisi Curat-Curet sebagai kebiasaan lama pun hadir kembali ditengah-tengah kita. Anehnya hari ini, tradisi ini kok lantas dibenci, dikekang oleh para guru dan orang tua/wali murid serta malah seakan-akan seperti berusaha untuk dihilangkan. Kok aneh...!!!
Tradisi curat-coret yang biasanya dimaknai para pelajar sebagai bentuk ekspesi dan rasa syukur atas tuntasnya masa pendidikan ditingkatnya, kini malah seakan-akan ini menjadi tradisi haram yang wajib dihindari. "Padahal saya pikir lebih baik biarkan saja mereka berekspresi dengan curat-coret, apalagi jika itu menjadi kemauan mereka sendiri, hanya saja kita orang yang lebih dewasa harus pandai-pandai mengarahkannya".

Waktu yang tidak sebentar pastinya  telah mereka lalui selama menempuh proses pembelajaran, dan sekarang waktu tersebut beserta seluruh tahapannya telah selesai mereka lakukan. Berbagai proses serta tahapan yang telah mereka lalui itu tentunya tidak semudah apa yang terbayangkan. Dari mulai pertama melakukan perjuangan dengan membiasakan diri untuk bangun pagi, segera mandi, terus sarapan, lanjut bergegas untuk berangkat agar sampai kesekolah tanpa terlambat. Ini tidak mudah loh ya, disini mereka harus bekerja keras melatih diri agar komitmen dan konsisten.

Kedua, perjuangan memfokuskan pikiran untuk belajar selama waktu yang telah ditentukan. Disini mereka harus berlatih agar disiplin terhadap waktu, disiplin terhadap aturan sekolah, terhadap guru dan lainnya. Selain itu mereka juga harus berjuang melawan rasa lelahnya pikiran selama jam pelajaran berlangsung serta rasa jenuh atas kebiasaan yang terus berulang dalam keadaan yang sama saja.

Ketiga, tugas pekerjaan rumah (PR). Diluar jam pelajaran sekolah tidak jarang mereka masih saja  disibukkan dengan titipan tugas yang harus dikerjakan dirumah. Betapa padatnya keseharian mereka, apalagi bagi pelajar yang juga sambil menimba ilmu agama selepas sekolah. Sedikit sekali celah untuk mereka merasakan kebebasan sebagai diri mereka sendiri, mereka terus-menerus ditempa dengan proses pembelajaran.

Keempat, Ujian Sekolah. Setelah selesainya materi pembelajaran yang ditentukan, tahap selanjutnya mereka akan diuji oleh guru untuk mengetes kemampuan hasil dari proses pembelajaran yang telah terlewati, mulai dari ujian harian sampai ujian per semester, berupa tulisan, lisan sampai ujian praktek. Lagi-lagi pikiran mereka dipaksa bekerja keras untuk melewati prosesnya, kadangkala dalam proses ini tidak jarang mereka sampai pada kondisi 'stres' akibat perasaan tertekannya pikiran.

Semua itu tentunya hanya gambaran umumnya saja, masih banyak lagi perjuangan lainnya. Bayangkan saja selama tiga tahun lamanya berproses dalam pembelajaran, tidak mungkin akan terus-menerus berjalan dengan keadaan yang sama saja, malah besar kemungkinan semakin diperketat untuk meningkatkan kedisiplinan.

Selesai menelaah sedikit gambaran diatas, mengenai betapa beratnya proses pembelajaran yang mereka lakukan, seharusnya kini kita sepakat untuk sama-sama menganggap wajar jika para pelajar kemudian berekspresi dengan curat-coret begitu dinyatakan lulus pada saat pelulusan.

BAGAIMANA...!!,, Sepakat untuk dilestarikan bukan ...???!!

Besar keinginan saya, kalian bisa sepakat dengan apa yang saya tawarkan karena ini tidaklah negatif dan tidak merugikan tentunya. Jika kalian belum juga sepakat, baiklah akan saya perjelas kembali maksud yang ingin saya sampaikan.

Jika jeli memperhatikan, diakhir paraghraf kedua ada kalimat saya kurung menggunakan pasangan tanda kutif, sebagai penanda fokus bahasan dari maksud yang ingin disampaikan. Bahwa "saya pikir lebih baik biarkan saja mereka berekspresi dengan curat-coret, apalagi jika itu menjadi kemauan mereka sendiri, hanya saja kita orang yang lebih dewasa harus pandai-pandai mengarahkannya". Curat-coret yang saya maksudkan disana adalah dalam bentuk tulisan-tulisan hasil dari pemikiran para pelajar, bukan curat-coret pakaian pakai pilox ya.

Inilah yang saya harapkan dapat dilakukan setiap pelajar diakhir masa sekolahnya, mereka dapat membuat tulisan-tulisan sebagai bentuk ekspresi mereka masing-masing, bisa dalam bentuk sajak, sastra, cerpen, artikel, novel dan lain sebagainya yang dapat menjadikan setiap momen yang telah mereka lewati menjadi abadi. Karena setelah lamanya waktu berlalu, rasa kangen akan masa itu akan datang kembali. Apalagi saat-saat reuni, setiap cerita masa lalu itu akan menjadi cerita manis yang diputar kembali, jika saja cerita itu diabadikan, tentunya tidak akan ada momen yang hilang ketika diceritakan.

Disinilah maksud peran orang yang lebih dewasa harus pandai-pandai mengarahkan, seperti yang saya tuliskan sebelumnya. Orang tersebut bisa para guru sekolah, peran orang tua/wali ataupun orang-orang sekitar yang memiliki pemahaman lebih mengenai ini untuk mengarahkan mereka pada hal yang baik, yaitu curat-coret membuat tulisan-tulisan yang bisa bermanfaat hasilnya.

Tentu saya percaya kalau dunia pendidikan saat ini lebih baik lagi dari zaman saya dulu, sehingga semakin besarnya kemungkinan keinginan ini akan dengan mudah terealisasi jika saja memang diinginkan. Saya pikir jika saja para pelajarnya sudah terlatih dengan baik dari sebelumnya, maka kekhawatiran saat pelulusan akan diwarnai corat-coret pilox itu berkurang, salah satu solusinya ya mengarahkan pelajar pada curat-coret berupa bentuk tulisan.

Untuk menggiring para pelajar (terlatih) pada hal yang baik ini tentunya memang sedikit sulit kalau bukan keinginan yang muncul dari diri mereka sendiri. Namun hal ini juga bisa saja disiasati tentunya, salah satunya dengan mengadakan event menarik disekolah pada saat pelulusan, yaitu lomba 'menulis kenangan' dalam macam-macam versi misalnya, yang kemudian hasil karya setiap pelajar dipentaskan diatas panggung.
***
............................SEKIAN..........................
.....................TERIMAKASIH......................

Demikianlah sedikit curah gagasan dari saya, semoga ada manfaatnya sekalipun kecil.

Ttd,
YUSUF HIDAYAT
(Penulis acak-acakan)

Sabtu, 07 Oktober 2017

SENI BERBAHAN PASIR





TERIMA PESANAN
SENI BERBAHAN PASIR
***
Seni selalu saja beriringan dengan keindahan, memanjakan setiap indra dari penikmatnya. Tak jarang, hasil karya seni mampu membelai batin sehingga terasa ada kepuasan yang lebih. Seni begitu beragam jenis, tergantung aliran yang dikuasai oleh sang seniman.

Kali ini, ada karya seni dengan menggunakan media pasir sebagai bahan utamanya, yang akan terlihat gemerlap ketika terkena cahaya. Buah tangan orang pedesaan yang begitu kreatif dan ulet, sehingga apabila kita menatap lebih dalam dari karyanya, kita akan merasakan betapa besar pengorbanan sang seniman. Ada bahasa 'kadangkala kata-kata tak akan mampu menyampaikan semuanya', begitulah gambaran tepatnya.

Buat yang senang seni, jangan hanya ngaku-ngaku saja. Ayo coba lirik karya seni berbahan pasir ini.
Untuk bentuk dan harganya bisa menyesuaikan dengan pesanan.

-Kalighrafi
- Ukiran Nama (Toko, Komunitas, Masjid, dsb)
-Catatan Latin
-Kado (Ulangtahun, Pernikahan, Wisuda, dsb)
-Lukisan Wajah
-Seuvenir
-dll (Sesuai Pesanan).

Harga bersahabat, sesuai pesanan dan tingkat kerumitan...
Silahkan kontak-kontak untuk yang tertarik.
WA. 085721103873


Nilai estetika dari seni adalah keunikan dan keindahannya sehingga menjadi sebuah nilai yang menarik bagi sipenikmat.

Saat ini, sedang trend memberi hadiah ulang tahun yang menarik dan unik, terutama untuk pasangan. Inilah jawabannya, mengapa tidak anda manfaatkan seni dari pasir ini untuk membahagiakan orang yang anda sayangi.

Sekian...
Silahkan mencoba untuk yang tertarik

Bertempat di KP. TEGALDATAR RT. 20/05 DESA NEGLASARI KECAMATAN LENGKONG KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT 43174.

CP. 085721103873 (WA, SMS, TLPN)
Terimakasih,
Salam..






Kamis, 24 Agustus 2017

MANUSIA BODOH




MANUSIA BODOH
Oleh : Yusuf Hidayat

Bagai tak ada cermin yang guna memantulkan diri, untuk menyadarkan akan manusia nyatanya tak bersayap...
Biar tak lagi ternyamankan halusinasi, yang serasa bisa mengepak-ngepakan sayap, serasa melayang bebas kesana-kemari, terlupakan menapaki bumi...
Mengukur diri atas rasa pantas tanpa pedoman pasti...
Menilai selainnya semuanya rendah...
Tak akan mampu,
Tak akan bisa,
Hanya diri 'adigung' inilah yang mampu atas segalanya...
***
'Jika saat ini kau nilaiku bodoh dan rendah...
Ku menyayangkan orang sepintar kau yang tak mampu Sadar... Harusnya sedaridulu...





Sabtu, 19 Agustus 2017

ATURAN MAIN DINEGERI INI

ATURAN MAIN DINEGERI INI...
Oleh : Yusuf Hidayat
____________________





***

Beberapa waktu lalu media ramai mengabarkan kejadian pembakaran seorang terduga maling didaerah bekasi, dimana kejadian ini menggambarkan bahwa rakyat lebih memilih 'main hakim sendiri'. Hari ini kejadian yang hampir serupa kemudian terjadi kembali di daerah Bojongjengkol Kecamatan Jampang Tengah, dimana orang yang juga diduga maling sekarat setelah babak belur dihakimi oleh masa (19/08/17).

Mengapa melakukan main hakim sendiri..?
***

"Indonesia merupakan negara hukum". Begitulah seperti yang tertuang dalam Dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 Perubahan ke-4. Ditanah air ini hukum menjadi aturan main dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sudah seharusnya Hukum menjadi aturan yang amat pantrang untuk dilanggar, karena setiap pelanggaran yang dilakukan atas hukum maka akan ada konsekuensi yang kemudian akan diterima. Hukum harus seimbang sebagai bentuk keadilan bagi seluruh tanpa pandang buluh, tidak menjadi tajam kebawah tumpul keatas. Hukum harus ditegakkan segagah-gagahnya, sebenar-benarnya agar berwibawa dan kemudian menjadi aturan yang disegani.

Ditanah air ini, tidak jarang ramai dengan perbincangan mengenai hukum. Tidak jarang pelanggaran-pelanggaran terjadi atas poin-poin hukum yang kemudian dilakukan penindakan dan pemberian sangsi atas kesalahan yang dilanggarnya sesuai poin hukum yang dikenakan. Ketika mendengar kejadian seperti ini, pasti ada rasa bangga kita terhadap penegakkan hukum yang terkesan begitu baik. Akan tetapi bukan hal mustahil pula, pelanggaran-pelanggaran terjadi atas hukum lalu tidak ditindak sesuai hukum, bahkan ada kejadian hukum dipelintir oleh orang-orang yang paham hukum sampai dilanggar penegak hukum itu sendiri. Kalau kejadiannya seperti ini, bagaimana selanjutnya penilaian mengenai hukum ..?.

Zulkifli SH MH, seorang advokad di Pekan Baru mengatakan, ada 9 alasan mengapa seseorang itu melakukan perbuatan melanggar hukum, yaitu : Ketidaktahuan akan adanya hukum yang mengatur; Tidak mau tahu, adanya hukum dianggap mengganggu; Terpaksa karena tidak ada pilihan lain; Tidak Mampu Mengendalikan Diri; Niat yang jahat karena ada tujuan yang ingin dicapai; Terbiasa Melanggar; Adanya Kesempatan;
Alasan Membela Diri; serta Merasa paling benar dalam hukum. (http://koranmx.com/baca/2671/alasan-mengapa-orang-melanggar-hukum.html). Hal-hal demikian rasanya terkesan tidak aneh lagi, seperti bukan hal yang baru kita ketahui untuk saat ini.

Pelanggaran-pelanggaran mengenai hukum semakin kesini seperti menjadi hal yang lumrah dan tidak aneh lagi, masyarakat sudah menjadi tidak lagi teramat kaget ketika mendengar tentang pelanggaran hukum, hanya sebatas ekspresi kecil sebagai bentuk kekesalan saja, karena walaupun bagaimana pelanggaran mengenai sebuah aturan tetap dinilai sebagai budaya yang tidak baik oleh masyarakat. Ada pula penilaian bahwa penegak hukum pun tidak lagi menegakkan hukum dengan baik, ini barangkali akibat dari kejadian-kejadian pelanggaran hukum yang dilakukan oleh oknum penegak hukum. Muncul juga kalimat nyeleneh yang entah dari mana pertama kali munculnya bahwa "hukum/aturan ada untuk dilanggar", ini menggambarkan terkikisnya wibawa hukum ditengah masyarakat akibat kekecewaan atas kecurangan-kecurangan dalam penegakan hukum. Kezaliman-kezaliman yang karena begitu sering terjadi menjadi tidak aneh lagi sehingga terkesan menjadi sebuah kelaziman, begitu dikatakan Imam Ratrioso (seorang psikolog) dalam bukunya yang berjudul "Rakyat Enggak Jelas - Potret manusia Indonesia pasca reformasi".

Penegakan hukum yang dinilai tidak sehat lagi, serta anggapan-anggapan bahwa dalam penegakkan hukum dinegeri ini terkadang bisa dipelintir dan juga atas kejadian pelanggaran hukum yang dalam penanganannya terkesan dipeti es'kan, demikianlah yang kemudian mengajarkan masyarakat pada pengabaian hukum sebagai aturan main, serta akibat krisisnya kepercayaan masyarakat pada penegakkan hukum dinegeri ini, mengakibatkan masyarakat lebih memilih mengeksekusi/main hakim sendiri.

HUKUM HARUS MENJADI ATURAN MAIN YANG DISEGANI..!!!
***

#hukum
#72tahunindonesiamerdeka
#72tahunindonesiakerjabersama


Picture By : Sulistira

Kamis, 17 Agustus 2017

MARILAH KITA BRRSERU 'INDONESIA BERSATU'

MARILAH KITA MENYERU 'INDONESIA BERSATU'
Oleh : Yusuf Hidayat

INDONESIA - Negara Indonesia memiliki cita-cita kemerdekaan yang sungguh luar biasa sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD NKRI 1945. Namun sayangnya, ketika ditatap dari beberapa sudut pandang mengenai pelaksanaan niat yang mulia tersebut itu belum sepenuhnya terealisasi, Indonesia memang dikatakan berhasil meraih kemerdekaan serta mengusir para penjajah dari tanah air, namun pembebasan secara utuh dari rasa terjajah belum terlepas, kepahitannya masih melekat. Masih banyak bangsa Indonesia yang belum bisa terlepas dari jeratan kemiskinan, masih banyak bangsa Indonesia yang meninggal karena kelaparan, masih banyak pula keadaan yang lainnya yang rasanya sepahit terjajah, apalagi akan lebih miris ketika kepahitan itu kemudian menjadi penggiring manusia Indonesia melakukan tindakan yang tidak berprikemanusiaan.

Dalam TEMPO.CO, dikatakan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di lndonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk).
Menurut Kepala BPS Suhariyanto, angka tersebut bertambah 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen). Meski secara presentase angka kemiskinan mengalami penurunan, namun secara jumlah angka tersebut mengalami kenaikan. (https://m.tempo.co/read/news/2017/07/17/090892130/maret-2017-jumlah-penduduk-miskin-indonesia-capai-27-77-juta)
Itu membuktikan bahwa jumlah angka kemiskinan bukan malah berkurang melainkan semakin bertambah seiring dengan berlanjutnya usia Indonesia. Padahal Indonesia ini dijuluki sebagai tanah surga karena kesuburan dengan kekayaan alam yang melimpah serta keanekaragaman hayatinya, namun kenyataannya tidak menjadi solusi bagi kesejahteraan dinegeri ini. Seperti salah satu contoh yang terjadi Jember, karena sulitnya kehidupan yang dijalani, jangankan untuk dapat hidup layak, untuk makan sehari-hari pun masih kesulitan. Inilah yang kemudian membuat Ibu Rokayah seorang warga jember terpaksa mengkonsumsi rumput demi mengganjal perut. (https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-3435863/warga-jember-ini-terpaksa-makan-rumput-karena-kelaparan)
Bahkan selain dari pada itu, yang lebih parah lagi dengan masih adanya kejadian meninggal dunia akibat dari kelaparan, menjadi salah satu bukti bahwa negara ini belum sejahtera.

Masih begitu banyak masalah dalam tubuh Indonesia yang harus dengan giat diselesaikan, demi terciptanya keindahan Indonesia atas cita-citanya. Keselarasan niat seluruh bangsa Indonesia menjadi kunci utama tercapainya harapan tersebut, dengan berbagai bentuk perjuangan baik secara fisik, finansial, maupun pemikiran yang ketika dilakukan dengan selarasnya niat seluruh bangsa, maka bukan hal mustahil keindahan tersebut dapat terealisasi. Pertanyaannya adalah "Bagaimana cara menyelaraskan niat bangsa Indonesia.?".

'Menjiwai Pancasila'. Seluruh bangsa Indonesia harus betul-betul menghayati pancasila (atas setiap keluhuran makna yang terkadung didalamnya) sebagai sebuah ideologi (ini yang harus ditekankan), sehingga dapat terbentuknya satu kesepahaman bangsa Indonesia mengenai bagaimana dirinya harus mengabdikan diri pada tanah air, bagaimana dirinya harus melakukan perjuangan bukti kecintaan pada tanah air, serta bagaimana setiap bangsa akan mencerminkan sikap bangga dengan menjadi Indonesia.

Terlebih penekanan ini lebih diutamakan kepada para pejabat negara yang harus menjadikan pancasila betul-betul sebagai landasan utama, agar terhindar dari melakukan praktik-praktik negatif yang merugikan bangsa dan negara. Pemahaman yang benar terhadap pancasila kemudian akan menuntun agar setiap tindakan dilakukan semata untuk kebaikan, tidak terjadi lagi pemanfaatan jabatan sebagai kekuasaan untuk melakukan tindakan semena-mena serta pemuas nafsu semata untuk kepentingan pribadi saja, melainkan jabatan yang didapat merupakan amanah besar yang harus diemban dan dilaksanakan sebaik-baiknya menyangkut kepentingan orang banyak.

Kejadian-kejadian yang tidak wajar terjadi pada sosok pejabat negara harus segera hilang, karena begitu banyak orang yang mengagungkan serta menaruh beban harapan dipundak-pundak para pejabat sebagai wakil rakyat untuk mampu membawa perubahan baik bagi kehidupan mereka. Namun teramat disayangkan apabila masih ada kejadian serupa seperti yang terjadi pada September tahun 2015 lalu, dimana pejabat sekelas wakil ketua DPRD di Kabupaten Tuban malah tidak hafal sekedar isi dari pancasila, (https://www.google.com/search?hl=in-ID&ie=UTF-8&source=android-browser&q=pejabat+tidak+hapal+pancadila) Serta masih banyak tulisan-tulisan lainnya yang mengatakan bahwa masih banyak pejabat yang memang tidak hafal pancasila, keadaan yang sungguh miris serta memalukan, bisa dibayangkan betapa mirisnya kondisi pemerintahan yang ada di negeri ini. Seperti ditulis RMOL.CO, - Ketua MPR Zulkifli Hasan pun menilai bahwa memang keluhuran makna yang terkandung dalam 'Pancasila' kurang diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga salah satu akibat dari perilaku ini yaitu banyak pejabat yang terseret pada kasus korupsi. (http://www.rmol.co/read/2016/10/25/265612/Zulkifli-Hasan:-Banyak-Pejabat-Korup-Karena-Pancasila-Cuma-Jadi-Hafalan-)

Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan dikatakan mengapa tidak setiap perayaan Hari Kemerdekaan NKRI ini dimanfaatkan untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur Ke-Indonesia-an serta penelaahan kembali nilai-nilai yang terkandung pada pancasila, seperti yang ditulis dipembukaan tulisan ini. Bentuk kegiatannya apapun itu, terpenting dari kegiatan tersebut bisa bermakna bagi Bangsa Indonesia sehingga memiliki semangat kehidupan berpancasila. Namun sayangnya kebaikan seperti satu ini tidak kemudian dibudayakan di tanah air Indonesia, perayaan-perayaan serupa ini lebih digandrungi mengisinya dengan hiburan dan rekreasi.
***

Dariku terucap untukmu Tanah Airku...
DIRGAHAYU ke-72 tahun atas kemerdekaan mu,
Dirgahayu Indonesia...
Bagaimanapun, aku akan tetap berusaha cinta pada tanah air ini..




.