Tantangan Sepele Membuahkan Kesan Manis
''Menikmati Kekurangan Nikmat''
Oleh : Yusuf Hidayat
Belumlah lama, bahkan pada saat tulisan ini dibuatpun keadaan belum kembali pulih, sekedar membaik dibanding keadaan yang sebelumnya. Ini merupakan pengalaman pertama selama hidup penulis, pengalaman yang cukup mengesankan serta melelahkan.
Bisa jadi, pembaca lebih berpengalaman mengenai kejadian seperti ini. Entah apa sebutan tepatnya (karena baru pertama kali merasakannya), sepertinya antara Sakit gigi atau Sakit gusi. Penyebab utamanya itu tumbuh gigi baru pada bagian ujung dalam, hingga menyebabkan gigi sebelahnya terganggu, terangkat atau mungkin tergeser. Rasanya seperti gigi mau copot, dan pembengkakan gusi sampai memar.
Penulis seringkali mendengar, orang yang mengalami sakit gigi atau gusi biasanya sensitif dan cenderung melampiaskan amarah. Paling anti sama bising atau keributan, katanya memberi pengaruh pada penderita semakin merasakan sakit serta memancing nafsu amarah. Ah ternyata tidak juga..!!!
Ini pengalaman penulis...
Penulis paling suka membuat tantangan untuk diri sendiri, sejauh mana kesanggupan mengahadapi tantangan yang dibuat.
Seperti saat kejadian ini, pada saat pertama kali terasa amat sakit, sudah yakin bahwa ini tidak akan sembuh dalam waktu sebentar, bisa berhari-hari. Maka sejak saat itu bertekad ''Saya akan belajar menikmati keadaan yang tidak nikmat ini, saya pasti bisa menahan hawa nafsu, saya pasti mampu melewati serta saya yakin pasti banyak pelajaran yang tersirat dalam kejadian ini''.
Teramat ngilu dan sakit yang sulit terungkap dengan kata-kata, bahkan mengunyah nasi yang lembekpun tak bisa. Setiap kali gigi beradu, sontak air mata berlinang dan menetes menandakan sakit yang tak terkira.
Tetes air mata yang membawa pada kesedihan (kurangnya nikmat) yang lantas menyadarkan diri ini, selama ini amat terlena hingga lupa bersyukur, padahal teramat nikmatnya mengunyah makanan (sadar ketika tak mampu untuk mengunyah makanan).
Bubur menjadi pengganjal perut, itupun harus begitu lembek sehingga bisa langsung ditelan. Semua proses pembuatan bubur dikerjakan sendiri, tanpa merepotkan orang lain, tanpa memanjakan diri dengan mengedepankan alasan sakit, selama mampu bergerak mengapa tidak untuk bertindak. Toh ini juga merupakan bagian dari rasa syukur atas sempurnanya diri ini sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Orang tua terutama Ibu sering mengingatkan, apabila kamu sakit maka semakin rajinlah kamu beribadah dan mengingat-Nya, bukan beralasan yang menjadikan kamu malas. Karena bisa jadi sakit ini merupakan aba-aba, kesempatan singkat yang diberikan Tuhan untuk mu bertaubat sebelum kamu diambil-Nya. Terngiang pepatah ini mengakar dalam diri, manakala ada terasa sakit, pepatah itulah yang mengingatkanku untuk senantiasa bersyukur, mengingat serta memohon ampunan pada-Nya.
Sakit bukanlah musibah, sakit merupakan bentuk kasih sayang-Nya. Apabila masih mampu bertahan, belajarlah untuk tidak memohon kesembuhan, belajarlah menikmati rasa sakit itu sehinga paham, resapi sedetail mungkin, maka pasti menemukan satu titik dimana kita tersadarkan untuk senantiasa bersyukur. Sakitpun menjadi nikmat.
Sebuah kepastian, manakala tantangan sukses dilewati dengan jalan terbaik (Sabar, Syukur, serta bertahan melawan hawa nafsu). Maka yakin, kebahagiaan dan kebanggaan yang tidak akan sebanding dengan apapun menjadi hadiah yang paling istimewa.
Belajarlah senantiasa berada pada jalan yang terbaik, menuju kebahagiaan yang hakiki, menuju kebenaran yang seutuhnya yang Diridhoi-Nya...!!!7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar