GORESAN CERITA DI MINAJAYA
Oleh : @Prawira_Sastragusti
***
MINAJAYA- Satu dari sekian banyak pantai yang membanggakan dipajampangan, keindahannya tak jarang menarik para wisatawan mancanegara berkunjung demi memburu cantiknya senja yang disuguhkan pantai minajaya. Tidak hanya itu, minajaya juga memberikan nilai lebih lagi demi memuaskan setiap orang yang menapaki, yaitu sajian alami budaya asli daerah yang ramah dan santun, membuat pengunjung terkesan merasa nyaman dan aman.
Dariku, cerita tentang minajaya terlepas dari itu, ada goresan makna yang berbeda, tentang hal nyata yang terjadi di minajaya.
Minajaya jadi punya cerita yang beda, tidak lagi tentang cantiknya suguhan senja, tidak pula tentang sajian budaya yang ada, karena saat ku kunjungi pantai ini tidak mengharap kehadiran keduanya.
Ku tapaki minajaya berdua, dengan perempuan cerdas 'rembulan' desa cantayan. Seorang mahasiswi asal sukabumi yang berkelana menimba ilmu di timur Indonesia, mengenyam pendidikan difakultas pertanian disalah satu universitas ternama ditanah ambon-maluku, kampus universitas Pattimura.
Dia tamu ku, yang saat dulu ku menapaki tanah ambon dia menjamuku dengan pantas, mengantarku menjajal ambon, dan menyuguhkan cerita-cerita tentang ambon, layaknya seorang tourguide yang sengaja dipesan sebelumnya, padahal nyatanya aku kenal dia disana.
Diwaktu libur panjang akhir semester dia pulang, kembali menginjakkan kaki ditanah sukabumi. Kali ini bagianku, menempatkan diri sebagai orang pribumi yang seharusnya menjamu, namun karena keterbatasanku ku hanya bisa lakukan semampuku.
Minajaya menjadi saksi bisu, tentang dia dengan ku yang kini saling mengenal lebih jauh, amat lebih jauh dari titik perkenalan sebelumnya yang hanya akrab di sosial media saja. Berawal kaku, hingga saat waktu ke waktu berlalu keadaan telah berubah, semuanya mencair berubah lebih seru.
Cerita demi cerita satu persatu kehabisan kata, namun karena telah terbiasa, hingga bak bagaikan tiada jeda selalu saja memunculkan tema untuk bicara. Kekakuan awal yang sebelumnya hadir menengahi seperti telah terusir pergi, sampai-sampai satu malam tidak terasa habis bersambut pagi.
Canda berbuah tawa tak terhindarkan lagi, banyak kata menghasilkan tawa, banyak tawa menghasilkan cerita. Sekarang dia dengan ku tak lagi kaku, bahkan istimewanya dia berkenan layaknya menjadi adik ku.
Semuanya menyenangkan, se-senangnya aku yang selalu memburu akrabnya persahabatan.
Tapi nyatanya keadaan tak selamanya indah, bagai gelinding roda yang kadang posisi ada diatas namun bisa juga jadi dibawah. Disaat-saat kebersamaan diminajaya akan berakhir tiba-tiba posisi jadi dibawah, yang sebelum-sebelumnya bahagia berubah menjadi suram, tidak ada lagi canda-tawa, bahkan sampai barisan katapun membeku, suasana menjadi begitu dingin sedingin udara dini hari yang masih gelap menunggu hadirnya sang mentari untuk menghangatkan, mencairkan kebekuan.
Namun itu tidak begitu lama, hanya bagai figuran yang numpang acting sebentar saja. Semuanya kembali membaik, kembali hangat dan mencair setelah sang mentari hadir menghangatkan pagi.
Kuatnya ikatan persahabatan tidak akan lepas hanya karena kekesalan. Dalam persahabatan, rasa kesal, bentroknya pemahaman, perbedaan keinginan, semuanya hanya perayu yang menarik ikatan persahabatan menjadi kian erat.
***
Salam sayangku, salah satu dari sekian banyak sahabatmu...
@prawira_sastragusti, SUKABUMI 2018








