Wikipedia Telusuri..

Hasil penelusuran

Kamis, 19 November 2015

Mesra dalam KEDINGINAN

Suasana gelap mencekam, malam tanpa bintang-bintang, hening disekitar menambah khasnya perkampungan. Ditengah suasana kian berkumpul daku bersama kawan disaat yang lain terlelap bersembunyi dibalik selimut-selimut tebal dari terpaan angin dingin.

Dirumah-rumah sekitar sudah tak lagi terdengar satupun gertakan suara. Mereka lelah, mereka lelap beristirahat untuk esok pergi keladang-ladang tempat mereka mencari nafkah.

Bersama kawan-kawan, aku masih berkumpul, berpikir dan berjuang, kami ingin mereka senang, kami ingin mereka bahagia, kami ingin mereka sejahtera. Kami bukan berandal yang bergadang berhura-hura, kami ingin mengabdikan diri demi negri ini, negri yang indah namun tak semua melihat keindahannya, negri yang nyaman namun tak semua orang merasa nyaman. Itulah serpihan kecil dari tekad yang begitu menggunung dalam benak kami.

Kami ingin menetes mata-mata mereka dengan obat yang bisa membuat mereka melek, menyembuhkan yang buta, memperjelas yang katarak dan membersihkan mata mereka yang kelilipan dengan kotoran debu asing. Kami ingin kita bangsa indonesia bahagia bersama, senang gembira bersama, nyaman aman bersama-sama. Kami ingin kita sama-sama menikmati surga indonesia.

Inilah makna indah dari kemesraan kita yang akan membuat kita bahagia, TANPA sentuhan tangan-tangan kasar asing yang menularkan virus-virus yang membuat kita alergi.

Kita adalah kita, kita bangsa indonesia, bangsa yang katanya makmur sejahtera yang nyatanya belum semua merasakannya, kata indah yang hanya sekedar wacana mereka. Mereka, ya mereka para raksasa rakus yang hanya memikirkan kesejahtraan dirinya.
Para elit politik yang hanya mementingkan untaian gerbongnya.

Bukan hal mudah menyadarkan bangsa yang telah dicuci otaknya, diisinya dengan budaya-budaya berkedok indah yang diadopsinya dari cekokan asing yang ingin menjamah kekayaan negri ini. Tempat lahir kita, tempat tinggal kita, tempat kita bernaung dan bercanda mesra versi kita, yang dirasa sempurna padahal jauh dari sempurna.

Andai aku seorang pemimpin yang dipatuhi sama kalian semua, maka aku akan berkata ''ayo kawan-kawanku (Bukan ayo masyarakat bawahanku) kita sama-sama berjuang, bangkit dari keterpurukan dan bersama melompat pada jurang kebahagiaan''. Aku mengatakan jurang, karna bukankah kita lebih bahagia hidup dijurang, maka aku akan mengajak kalian bersama melompat dan aku sendiri yang akan mendahului melompat, agar kalian percaya, bahwa kita akan menenggelamkan diri bersama-sama pada lautan didasar jurang, hingga kita tersadar dengan pengapnya udara, dinginnya keadaan, lapar juga kehausan.
Aku yakin, setelah kita sadar bersama, maka akan berjuang bersama, bangkit bersama, berbondong, bergotong-royong untuk memanjat kembali pada kebahagiaan yang sesungguhnya, menyingkirkan raksasa-raksasa rakus dan robot-robot asing. Kita tempati wilayah kita, kita nikmati hak kita, dan kita akan Mesra Bersama.


Salam manis,
TTD


YUSUF HIDAYAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar