Wikipedia Telusuri..

Hasil penelusuran

Kamis, 17 Agustus 2017

PENDIDIKAN HARUS MENDIDIK

PENDIDIKAN HARUS MENDIDIK
Oleh : Yusuf Hidayat

Pendidikan merupakan gerbang pertama yang pastinya dilalui setiap manusia yang terlahir ke dunia, sebagai proses penanaman pengetahuan yang menjadi akses manusia mendapatkan pemahaman, yang mana dari sinilah manusia berangkat untuk melakukan pengembangan diri berbekal pengetahuan yang diserapnya dari proses pendidikan. Pendidikan menduduki peranan penting dalam proses pembentukan SDM, akan seperti apa setiap manusia dalam menjalani kehidupannya kedepan turut bergantung pada proses pendidikan yang dilalui sebelumnya, dalam arti pendidikan ini menjadi faktor penentu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 'Pendidikan' memiliki kata dasar "didik (mendidik)" yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran; Kemudian 'Pendidikan'-nya memiliki arti "proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik"; yang selanjutnya hasil dari proses ini kemudian disebut dengan "didikan". Begitu banyak definisi mengenai 'pendidikan', terutama yang dikemukakan para ahli, seperti salah satunya oleh Ki Hajar Dewantoro yang akrabnya dijuluki Bapak Pendidikan Indonesia, mengemukakan bahwa "pengertian pendidikan adalah tuntunan tumbuh dan berkembangnya anak. Artinya, pendidikan merupakan upaya untuk menuntun kekuatan kodrat pada diri setiap anak agar mereka mampu tumbuh dan berkembang sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat yang bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup mereka". Selanjutnya pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dikatakan bahwa "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi di dalam diri untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara".

Dapat disimpulkan bahwa memang peranan pendidikan dalam kehidupan manusia begitu amat penting, terutama sebagai proses pencetakan generasi yang akan datang. Pendidikan kemudian menjadikan manusia memiliki pemahaman dari semua pengetahuan, memiliki wawasan, serta yang paling penting dari proses pendidikan ialah pencetakan karakter pada setiap manusia. Sehingga muncul kalimat ditengah masyarakat bahwa "orang yang baik, ramah, berjiwa sosial, rukun, memiliki kecerdasan dan sopan-santun serta berkarakter semua ini kemudian disebut 'orang yang berpendidikan' ", masyakat teramat mengagungkan pendidikan (menaruh harapan besar) serta masyarakat memiliki kepercayaan bahwa "Tingkatan kesuksesan seseorang itu diukur oleh setinggi apa seseorang tersebut mengenyam pendidikan", inilah makanya masyarakat menganggap mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi sebagai manusia serba bisa, karena dianggapnya telah menempuh pendidikan tinggi (level pendidikan yang membuat manusia memiliki segala pengetahuan).

Melihat begitu pentingnya 'pendidikan' seperti gambaran yang diulas sebelumnya, mengharuskan adanya perhatian khusus dari pemangku kebijakan, khususnya bagian pendidikan, harus betul-betul serius dalam mengawal keseluruhan proses pendidikan ditanah air ini, sehingga pelaksanaan pendidikan ini mampu melakukan kewajibannya dengan baik dalam mencetak generasi bangsa yang potensial untuk masa kedepan, ini tidak bisa dianggap sebagai hal yang spele. Begitu banyak bagian penting dalam proses pelaksanaan pendidikan yang seharusnya lebih diutamakan perlakuannya. Seperti bahwa setiap lembaga pendidikan diharuskan memiliki tenaga pengajar yang betul memiliki kemampuan yang mumpuni dibidangnya, sehingga pengajar ini memahami betul bagaimana teknik pengajaran yang baik agar anak didiknya mampu menyerap pendidikan yang ditularkannya, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban untuk menyampaikan materi-materi yang sesuai kurikulum atau silabus semata. Dari segi fasilitas penunjang pendidikan pun juga harus diperhatikan, bagaimana dengan gedung pendidikannya yang harus memadai, ada laboraturium yang lengkap sesuai bidang pendidikan, ada perpustakaan dengan koleksi buku yang melimpah, serta fasilitas pendukung lainnya seperti lapangan olahraga dengan kelengkapannya dan juga fasilitas-fasilitas ektrakulikuler. Bagian-bagian tersebut merupakan bagian yang harus lebih diutamakan, agar terjadinya kenyamanan pada proses belajar-mengajar yang dilakukan, karena para pelajar yang sedang menimba ilmu akan mampu lebih serius menyerap pemahaman dari transfer ilmu pengetahuan oleh pengajar ketika merasakan kenyaman. Serta ada yang tidak kalah penting juga yaitu kesejahteraan tenaga pengajar juga turut harus menjadi perhatian secara khusus, karena ketika kesejahteraan pengajar terjamin akan ada keseriusan lebih dari pengajar untuk betul-betul mencetak anak didiknya dengan baik. Tidak ada lagi kejadian guru berebut untuk mengambil banyak waktu mengajar demi semakin banyaknya bayaran yang akan didapatkan, tidak ada lagi guru yang bentrok waktu mengajar karena mengambil jam mengajar dilebih satu sekolah, tidak ada lagi guru yang memaksakan diri mengambil jam mengajar yang bukan dibidangnya, tidak ada lagi guru yang kewalahan karena mengajar sambil berdagang, juga tidak ada lagi guru yang memainkan proyek disekolah, seperti pengadaan fasilitas, LKS, atau bentuk-bentuk ujian yang kemudian dijadikan sarana bermain curang, yang semuanya ini terjadi karena kesejahtraan guru yang belum terjamin, sehingga hal-hal yang serupa demikian tersebut dilakukan karena demi tercukupinya kebutuhan hidup. Apabila bagian-bagian tersebut terabaikan terutama oleh penanggungjawab pendidikan, maka jangan terlalu berharap bahwa pendidikan ini mampu mencetak generasi yang baik.!!!

Sekarang kita mencoba untuk menilai terkait pendidikan yang terjadi ditanah air ini. Dengan mudahnya kita akan dapat menemukan cedera-cidera yang terjadi pada tubuh pendidikan, yang sudah harus segera diobati agar tidak infeksi yang menghasilkan virus-virus berbahaya dan menular. Sebab merupakan tanda bahaya apabila dunia pendidikan yang sebagai titik harapan pencetak generasi yang seharusnya mampu membawa kebaikan untuk masa selanjutnya ini ternyata mengalami sakit. Ironi rasanya apabila pendidikan yang harusnya betul mendidik malah menjadi pusaran permainan keji, sungguh sebuah keadaan yang sangat-sangat tidak kita harapkan.

Sebuah hasil survey dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia berada pada peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Kok bisa..?!!!

Jangan terlalu heran atau bahkan tidak terima, mau tidak mau keadaan inilah yang memang saat ini terjadi pada dunia pendidikan ditanah air. Mengenai kualitas pendidikan, memang seperti yang diulas diatas bahwa masih begitu banyak kekurangan bahkan mengalami 'sakit'. Sedangkan untuk kualitas guru (tenaga pendidik), sedikit saya kasih gambaran mengenai tenaga pendidik ditanah air ini. Sebetulnya tadi sudah diulas pula diatas, bagaimana kebiasaan pendidik (tentunya tidak semuanya) yang kesejahteraannya kurang terjamin, sehingga melakukan kegiatan yang terkesan memaksakan bahkan sampai ada yang melakukan kegiatan diluar kewajaran sebagai pendidik (panutan). Sedikit menambahkan lagi gambaran lainnya, yaitu masih ditemukan banyaknya para pendidik yang memang terkesan 'dipaksakan', mulai dari sekolah dasar (SD) sampai tingkat SLTA masih ditemukan tenaga pengajar yang memang belum lulus atau bahkan ada pula yang belum mengenyam bangku perguruan tinggi, sehingga menjadi sebuah pertanyaan dalam cara mengajarnya, ada juga kebiasaan merekrut tenaga pendidik dari pelajar yang baru saja lulus yang memang lagi-lagi jadi sebuah pertanyaan tentang bagaimana dengan "Pemahamannya mengenai cara mengajar yang efektif serta bagaimana dengan kematangan Karakternya", karena seharusnya dalam proses pendidikan itu bukan sekedar mencekoki para pelajar dengan teori-teori semata, bukan menumpahkan semua isi buku memenuhi kepala para pelajar, tetapi ada bagian-bagian penting lainnya yaitu seperti adanya ilmu tersendiri tentang bagaimana cara mengajar yang baik, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui tanpa bisa semena-mena, serta yang paling penting harus ada pada sosok pendidik yaitu kematangan karakter, jangan sampai para pendidik malah menjadi contoh pelanggar dari apa yang disampaikannya (diajarkannya pada para pelajar) atau melakukan kegiatan yang kurang mencerminkan sosok pendidik, dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Melihat keadaan pendidikan ditanah air seperti ini, saya mengaharapkan adanya obat mujarab yang bisa mengobati, agar tidak lagi kejadian pendidik tidak mencerminkan sebagai pendidik, agar tidak ada lagi pendidik yang hanya memaksakan kehendak tanpa memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mencetak generasi yang baik, lahirnya kenyamanan dalam belajar-mengajar, serta yang lainnya menyangkut pendidikan. Karena perubahan kurikulum yang juga terkesan sentralistik ternyata belum mampu menjadi solusi, buram, hanya peraturan pemerintah semata tanpa perhatian jeli terhadap kebutuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar