Kehidupan di Dunia ini bukankah hanya sementara, tidak akan kekal selamanya..!!.
Seperti aku, dengan hanya tinggal menghitung berapa helaan nafas lagi yang dapat ku hembus, buat ku bertahan dari penyakit kronis yang dikira distadium akhir ini. Kadang rasa perih itu begitu kuatnya menyelimuti hidupku, mengaburkan jalan pikiranku, menyesatkanku dalam kesunyian serta mengurungku diruang dosa.
Aku menderita, sungguh ku menderita sampai kadang semangat hidupku hilang dan hanya pasrah. Besit dalam benak, betapa tololnya jika tak ku manfaatkan sisa hidup untuk "Kebenaran" yaa untuk kebenaran. Lantas, saat dimana kebenaran itu terpikirkan, memunculkan pertanyaan yang meribu atau menjuta entahlah tiada sempat ku hitung jumlah pasti. Virus meradang menggerogoti pikiranku kini adalah rasa penasaran yang begitu besar, rasa ingin tahu dan ingin merasakan manisnya kebenaran.
Aku muslim yang kebetulan, karna terlahirnya dari keluarga muslim bukan karena aku yang meminta agarku jadi muslim. Sholat (sembahyang) adalah ibadah sosial yang wajib dikerjakan sebagai ritual komunikasi muslim dengan Tuhannya, ke-"Khusuk"-an adalah batasan "kebenaran" dalam shalat, begitulah dogma yang kuterima dari mereka yang lebih dulu muslim. Sampai hembusan nafas saat ini belum sampai ku dapat merasakan nikmatnya kekhusuan, kadangkala kurasakan kebingungan, kekhusuan seperti apa yang mereka maksud, karna setiap dari mereka yang merasa pakar "benar" menggambarkan khusu yang beda, aku berusaha mencapai khusuk itu, ku cari titik mana puncak khusuk itu. Aku pikir, bagaimana caranya ku dapat mencapai titik khusuk itu saat aku dalam kebimbingan "kebenaran" layaknya sekarang ini, satu pasti gejolak batin adalah rasa takut ku salah persepsi akan ibadahku pada Tuhanku, akan sikap dan tingkah laku ku, akan menjalankan setiap gerak hidup dalam hembus nafasku, akan kekhusuan ibadahku dan akan semua yang ku pikir tentang kebenaran itu, apakah aku sudah berada pada jalan yang benar atau mungkin semua yang telah ku lakukan adalah keseaatanku yang membuahkan murka Tuhan. Aku Takut..
Hingga kini, kusadari hidup takan lama, takan lama lagi aku mengalami MATI, kesadaran yang merinding dengan ketakutan atas balasan kesalahanku di dunia, atas semua jalan kesesatanku selama ini yang jauh dari Kebenaran-Nya, yang sesat dari Jalan-Nya, yang melanggar Perintah-Nya hingga semua berbuah Murka-Nya. Ketika pikirku sampai dititik ini, amat besarlah penyesalanku, keinginan konyolku seandainya dapat kuputar waktu, inginku berada pada jalan yang benar, tetapi kenyataan menjawab hingga kusadari nafsu ternyata mendominasi kehidupanku, seringku berpikir kebenaran ternyata nyatanya jauh dari kebenaran, godaannya membutakan.
Sisa hembusan nafasku yang tak banyak lagi kuniatkan untuk jihadku dalam mencari Kebenaran-Nya, besar harapku Tuhan dapat menempatkanku dalam jalan yang lurus, hingga menjelang kematianku aku telah sampai pada kebenaran-Nya, dapat merasakan nikmat khusu ibadahku pada-Nya sebelum ku mati. Anganku betapa indahnya menikmati sisa kehidupan ini dalam kebenaran.
Nikmat ku sampai hembusan nafas saat ini benar memang sudah banyak, seakan tak layak lagi aku meminta, aku memohon, akan Nikmat-Nya yang lebih lagi sedang ku jauh dari Perintah-Nya, jauh dari Kebenaran-Nya, kadang hanya hal duniawi yang ku pikirkan yang mungkin KEDUSTAANku Pada-Nya.
Semilir angin membawa salam kedua orang tua yang khawatir padaku, ketakutannya aku salah langkah, ketakutannya aku kelaparan, ketakutannya aku tak memikirkan duniaku, hingga ketakutan-ketakutannya itu yang mendorongku berambisi pada duniawiku, mengurungku dalam kotak sangkar hingga ku tak sebebas kemana melangkah, hingga ku terbelenggu rantai harapannya, hingga ku sulit mencari kebenaran yang ku inginkan. Sekalipun mereka mengingatkanku akan ibadah yang tak boleh ditinggalkan, tetapi itu hanya sekedar tataran motifasi bagiku, tak sampai memberikan pemahaman akan kebenaranku.
Abisiku kini yang entah ego benar atau salah, inginku melangkah bebas mencari kebenaran, hingga ketika ku sampai pada Indah-Nya, akan ku ajak orang yang ku sayang, akan ku ajak keluarga, sodara, sahabat, kalian, serta ku melawan nafsu ego untuk mengajak musuhku pada kebenaran itu, hingga semua dari kita satu kebahagiaan dalam Kebenaran-Nya.
Aku mengajak kalian mencoba menjadi aku, aku yang ku maksud dalam ceritaku, mengikuti jalan pikirku, merasakan kegelisahanku, menyadari penderitaan dalam keseasatan gelap, menyadari hidup tak lagi lama, menyadari mempunyai penyakit kronis ego nafsu duniawi yang membutakan pandangan pada "KEBENARAN".
Aku ingin kita "sama" meski takan murni "sama", setidaknya ketika demikian kita dapat saling mengingatkan, berbagi pengalaman, mengkaji mana kebenaran. Kita mengisahkan kehidupan yang jadi inspirasi, mengukir sejarah kebahagiaan kita, hingga tak ada salahnya perjalanan hidup kita jadi sebuah peta perjalanan untuk memandu.
Satu inginku yang pasti kita tidak terjebak dalam kata "TAKDIR" yang dianggap sakral, pasti dan tak dapat dirubah. "Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali Kaum-Nya itu sendiri yang merubahnya", itu artinya kita yang harus berusaha merubah kehidupan, bukan hanya mengikuti doktrin dan dogma orang terdahulu, tapi kita diberikan akal untuk dapat memilih mana baik dan mana buruk. Kehidupan saat ini tidak akan sama dengan zamannya dulu.
Jangan jadikan Takdir-Nya sebagai alasan Pasrah saja mengikuti alur kehidupan yang belum tentu kebenarannya..
Salam Manisku,
Yusuf Hidayat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar